Pertamina Melewati Selat Hormuz, Benarkah Karena Jusuf Kalla?

Keberadaan Dua Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz

Beberapa waktu terakhir, keberadaan dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di mulut Selat Hormuz menjadi perhatian masyarakat. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa kedua kapal tersebut membawa muatan minyak yang sangat penting bagi kebutuhan dalam negeri.

Sejumlah kapal kini terjebak di sekitar Selat Hormuz karena aksesnya dibatasi oleh otoritas Iran. Pemerintah Iran hanya memberikan izin bagi kapal-kapal dari negara-negara sahabat untuk melintasi selat tersebut dengan aman. Seiring dengan situasi ini, beredarnya narasi di media sosial menyebutkan bahwa dua kapal tanker Pertamina telah diberikan lampu hijau oleh Iran untuk meninggalkan Selat Hormuz dan berlayar menuju Indonesia.

Salah satu unggahan yang menyebar di media sosial berasal dari akun Ummah Syiva di Facebook. Judul unggahan tersebut menyatakan bahwa pemerintah Iran memberikan izin kepada dua kapal tanker Indonesia melintas, berkat intervensi Jusuf Kalla (JK). Unggahan itu juga dilengkapi foto JK saat berkunjung ke Kedutaan Iran di Jakarta serta dua kapal tanker. Namun, apakah benar dua kapal tersebut sudah berhasil melewati Selat Hormuz?

Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz



IDN Times memantau pergerakan dua kapal tanker Pertamina, yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, melalui situs Vessel Finder. Hingga hari Selasa (31/3/2026), kedua kapal tersebut masih terpantau belum meninggalkan Selat Hormuz.

Kapal Gamsunoro masih berada di perairan Teluk Persia dan akan berlayar menuju Dubai. Dengan kecepatan 12 knot, kapal tersebut diperkirakan tiba pada Selasa pagi pukul 05.00 waktu setempat. Sebelumnya, Gamsunoro sempat berlabuh di Terminal Minyak Al Başrah, Irak. Kapal berbendera Panama ini dirakit pada tahun 2014.

Sementara itu, kapal Pertamina Pride juga berada di perairan Teluk Persia. Kapal berbendera Singapura ini disebut sedang menuju ke Indonesia dan diprediksi tiba pada Kamis (2/4/2026). Namun, tenggat waktu tersebut tidak akan terpenuhi karena perjalanan dari Timur Tengah ke Indonesia membutuhkan waktu paling lambat 14 hari. Pertamina Pride diketahui terakhir berlabuh di Pelabuhan Ras Aramco yang merupakan bagian dari kilang minyak Aramco, Arab Saudi.

Kapal PIS Paragon dan PIS Rinjani Tidak Melewati Selat Hormuz



Sementara itu, nasib dua kapal tanker lainnya yang mengangkut minyak untuk PT Pertamina dan disebut telah berhasil melewati Selat Hormuz, yakni PIS Paragon dan PIS Rinjani, ternyata berbeda. Dalam pernyataannya, Pertamina International Shipping menepis bahwa kedua kapal tersebut melewati rute Selat Hormuz.

“10 Maret 2026, PIS Paragon dan PIS Rinjani yang juga melayani pihak ketiga telah lebih dulu keluar dari area Timur Tengah tepatnya Teluk Oman, tanpa melalui Selat Hormuz,” demikian isi keterangan Pertamina Shipping International (PIS), Kamis (12/3/2026).

Kedua kapal tersebut fokus untuk melayani kebutuhan pihak ketiga di pasar internasional. Berdasarkan situs Vessel Finder, PIS Paragon terlacak sudah tiba di Afrika Selatan. Kapal ini diprediksi tiba di Pelabuhan Cape Town, Afsel hari ini pukul 23.00 waktu setempat. PIS Paragon dibangun pada tahun 2009 dan berlayar menggunakan bendera Singapura. Pelabuhan terakhir yang didatangi PIS Paragon adalah Mombasa, Kenya.

Sedangkan, kapal PIS Rinjani terlacak sedang berlayar menuju ke Singapura. Posisinya saat ini masih berada di Perairan India. Kapal PIS Rinjani diprediksi akan tiba di Negeri Singa pada Rabu (1/4/2026). Kapal tanker itu dibangun pada 2019 dan saat ini berlayar menggunakan bendera Liberia.

Narasi tentang Dua Kapal Pertamina yang Sudah Tinggalkan Selat Hormuz Keliru



Dengan demikian, narasi yang beredar di media sosial bahwa dua kapal Pertamina telah meninggalkan Selat Hormuz adalah sesuatu yang keliru. Hingga memasuki akhir Maret, dua kapal tersebut tercatat masih berada di Perairan Teluk Persia.

Di sisi lain, dalam pernyataannya kepada media pada 15 Maret 2026 lalu, Jusuf Kalla menegaskan bahwa agar dua kapal tersebut bisa meninggalkan Selat Hormuz dengan aman, diperlukan sikap yang lebih aktif dari Pemerintah Indonesia. Meskipun dia tak menampik bisa berkonsultasi dengan Pemerintah Iran.

“Walaupun tentunya saya bisa berkonsultasi, bicara dengan pihak Iran. Tapi ada batasnya juga. Harus pemerintah lebih aktif (melobi ke Iran),” ujar dia menyarankan di area Brawijaya, Jakarta Selatan.

“Harus juga pemerintah memberikan keprihatinan dan juga dukungan, kemanusiaan di Iran dan saya kira pemerintah Iran akan menerima apabila kita berada di situ,” ucap dia.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *