Reaksi Keras Iran terhadap Ancaman Pembunuhan Terhadap Negosiator
Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengkritik keras adanya wacana atau rencana pembunuhan terhadap para tokoh Iran yang sedang berunding dengan Amerika Serikat (AS) di Pakistan. Pernyataan ini muncul setelah negosiasi antara Iran dan AS yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad tidak berhasil mencapai kesepakatan.
Baqaei menyoroti pernyataan dari elemen-elemen dalam lingkungan politik dan media AS yang secara terbuka merekomendasikan penargetan para negosiator Iran jika pembicaraan diplomatik gagal. Ia menantang apakah hal tersebut bukanlah wacana kebijakan yang menormalisasi pemerasan melalui ancaman atau hasutan publik terhadap teror, kekerasan, dan pembunuhan.
“Hasutan publik yang terang-terangan terhadap terorisme negara ini harus dikecam oleh semua pihak,” tambahnya.
Tim Negosiator Iran yang Menghadiri Perundingan
Iran mengirim empat delegasi utama untuk menghadiri negosiasi dengan AS. Mereka adalah:
- Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi
- Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf
- Eks Kepala Keamanan Iran Ali Akbar Ahmadian
- Eks Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati
Pesawat yang membawa delegasi Iran diberi nama “Minab 168” sebagai bentuk penghormatan kepada 168 siswi yang tewas dalam serangan rudal AS terhadap sekolah dasar Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Iran pada tanggal 28 Februari. Nama ini bukanlah kebetulan simbolis, tetapi merupakan pesan yang ditulis dalam kesedihan.
Di dalam pesawat, anggota delegasi membawa foto-foto para korban, bersama dengan tas sekolah yang berlumuran darah dan barang-barang pribadi yang ditemukan dari bawah reruntuhan ruang kelas yang hancur. Ketua Parlemen Mohammad-Bagher Ghalibaf memposting gambar yang mengharukan dari dalam pesawat di X, dengan hanya menulis: “Teman-teman saya di penerbangan ini.”
Pesan Kekerasan yang Diangkat dalam Diplomasi
Pemboman sekolah dasar di Minab Iran membuat gedung hancur, buku catatan siswa yang robek, dan sepatu-sepatu kecil yang berserakan bercampur debu. Bagi warga Iran, 28 Februari bukan hanya tanggal dimulainya perang—tetapi juga hari di mana kepolosan terkubur.
Otoritas Iran dengan tegas menyatakan pasukan AS bertanggung jawab atas serangan itu, menggambarkannya sebagai tindakan agresi terang-terangan terhadap warga sipil dan pelanggaran hukum internasional. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengkonfirmasi bahwa penyelidikan sedang berlangsung. Namun belum ada temuan yang dirilis, belum ada pengakuan yang dibuat, dan belum ada pertanggungjawaban publik yang menyusul.
Dengan menamai pesawat itu “Minab-168,” Teheran memberi sinyal bahwa mereka tidak akan memisahkan diplomasi dari ingatan, maupun negosiasi dari keadilan.
Persoalan Negoisasi Iran vs Amerika
Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan perdamaian setelah pembicaraan tingkat tinggi di ibu kota Pakistan. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Teheran menolak untuk menerima persyaratan Washington setelah 21 jam pembicaraan di Islamabad.
“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” kata Vance, kepala delegasi AS, kepada wartawan sesaat sebelum ia meninggalkan Islamabad setelah pertemuan tingkat tertinggi antara Washington dan Teheran sejak revolusi Islam 1979.
Vance mengatakan Iran memilih “untuk tidak menerima persyaratan kami”, menambahkan bahwa AS perlu melihat “komitmen mendasar” dari Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Tantangan dalam Menjaga Gencatan Senjata
Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pada hari Minggu bahwa tidak ada yang memperkirakan pembicaraan dengan AS akan mencapai kesepakatan dalam satu sesi. Juru bicara kementerian Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa Teheran “yakin bahwa kontak antara kami dan Pakistan, serta teman-teman kami lainnya di kawasan ini, akan terus berlanjut”.
Sementara itu, Pakistan menyerukan kepada AS dan Iran untuk menjunjung tinggi komitmen mereka terhadap gencatan senjata dan melanjutkan upaya untuk mencapai perdamaian yang langgeng.
“Atas nama Pakistan, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua pihak atas apresiasi terhadap upaya Pakistan dalam mencapai gencatan senjata dan perannya sebagai mediator. Kami berharap kedua pihak terus melanjutkan semangat positif untuk mencapai perdamaian dan kemakmuran yang langgeng bagi seluruh kawasan dan sekitarnya,” kata Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar.












