Gugatan Cerai Wardatina Mawa: Tuntutan Nafkah dan Kehidupan yang Berubah
Wardatina Mawa, seorang konten kreator, resmi mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya, Insanul Fahmi. Gugatan ini dilayangkan setelah terjadi polemik terkait poligami yang dijalani oleh Insanul dengan selebgram Inara Rusli. Dalam gugatannya, Mawa menuntut beberapa bentuk nafkah yang harus dipenuhi oleh mantan suaminya.
Gugatan tersebut diajukan ke Pengadilan Agama Lubuk Pakam, Medan, pada 27 Februari 2026. Sidang perdana yang beragendakan mediasi telah digelar pada 11 Maret 2026. Dalam gugatannya, Mawa menuntut nafkah iddah, nafkah mut’ah, dan juga nafkah anak.
Nafkah iddah merupakan kewajiban finansial suami untuk memberikan uang, makanan, pakaian, dan tempat tinggal kepada mantan istri selama masa tunggu (iddah) setelah perceraian. Sementara itu, nafkah mut’ah adalah pemberian berupa uang atau barang dari mantan suami kepada mantan istri saat perceraian, bertujuan sebagai penghibur dan kompensasi.
Menurut informasi yang disampaikan oleh Humas PA Lubuk Pakam, Nur Al Jamat, nominal nafkah yang dituntut oleh Mawa mencakup emas logam mulia seberat 45 gram untuk nafkah mut’ah. Untuk nafkah iddah, ia meminta sebesar Rp100 juta, sedangkan nafkah anaknya sebesar Rp30 juta per bulan.
Sidang lanjutan gugatan perceraian ini akan dilakukan kembali awal April 2026, setelah libur Lebaran. “Itu nanti awal-awal April, 1 April,” ujar Nur.
Dalam gugatannya, Mawa tidak menggugat harta gono-gini. “Karena harta gono-gini bisa diajukan pasca-perceraian,” jelas Nur.
Absen dalam Sidang Perdana
Mawa memilih untuk tidak hadir dalam sidang perdana perceraian dengan Insanul Fahmi. Ia lebih memilih fokus pada pekerjaan dan mewakilkan kehadirannya kepada tim kuasa hukum. Dalam unggahan di Instagram pribadinya, Mawa terlihat bekerja ditemani oleh anak semata wayangnya hasil pernikahan dengan Insanul Fahmi.
“Anak sholeh yang selalu temenin Uma (Ibu) kerja, makasih nak,” tulis Mawa dalam unggahannya. Lewat Instagram Story-nya, ia juga mengabarkan bahwa dirinya tidak dapat hadir dalam agenda sidang perdana perceraian dengan Insanul Fahmi.
“Assalamualaikum, terima kasih untuk kuasa hukum JK dan Asosiates yang telah mewakilkan MAWA untuk persidangan pertama di Pengadilan Agama Lubuk Pakam Medan. Terima kasih,” ujar Mawa.
Ikhlas Melepas Insanul Fahmi
Wardatina Mawa menyatakan bahwa dirinya sudah siap melepas Insanul Fahmi dan menolak untuk mempertahankan rumah tangga. Bahkan, ia mengaku sudah ikhlas jika Insanul bersatu dengan Inara Rusli nantinya.
“Kalau memang mereka mau bersatu, aku ikhlas. Yaudah bersama aja. Aku juga nggak mau kan,” jelas Mawa. Ia kini ingin lebih berfokus pada diri sendiri dan masa depan anak semata wayangnya. Ia tak ingin ambil pusing dan menginginkan hidup bahagia tanpa memikirkan kisruh rumah tangganya lagi.
“Aku juga mau fokus sama diri aku sendiri dan masa depan anak aku juga. Aku berhak bahagia, anakku juga berhak melihat sosok ibunya happy,” sambungnya.
Meski jalan hidupnya penuh lika-liku, Mawa tetap mencoba menerima takdir hidupnya. “Nasi sudah menjadi bubur ya, itu sudah terjadi, ya udah nggak bisa aku pertahankan juga,” pungkasnya.
Insanul Pilih Ikhlaskan
Di sisi lain, Insanul Fahmi memilih ikhlas dengan gugatan cerai yang diajukan oleh istri sahnya. “Ya kita lihat aja nanti karena kan manusia itu kan hatinya bisa dibolak-balikkan kan. Hari ini pikiran dan perasaan belum tentu sama dengan besok, gitu,” beber Insan.
Ia sendiri memilih untuk menjalani kehidupannya kini. “Ya kita coba jalanin aja yang penting aku bakal tetep ikhtiar, kembali lagi balik ke Mawa seperti apa. Ke istri sah seperti apa. Tapi kalau dari akunya, aku tetep ikhtiar sih,” selorohnya.
Insanul membantah kaget dengan niat istri sahnya menggugat cerai. Menurutnya, usahanya selama ini sudah maksimal. “Jujur ya, aku coba berusaha dan ikhtiar semaksimal mungkin. Tapi balik lagi semuanya itu kan sudah ditentukan ya, takdir.”
“Dan aku mencoba lebih banyak ikhlas biar enggak stres sendiri juga sih,” katanya.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












