Ibu Siswa SD di NTT Meninggal, Pernah Berjuang Cairkan PIP untuk Beli Buku tapi Ditolak Bank

Kehidupan Siswa SD yang Berjuang untuk Sekolah

Di sebuah gubuk bambu di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kehidupan YBR (10) sehari-hari penuh dengan kesulitan. Sebagai anak bungsu dari keluarga yang tinggal di gubuk sederhana, ia tidak hanya menjalani kehidupan sebagai siswa SD, tetapi juga menjadi tulang punggung kecil bagi neneknya, Welumina. Setiap hari, setelah pulang sekolah, YBR memikul beban kayu bakar, sayur-mayur, atau ubi untuk dijual demi membantu neneknya menyambung hidup.

Di mata sang nenek, YBR adalah sosok yang tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha membantu semampunya. Namun, di balik diamnya, YBR menyimpan beban besar saat memasuki semester baru. Ia tidak memiliki buku tulis dan pena, alat tulis sederhana yang sangat dibutuhkannya untuk belajar. Keinginan sederhananya untuk memiliki alat tulis tak kunjung terwujud karena kondisi ekonomi keluarga yang sedang di titik nadir. Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan sekolah dasar inilah yang diduga menjadi pemicu keputusasaan mendalam hingga ia memilih jalan pintas.

Bantuan Pendidikan yang Terganjal Aturan

Tragedi ini menjadi semakin memilukan saat terungkap bahwa bantuan pemerintah sebenarnya sudah ada di depan mata. Maria Ngene, Kepala UPTD SD Negeri Rutojawa, mengungkapkan bahwa dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) sebesar Rp450 ribu sebenarnya sudah cair dan masuk ke rekening tabungan YBR. Sejak kelas 1 hingga kelas 3 SD, YBR memang tidak pernah tersentuh bantuan apa pun, termasuk PIP, karena ketiadaan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Baru pada tahun ini, harapan muncul saat pihak sekolah menyarankan YBR masuk ke Kartu Keluarga (KK) neneknya karena sang ibu masih terdaftar di Kabupaten Nagekeo. Setelah administrasi beres, YBR akhirnya terdaftar sebagai penerima PIP. Dana sebesar Rp450 ribu sebenarnya sudah masuk ke dalam rekening atas nama YBR. Namun, saat hendak dicairkan untuk membeli buku dan pena yang sangat dibutuhkannya, tembok birokrasi kembali menghadang.

Pihak bank menolak mencairkan dana tersebut karena perbedaan domisili KTP ibunya. Sang ibu tercatat sebagai warga Kabupaten Nagekeo, sementara YBR dan neneknya tinggal di Ngada. Alasan administratif inilah yang membuat uang bantuan tersebut tetap membeku di bank.

Sekolah Tak Tahu YBR Kehabisan Buku

Meski hidup sangat sulit, keluarga YBR dikenal tetap bertanggung jawab terhadap urusan sekolah. Maria menyebutkan bahwa pembayaran uang komite tetap berjalan meski sering terlambat. “Pembayaran uang sekolah tetap berjalan, walaupun kadang terlambat. Entah ibunya atau neneknya yang membayar, kami tetap menerima,” jelasnya.

Namun, pihak sekolah mengaku tidak mengetahui bahwa YBR sedang mengalami kesulitan ekonomi, bahkan untuk membeli selembar buku. Menurut Maria, pemantauan kebutuhan pribadi biasanya ada di tangan wali kelas. “Saya belum menerima informasi soal kekurangan perlengkapan belajar. Biasanya wali kelas yang lebih mengetahui. Apalagi ini awal semester, mungkin kebutuhannya belum sempat dipenuhi,” ujar Maria.

Ia juga menambahkan bahwa selama di sekolah, YBR tidak pernah mengeluh. “Tidak ada laporan atau keluhan. Kami memang tidak bisa memantau kondisi pribadi semua siswa secara detail,” ucapnya.

Kesimpulan

Kisah YBR mengingatkan kita akan pentingnya akses pendidikan yang merata dan perlindungan bagi anak-anak dari kondisi ekonomi yang tidak stabil. Dengan adanya bantuan yang sudah tersedia, tetapi tidak dapat dicairkan karena aturan birokrasi, hal ini menunjukkan adanya celah yang perlu segera ditutup agar tidak ada lagi kasus seperti ini terjadi. Dalam situasi seperti ini, peran lembaga pendidikan dan pemerintah menjadi sangat krusial untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan.


Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *