Tantangan Rektor Baru Universitas Palangka Raya
Rektor baru Universitas Palangka Raya (UPR) yang akan terpilih nanti dihadapkan pada berbagai tantangan, salah satunya adalah mengembangkan jejaring kampus di tingkat internasional. Dosen Senior UPR, Sidiq Usop, menilai bahwa sosok pemimpin kampus tidak cukup hanya kuat secara administratif, tetapi juga harus memiliki kemampuan manajerial dan jejaring luas untuk membawa kemajuan lembaga.
Selain itu, rektor ke depan tidak bisa hanya bergantung pada dana dari pemerintah pusat. Mereka juga harus mampu mencari sumber pendanaan alternatif, termasuk dari kerja sama luar negeri dan sektor non-pemerintah. “Kalau kita hanya mengharapkan dana dari pusat saja, itu tidak cukup. Rektor harus punya kemampuan menarik dana sosial, dana dari luar, bahkan dari luar negeri,” ujarnya.
Peran rektor tidak lagi sebatas mengelola urusan internal kampus. Struktur internal seperti wakil rektor sudah menangani bidang akademik, keuangan, hingga kemahasiswaan. Peran strategis rektor justru ada pada agenda eksternal seperti membangun jaringan dengan instansi, dunia usaha, dan pihak luar lainnya. “Rektor itu bukan duduk di meja saja. Urusan dalam sudah ada wakil rektor. Justru rektor harus lebih banyak keluar,” tegasnya.
Sidiq menyebut, kemampuan komunikasi dan jejaring menjadi indikator penting dalam menilai calon rektor. Hal itu dapat dilihat dari sejauh mana mereka mampu mendorong dosen dan mahasiswa terlibat dalam kegiatan penelitian, pengabdian masyarakat, serta kontribusi nyata bagi pembangunan di Kalteng.
Lebih lanjut, Sidiq menambahkan, pendidikan tinggi tidak boleh lagi hanya berfokus pada teori, melainkan harus menekankan keterampilan dan praktik. “Kita tidak lagi mendidik orang hanya untuk tahu, tapi bagaimana pengetahuan itu bisa digunakan untuk membangun masyarakat,” jelasnya.
Terlebih, menghadapi bonus demografi 2045, Sidiq mengingatkan generasi muda harus dibekali keahlian agar mampu menciptakan lapangan kerja maupun terserap di dunia kerja. “Kalau tidak punya keterampilan, mereka akan jadi beban, bukan kontribusi bagi ekonomi,” ujarnya.
Karena itu, Sidiq mendorong penguatan pendidikan vokasi, seperti program diploma, untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil. Selain itu, kampus juga perlu aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dan sektor industri, termasuk dalam pengembangan potensi daerah seperti agribisnis dan perikanan.
Sidiq menekankan, kampus perlu menjadi pusat lahirnya ide-ide kreatif dan inovatif melalui forum diskusi serta interaksi aktif antara dosen dan mahasiswa. “Kampus itu tempat mengembangkan ide-ide baru. Dialog, diskusi, itu penting untuk membangun pola pikir yang berkembang,” tegasnya.
Dirinya juga mengingatkan agar politik kampus dalam proses pemilihan rektor diminimalkan, dan lebih mengedepankan visi serta kapasitas calon pemimpin. “Kita butuh rektor yang punya visi jauh ke depan, berpikir lokal, nasional, sampai global. Nah itulah yang kita harapkan,” pungkasnya.
Kunci Sukses Rektor Baru
Untuk mencapai tujuan tersebut, beberapa aspek penting perlu diperhatikan oleh rektor baru UPR. Berikut ini beberapa kunci sukses yang perlu diperhatikan:
- Kemampuan Manajerial: Rektor harus mampu mengelola sumber daya dengan efektif dan efisien, baik dalam hal keuangan maupun sumber daya manusia.
- Jejaring Luas: Memiliki hubungan yang kuat dengan institusi nasional maupun internasional akan membantu dalam memperluas peluang kerja sama dan pendanaan.
- Inovasi dan Kreativitas: Kampus harus menjadi tempat lahirnya ide-ide baru, yang dapat berkontribusi pada pembangunan daerah dan nasional.
- Pendekatan Praktis dalam Pendidikan: Fokus pada keterampilan dan praktik akan meningkatkan kualitas lulusan yang siap bekerja.
- Kolaborasi dengan Dunia Usaha: Menjalin kerja sama dengan sektor swasta dan pemerintah daerah akan membuka peluang baru dalam pengembangan kampus dan program studi.
Dengan memperkuat aspek-aspek di atas, rektor baru UPR dapat membawa kampus menuju masa depan yang lebih cerah dan berkontribusi signifikan bagi masyarakat Kalteng.












