Pengering bantu petani Pringsewu jaga kualitas gabah cuaca tak menentu

Peran Alat Dryer dalam Meningkatkan Kualitas Gabah di Pringsewu

Keberadaan alat pengering gabah atau dryer telah memberikan dampak signifikan bagi petani di Kabupaten Pringsewu. Selain membantu mengatasi tantangan pengeringan saat musim hujan, alat ini juga meningkatkan kualitas gabah dan harga jualnya. Hal ini dirasakan langsung oleh Kelompok Tani Mekarsari di Pekon Mataram, Kecamatan Gadingrejo.

Bantuan dari Pemerintah Daerah

Ketua Kelompok Tani Mekarsari, M. Irfan yang akrab disapa Amat menjelaskan bahwa alat dryer sangat bermanfaat terutama saat musim hujan. “Kalau musim hujan, petani biasanya bingung mau jemur gabah. Kadang belum kering sudah lembap atau berjamur,” ujarnya. Sebelum adanya dryer, petani hanya mengandalkan panas matahari untuk proses pengeringan. Namun, kondisi cuaca yang sering berubah membuat hasil pengeringan tidak maksimal.

Alat dryer tersebut diterima kelompok tani pada Maret 2025 dari Gubernur Lampung Rahmad Mirzani Djausal. Sejak saat itu, pemanfaatannya cukup intensif, terutama saat musim panen dan kondisi cuaca kurang mendukung. Penggunaan dryer memang memberi perbedaan cukup signifikan terhadap kualitas gabah. Pengeringan menggunakan mesin dinilai jauh lebih maksimal dibandingkan metode tradisional.

Keuntungan Penggunaan Dryer

Kualitas gabah yang lebih baik juga berpengaruh pada nilai jual. Amat menyebut harga gabah yang dikeringkan menggunakan dryer biasanya lebih tinggi dibandingkan yang dikeringkan secara konvensional. “Kalau digiling, berasnya lebih putih dan utuh. Jadi harganya bisa lebih tinggi dibanding yang dikeringkan pakai matahari,” ungkapnya.

Dalam operasionalnya, penggunaan dryer di Poktan Mekarsari dilakukan secara terorganisir. Kelompok menyediakan tenaga khusus yang menangani proses pengeringan, mulai dari bongkar muat hingga pengoperasian mesin. “Kalau petani tidak punya transportasi, kami bantu ambil. Nanti ada tambahan biaya untuk angkut dan operasional. Kami juga punya tenaga khusus untuk menjalankan dryer,” jelas Amat.

Proses Pengoperasian Dryer

Penggunaan dryer bisa dilakukan beberapa kali dalam sepekan, tergantung permintaan petani. Bahkan pada musim tertentu, alat tersebut bisa digunakan hingga tiga kali dalam seminggu. Dari sisi teknis, dryer yang digunakan memanfaatkan panas dari pembakaran kayu atau sekam, dengan mesin berbahan bakar solar. Dalam satu kali proses pengeringan, biasanya dibutuhkan sekitar empat ikat kayu sebagai bahan bakar.

“Panasnya stabil, itu yang membuat pengeringan bisa maksimal,” katanya. Untuk menjaga kinerja alat, kelompok tani juga melakukan perawatan secara rutin. Pengawasan dilakukan setiap kali proses pengeringan berlangsung, termasuk memantau suhu dan kondisi mesin. “Kami kontrol terus, mulai dari suara mesin sampai suhu panasnya. Kalau ada perubahan langsung dicek,” ujarnya.

Tantangan dan Harapan Petani

Selain itu, faktor lingkungan juga menjadi perhatian, terutama saat musim hujan. Lokasi dryer yang belum sepenuhnya tertutup membuat kelompok harus melakukan perlindungan tambahan. “Kalau hujan, kami tutup pakai plastik supaya air tidak masuk,” tambahnya.

Meski sudah banyak membantu, Amat mengakui fasilitas pendukung yang dimiliki kelompok tani masih terbatas. Saat ini, mereka hanya memiliki bed dryer tanpa alat tambahan seperti kipas, alat pembalik gabah, maupun pembersih. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah dapat terus menambah bantuan alat pertanian, khususnya dryer, di berbagai wilayah sentra produksi padi.

Harapan untuk Masa Depan Pertanian

Amat berharap bantuan seperti ini tidak hanya di sini, tapi juga di daerah lain di Kabupaten Pringsewu. “Karena sangat membantu meningkatkan kualitas padi,” tegasnya. Ia menilai, dengan dukungan sarana yang memadai, produktivitas dan kualitas hasil pertanian di Kabupaten Pringsewu bisa terus meningkat. “Kalau alatnya lengkap, petani bisa lebih maksimal, dan hasilnya juga lebih baik,” tandasnya.


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *