Upaya LPKA Kelas II Muara Bulian dalam Membina Anak-Anak yang Berhadapan dengan Hukum
Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Muara Bulian, yang sering disebut sebagai Lapas Anak Muara Bulian, berada di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi. Instansi ini terus berupaya menghapus stigma bahwa penjara adalah tempat menyeramkan bagi anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Tujuan utama dari LPKA ini adalah untuk membina dan memberikan bekal hidup kepada anak-anak agar mereka tidak kembali menjadi residivis.
Kepala LPKA Kelas II Muara Bulian, J Kasogi Suryafatah, menjelaskan bahwa instansinya kini fokus penuh pada pembinaan mental dan keterampilan bagi 65 anak binaan yang rata-rata berusia 14 hingga 18 tahun. Ia memiliki pengalaman panjang bertugas dari Nusakambangan hingga Samarinda. Menurutnya, anak-anak memiliki kondisi emosional yang masih labil, sehingga pendekatan yang dilakukan harus bersifat persuasif, edukatif, dan kekeluargaan. Tujuannya bukan sekadar menghukum, melainkan menggali potensi dan minat bakat agar mereka memiliki bekal hidup dan tidak kembali menjadi residivis.
Program Unggulan LPKA Muara Bulian
Untuk menunjang masa depan anak binaan, LPKA Muara Bulian menggulirkan berbagai program unggulan, mulai dari pendidikan formal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) hingga pelatihan keterampilan (hard skill). Anak-anak dibekali kemampuan bertani di lahan ketahanan pangan, budidaya ikan lele, hingga pengelolaan jasa binatu (laundry) gratis. Bahkan, sektor kerohanian juga diperkuat dengan adanya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang telah berhasil mencetak pengajar mengaji dari kalangan anak binaan sendiri.
Salah satu kisah sukses yang diungkap Kasogi adalah transformasi seorang anak binaan yang awalnya buta huruf Alquran hingga kini mampu menjadi guru ngaji di masyarakat setelah bebas. Hal ini membuktikan bahwa masa depan anak-anak tersebut tidak berakhir di balik jeruji besi.
Dukungan Eksternal dan Peran Keluarga
Dukungan pihak luar, seperti yayasan pendidikan, komunitas, dan CSR perbankan, turut memperkuat ekosistem pembinaan yang berjalan di satu-satunya Lapas Anak di Provinsi Jambi ini. Kasogi pun menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai benteng utama dalam pengawasan anak, terlebih dengan berlakunya semangat Restorative Justice dalam KUHP dan KUHAP baru.
Kehidupan Harian di LPKA Kelas II Muara Bulian
Anak-anak di LPKA Kelas II Muara Bulian memiliki rutinitas harian yang terstruktur. Mereka bangun pagi, mandi, sarapan bersama, dan fokus pada program TPA. Setelah itu, mereka melanjutkan kegiatan PKBM, belajar, serta aktivitas olahraga. Di hari Rabu dan Jumat, mereka fokus pada keterampilan, sedangkan di hari Sabtu ada kegiatan rekreasional seperti nonton film atau olahraga.
Di sini, anak-anak juga diajarkan keterampilan seperti bertani, budidaya ikan lele, dan pengelolaan laundry. Selain itu, ada program Pramuka yang sudah menjadi gugus depan di LPKA. Di Desember kemarin, LPKA Muara Bulian mengadakan Perata, perkemahan akhir tahun yang dihadiri oleh delapan sekolah dari luar.
Keterampilan dan Pembinaan Mental
Selain pendidikan, anak-anak juga diberikan pembinaan keterampilan. Misalnya, mereka diajarkan bertani di lahan ketahanan pangan, budidaya ikan lele, dan pengelolaan laundry. Di samping itu, ada juga program barbershop yang direncanakan akan dijalankan dengan bantuan narapidana yang sudah bebas dan memiliki keahlian.
Pengaruh KUHP dan KUHAP Baru
Kasogi menyampaikan bahwa penerapan KUHP dan KUHAP baru memberikan dampak positif terhadap LPKA. Dengan adanya Restorative Justice, anak-anak sebisa mungkin dihindarkan dari putusan pengadilan dalam hal kurungan. Tujuannya adalah agar anak-anak bisa dibina di luar, yaitu di tengah keluarga.
Pesan untuk Masyarakat
Kasogi berharap masyarakat lebih waspada terhadap anak-anak mereka. Keluarga menjadi madrasah pertama dalam membina anak-anak. Ia berharap anak-anak tidak sampai berhadapan dengan hukum dan tidak sampai dibina di LPKA Kelas II ini.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












