Hukum  

UI Bentuk Tim Investigasi untuk Usut Ancaman Pembunuhan Ketua BEM

Respons Keras UI terhadap Ancaman Teror pada Calon Pemimpin Mahasiswa

Universitas Indonesia (UI) menunjukkan sikap tegas terhadap ancaman teror yang dialami oleh Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI 2026 terpilih serta pendukungnya. Tindakan ini dilakukan setelah adanya serangkaian ancaman yang mencakup pesan pembunuhan, peretasan akun, hingga pengiriman paket mencurigakan pasca-Pemira UI.

Langkah yang Diambil oleh UI

Sebagai bentuk respons, UI membentuk Tim Investigasi Gabungan untuk menyelidiki kejadian tersebut. Selain itu, kampus juga telah mendampingi korban dalam melapor ke Polres Metro Depok. Proses pelaporan ini dikawal langsung oleh unsur keamanan kampus, BINMAS Pol Khusus UI, serta BKO Pamtup Polri.

Erwin Panigoro, Direktur Humas, Media, Pemerintah dan Internasional UI, mengonfirmasi bahwa laporan resmi telah tercatat di kepolisian dengan Nomor LP/B/75/I/2026/SPKT/POLRES METRO DEPOK/POLDA METRO JAYA. Hal ini menunjukkan komitmen UI dalam memastikan keselamatan mahasiswa yang terkena ancaman.

Meningkatkan Status Keamanan

Menyusul meningkatnya ancaman, Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) UI memutuskan untuk menaikkan status penanganan keamanan per tanggal 17 Januari 2026. Keputusan ini diambil setelah Rapat Koordinasi Darurat yang dihadiri oleh berbagai pihak terkait, termasuk perwakilan mahasiswa.

Dalam pertemuan tersebut, UI menetapkan tiga langkah strategis, yaitu:

  • Pembentukan Tim Investigasi Gabungan yang melibatkan unsur internal UI dan aparat penegak hukum eksternal.
  • Memastikan pendampingan bagi mahasiswa yang merasa terancam tidak lagi terbatas pada kandidat, tetapi juga panitia dan pendukung yang menjadi target.
  • Membuka hotline pengaduan langsung ke nomor Hotline UI dan Kantor Keamanan UI untuk inventarisasi bukti hukum.

Kronologi Teror yang Dialami

Sebelumnya, Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2026 terpilih, Yatalathof Ma’shum Imawan-Fathimah Azzahra menerima teror pembunuhan. Ancaman ini dikirim melalui pesan WhatsApp oleh orang tidak dikenal kurang dari 24 jam pasca-Pemilihan Umum Raya Mahasiswa (Pemira), Rabu (14/1/2026). Padahal, Pemira UI yang memenangkan pasangan Yatalathof-Fathimah baru saja selesai digelar pada Selasa (13/1/2025) malam.

Bentuk Intimidasi dan Ancaman

Menurut Yatalathof, pelaku mengirimkan pesan berisi ancaman pembunuhan dan tuntutan agar ia mundur dari posisinya. Bahkan, pelaku sempat mencoba untuk meretas akun WhatsApp miliknya dan keluarga.

“Terus kemudian dari kakakku sendiri juga kena (retas), langsung mengirim ke berbagai grup gitu kan, kurang lebih isinya terkait ancaman dan foto-foto propaganda untuk mundur, ancam pembunuhan gitu-gitu,” kata Yatalathof, Minggu (18/1/2026).

Selain itu, teror pembunuhan juga mengitai Fathimah selaku Wakil Ketua BEM UI 2026 terpilih. Fathimah menerima kiriman paket yang tidak dipesan dengan sistem bayar di tempat (COD). Barang yang dikirimkan meliputi gunting taman, kursi roda, kain kafan, senjata tajam, hingga topeng horor dengan nilai tagihan mencapai Rp1,8 juta.

Tanggapan dari Korban

Menerima ancaman pembunuhan tersebut, Yatalathof dan Fathimah memutuskan melapor ke Unit Pelaksana Teknis Pengamanan Lingkungan Kampus (UPT PLK) UI. Pihak kampus memberikan perlindungan berupa pengawalan saat pulang dan koordinasi antar unit (Dekanat dan Kemahasiswaan).

“Jadi kalo dari kita tuh merasa justru bingung sebenernya ini kira-kira kenapa, ini kan merugikan kita ya sebenarnya,” kata Fathimah.

“Cuman dari kita sendiri juga enggak bisa menebak-nebak juga dari siapa gitu,” sambungnya.

Fathimah menilai, teror ancaman pembunuhan dalam dinamika Pemira UI baru pertama kali terjadi dan sangat meresahkan.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *