Program Makan Bergizi Gratis di MAN Sidoarjo
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari siswa di MAN Sidoarjo. Setiap siang, setelah salat zuhur di masjid sekolah, ratusan siswa menantikan momen yang kini menjadi istimewa: menyantap makan siang bergizi bersama. Program ini tidak hanya membantu meningkatkan kesehatan para siswa, tetapi juga memberi dampak positif pada semangat belajar mereka.
Program MBG memasuki tahun pertama pelaksanaannya dan telah mencapai angka yang luar biasa. Selama setahun berjalan, hampir 50 juta penerima manfaat dari berbagai kelompok usia telah merasakan manfaatnya. Di MAN Sidoarjo, program ini menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan pemerintah bisa hadir secara langsung dalam kehidupan siswa.
Proses Pelaksanaan MBG di MAN Sidoarjo
Pada hari Kamis (11/12/2025), suasana halaman MAN Sidoarjo tampak lebih ramai dari biasanya. Sejak pukul 10.00 WIB, proses pembagian MBG berlangsung tertib. Ratusan siswa dengan seragam olahraga dan batik bergiliran mengantre rapi di halaman sekolah. Sebuah mobil box dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terlihat menurunkan ratusan ompreng berisi makanan.

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MAN Sidoarjo, Lilik, menjelaskan awal mula program MBG dijalankan. Ia menyebut MBG mulai diterapkan sejak awal November 2025. Menu MBG dibedakan berdasarkan hari. “Setiap hari Senin sampai Jumat itu berupa nasi, kalau Sabtunya berupa makanan ringan,” katanya. Karena siswa MAN libur pada hari Sabtu, pembagian makanan ringan dilakukan lebih awal, yaitu di hari Jumat.
Dengan skema tersebut, siswa menerima dua jenis makanan pada hari tertentu. “Iya, jadi dobel, makanan nasi sama makanan ringan,” lanjut Lilik. Pembagian MBG difokuskan pada jam makan siang. Jadwalnya disesuaikan dengan waktu Salat Zuhur berjemaah di masjid sekolah.

“Kita difokuskan di makan siang, pembagiannya di istirahat kedua, setelah sholat,” tutur Lilik. Proses pengambilan makanan dilakukan sebelum salat dimulai. “Anak-anak ngambil dulu sebelum sholat, nanti setelah sholat turun dari masjid, langsung makan,” katanya. Pola ini membuat kegiatan ibadah dan makan siang berjalan tertib.
Pengelolaan dan Distribusi Makanan
Sekolah juga menetapkan batas waktu khusus untuk kegiatan makan. “Dikasih waktu sampai jam satu siang, setelah itu pembelajaran kita lanjutkan lagi,” jelasnya. Dalam proses distribusi, sekolah membentuk tim khusus. Tim ini bertugas mengoordinasikan pendataan, pengambilan, hingga pengembalian ompreng.
“Yang ngambil itu ada timnya dari pegawai yang mengkoordinir,” kata Lilik. Setiap pagi, data kehadiran siswa sudah dihimpun terlebih dahulu. Pendataan dilakukan dengan melibatkan OSIS. “Dibantu OSIS, perwakilan kelas menyetorkan data anak yang masuk tiap harinya,” ujarnya.
Data tersebut kemudian digunakan untuk menentukan jumlah ompreng per kelas. “Tim nanti mengelompokkan, per kelas jumlahnya berapa,” lanjut Lilik. Saat waktu pengambilan, siswa piket kelas bertugas mengambil makanan. “Perwakilan kelas piket nanti yang ngambil MBG di situ,” katanya.
Proses pengembalian ompreng juga diatur dengan ketat. “Pengembaliannya juga sama, sesuai jumlah yang diambil tadi,” ucap Lilik. Sebagian besar ompreng sudah diikat rapi. “Biasanya satu tali itu lima ompreng, tim yang bantu mengikatkan,” katanya. Jika jumlah siswa tidak genap, penyesuaian tetap dilakukan.
Respons Siswa dan Manfaat MBG
Lilik menyebut hampir tidak ada masalah berarti selama pelaksanaan. Semua dikelola oleh tim yang sudah memahami alur kegiatan MBG. Terkait siswa yang tidak masuk karena sakit, sekolah menyesuaikan kondisi. “Kalau ada anak sakit, dari SPPG juga tidak masalah,” katanya. Makanan yang tersisa tidak dibuang. “Biasanya yang diutamakan itu petugas kebersihan atau security,” ujar Lilik.
Untuk urusan menu, pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya kepada penyedia. “Menu itu kita tidak bisa menentukan, sudah dari dapur dan ahli gizinya,” katanya. Sekolah hanya menerima dan mendistribusikan. Meski begitu, variasi menu dinilai cukup baik oleh siswa.
Respons siswa terhadap MBG pun sangat positif. “Alhamdulillah respons anak-anak bagus,” ucap Lilik. Banyak siswa merasa terbantu secara ekonomi. “Anak-anak bilang enak bu, bisa ngirit sangu,” katanya. Ada pula perubahan kebiasaan di rumah. “Orang tua yang biasanya nyiapin bekal, akhirnya kadang tidak bawa bekal,” lanjutnya.
Menurut Lilik, antusiasme siswa terlihat setiap hari. Anak-anak tampak menantikan jam makan siang bersama. “Kalau dari antusiasme, kelihatannya anak-anak memang memerlukan program seperti ini,” katanya. Semangat itu terlihat jelas setiap kali pembagian MBG dilakukan.
Kesimpulan
Bagi MAN Sidoarjo, program ini dijalankan sebagai bagian dari kebijakan pemerintah. Sekolah mengikuti dan mendukung penuh pelaksanaan MBG. Namun lebih dari itu, MBG dinilai menjawab kebutuhan riil siswa. Makan siang bergizi membantu menjaga energi dan konsentrasi belajar. Momen makan bersama selepas Salat Zuhur juga memberi nilai kebersamaan. Di masjid sekolah, siswa berkumpul tanpa sekat sambil menikmati makanan.
Bagi siswa, ompreng MBG kini menjadi bagian dari rutinitas yang dinanti. Ia hadir sebagai jeda yang menenangkan di tengah padatnya aktivitas sekolah. Cerita Makan Bergizi Gratis dari MAN Sidoarjo menunjukkan bagaimana kebijakan nasional bisa terasa dekat dan membumi. Dari halaman sekolah hingga masjid, program ini tumbuh bersama semangat para siswa.












