Ancaman Dokter Tifa untuk Melaporkan Faizal Assegaf
Dokter Tifa, yang dikenal sebagai ahli epidemiologi dan ilmu perilaku, mengancam akan melaporkan Faizal Assegaf atas tudingan bahwa ia menerima uang terkait isu ijazah palsu Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia menegaskan bahwa tidak ada satu rupiah pun dana yang pernah ia terima dalam kajian ilmiahnya.
Tifauzia Tyassuma menyatakan bahwa seluruh penelitiannya dilakukan berdasarkan disiplin ilmiah tanpa pembiayaan eksternal. Ia menilai tudingan Faizal Assegaf sebagai pencemaran nama baik. “Tudingan Faizal Assegaf sungguh keji dan saya pertimbangkan untuk melaporkan pencemaran nama baik,” katanya dalam sebuah postingan di media sosial.
Faizal Assegaf, pendiri Presidium Alumni 212, menyebut bahwa Dokter Tifa bersama Roy Suryo dan Rismon Sianipar, maupun sejumlah akademisi lainnya, menerima sejumlah uang terkait kasus dugaan ijazah palsu Jokowi. Ia bahkan mendesak agar rekening mereka diperiksa.
Ijazah palsu adalah dokumen kelulusan atau sertifikat pendidikan yang dibuat, dipalsukan, atau dimanipulasi sehingga tampak seolah-olah dikeluarkan oleh lembaga pendidikan resmi, padahal tidak pernah diterbitkan secara sah. Ciri-ciri umum ijazah palsu antara lain identitas atau nomor seri tidak sesuai data lembaga pendidikan, format, tanda tangan, atau stempel berbeda dari standar resmi, dan diperoleh tanpa mengikuti proses pendidikan atau ujian. Penggunaan ijazah palsu merupakan tindak pidana karena termasuk pemalsuan dokumen resmi.
Dalam postingannya, Dokter Tifa mengungkapkan telah mencermati pernyataan Faizal Assegaf yang menyebut rekening beberapa nama, termasuk Roy Suryo, Rismahar Sianipar, dan Dokter Tifa, harus diperiksa karena menerima sejumlah uang. Ia juga menegaskan bahwa perjuangannya terkait kajian ilmiah perilaku kebohongan mantan Presiden Jokowi dibiayai atau diarahkan pihak tertentu.
“Tidak ada satu rupiah pun dana dari siapa pun yang saya terima untuk penelitian, sikap, maupun langkah saya,” tegas Dokter Tifa. Dia menegaskan bahwa jika ada langkah yang diambil, hal itu semata-mata karena prinsipnya sebagai akademisi yang memiliki kewajiban moral untuk mencari dan menyampaikan kebenaran, bukan menjalankan agenda pihak mana pun.
“Kepada Allah saya berserah diri, menyerahkan langkah, risiko, dan konsekuensi atas apa yang saya jalankan,” katanya. Dalam penjelasannya, Dokter Tifa menekankan bahwa penelitiannya berangkat dari disiplin ilmu Epidemiologi, Ilmu Perilaku, dan Neurosains, yang kemudian membentuk ilmu pengetahuan baru bernama Neuropolitika.
“Kajian saya bukan berbasis kepentingan politik, kelompok, apalagi dengan pembiayaan eksternal, melainkan berbasis metode ilmiah, literatur, analisis data, dan komitmen akademik,” paparnya. Dia menegaskan komitmennya pada kebenaran intelektual yang menurutnya tidak dapat dibeli, dinegosiasikan, atau dititipkan.
“Kebenaran harus ditemukan dengan kerja, diuji dengan data, dan dipertanggungjawabkan dengan integritas, bukan didikte oleh kekuasaan atau narasi,” jelasnya. Lebih lanjut, Dokter Tifa menyatakan menghormati hak setiap orang untuk memiliki pandangan atau interpretasi yang berbeda. Namun, dia berharap pernyataan publik yang menyangkut dirinya atau perjuangan yang dijalankannya dilakukan dengan tanggung jawab etis, faktual, dan tidak mendistorsi realitas.
“Sejak awal saya memilih jalan ini bukan untuk mencari posisi, sensasi, atau dukungan materi, tetapi untuk mengingatkan bahwa bangsa ini hanya akan tumbuh kuat jika kejujuran, bukti, dan akal sehat ditempatkan di atas kepentingan pribadi atau kekuasaan,” tuturnya. Dengan keyakinan itu, Dokter Tifa menyatakan akan tetap menjalani perjuangannya dengan tenang, terhormat, dan konsisten.
Kekhawatiran Dokter Tifa Tak Terbukti
Ketakutan Dokter Tifa tentang memburuknya kesehatan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), tak terbukti. Ia sebelumnya khawatir Jokowi akan beristirahat selama dua tahun hingga 2027. Pengiat Media Sosial itu takut Jokowi akan mangkir dalam persidangan atas kasus dugaan ijazah palsu dengan alasan pemulihan kesehatan.
Namun, ketakutan yang sebelumnya sering disampaikan Dokter Tifa itu dibantahkan Jokowi lewat postingan media sosialnya. Salah satu postingan Jokowi lewat Twitter atau X pribadinya @jokowi pada Jumat (21/11/2025) menunjukkan bahwa ia hadir dalam acara internasional di Singapura. Dalam postingannya, Jokowi mengumbar sejumlah potret ketika dirinya berkunjung ke Singapura.
Melengkapi postingan, Jokowi menyampaikan telah menghadiri gala dinner yang digelar di sela-sela New Economy Forum Bloomberg di Hotel Capella, Singapura. Dirinya mengucapkan terima kasih kepada Pendiri Bloomberg sekaligus multi-miliarder serta Wali Kota New York (2002-2014), Michael Rubens Bloomberg. “Terima kasih atas undangan gala dinner di sela New Economy Forum Bloomberg oleh Michael Bloomberg bersama Para Advisory Board di Hotel Capella,” tulis Jokowi lewat Twitter atau X pribadinya pada Jumat (21/11/2025).
Dipaparkannya, acara dimulai dengan sesi foto seluruh Advisory Board dan para tokoh dunia, kemudian dilanjutkan dengan Gala Dinner. Momentum ini katanya menjadi kesempatan untuk bertukar pandangan mengenai isu-isu global dan memperkuat peran Indonesia dalam jaringan internasional. Hadir antara lain, Prime Minister of Greece, Mr. Kyriakos Mitsotakis; Former Prime Minister of The United Kingdom, Mr. Rishi Sunak; Deputy Prime Minister Singapore, Mr. Gan Kim Yong; Former US Secretary of Commerce, Mrs. Gina Marie Raimondo; Former Minister for Commerce and Industry Republic of India, Mr. Suresh Prabu, serta Former CEO of Suntory, Mr. Takeshi Niinami.
Dalam postingan sebelumnya, Jokowi menunjukkan kegiatannya di Singapura. Dirinya bertemu dengan Senior Minister Singapura, Lee Hsien Loong. Jokowi mengaku berbincang banyak soal potensi kerjasama antar Indonesia-Singapura. “Pagi ini di Singapura, saya bertemu dengan Senior Minister Singapura, Lee Hsien Loong,” tulis Jokowi pada Kamis (20/11/2025). “Kami berbincang santai sekaligus bertukar pandangan mengenai kontribusi bagi perkembangan kedua negara dan peluang memperkuat persahabatan Indonesia-Singapura ke depan,” jelasnya.
Postingan Jokowi tersebut disambut ramai masyarakat. Sebagian besar mempertanyakan kapasitas Jokowi dalam acara tersebut. Sebagian lainnya menyinggung soal kasus ijazah palsu yang kini menyeret para akademisi, termasuk Roy Suryo, Dokter Tifa dan Rismon Sianipar.












