Kisah Syekh Anto, Guru Terpencil di OKU Timur yang Berjuang Melewati Lumpur untuk Mengajar Anak di Perkebunan

Perjalanan Panjang Seorang Guru ke Pelosok

Di tengah perkebunan yang luas dan jalan-jalan yang penuh tantangan, Syekh Anto, S.Pd menunjukkan dedikasi luar biasa sebagai seorang guru. Ia mengajar anak-anak di SD Negeri 2 Meluai, sebuah sekolah yang berada di dalam kawasan perkebunan PT Laju Perdana Indah. Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan sejauh 45 kilometer dari Desa Bangsa Negara, Kecamatan Belitang Madang Raya, Kabupaten OKU Timur, menuju sekolah tersebut.

Perjalanan ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga penuh dengan rintangan. Dari total jarak tersebut, sekitar 10 kilometer adalah jalan perkebunan yang menjadi tantangan terbesar bagi Syekh Anto. Baginya, angka-angka ini bukan sekadar jarak, tetapi cerita tentang perjuangan, kesabaran, dan dedikasi yang tak tergantikan.

Tantangan di Jalan Menuju Sekolah

Ketika musim kemarau tiba, debu pekat menjadi sahabat tak terhindarkan. Asap putih dari tanah kering mengelilingi perjalanan sepanjang kebun, membuatnya harus fokus penuh agar motor yang dikendarainya tetap stabil. Namun, ketika hujan turun, kondisi jalan menjadi lebih sulit. Tanah merah di perkebunan berubah menjadi lintasan licin dan dalam, sehingga waktu tempuh bisa mencapai hampir 95 menit.

“Kalau musim hujan, tanah merah itu lengket sekali, susah dilewati. Ban motor sering tidak bisa berputar karena terlalu berat,” katanya, Selasa (25/11/2025).

Tidak jarang, kendaraannya mengalami masalah. Pernah suatu hari, motornya mogok tepat di tengah kebun tebu. Tidak ada bengkel, tidak ada warga, hanya hamparan tanaman yang luas dan sunyi. “Saya harus mendorong motor sekitar empat kilometer menuju bengkel terdekat,” ujarnya. Jalan kaki sambil menyusuri kebun, di bawah terik matahari, menjadi ujian fisik sekaligus mental.

Dedikasi yang Tak Pernah Padam

Meski akses menuju sekolah penuh tantangan, Syekh Anto tidak pernah memiliki niat untuk mengeluh atau mundur. Bagi pria yang lulus CPNS tahun 2019 ini, bekerja sebagai guru bukan sekadar profesi, melainkan amanah besar. “Yang membuat saya semangat adalah tanggung jawab untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Saya ingin ikut mencerdaskan anak bangsa,” tuturnya.

Baginya, anak-anak SD Negeri 2 Meluai yang tinggal di wilayah perkebunan berhak mendapatkan pendidikan terbaik, meski sekolah mereka berada di pelosok dan jauh dari keramaian. Syekh Anto bukan hanya datang mengajar. Ia membawa harapan, kehadiran, dan konsistensi yang membuat anak-anak tetap bisa belajar seperti siswa di daerah lain.

Semangat yang Tak Pernah Padam

Di tengah cuaca yang berubah-ubah, jalan berlumpur, motor yang kadang menyerah di tengah kebun, serta jarak puluhan kilometer yang harus ditempuh setiap hari, semangat itu tidak pernah padam. Inilah potret guru hebat yang keberadaannya sering luput dari perhatian. Guru yang tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga menembus sunyi perkebunan, melewati lumpur musim hujan dan debu musim kemarau, demi memastikan setiap anak di pelosok tetap mendapat akses pendidikan.

“Karena bagi saya, menjadi guru bukan hanya soal hadir di sekolah. Tetapi hadir di hati anak-anak didik saya, walau seberapa jauh pun jaraknya,” pungkasnya.


Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *