Sekolah Rusak di Bandung Barat Tak Diperbaiki, Siswa Belajar Bergiliran

Kondisi Sekolah Rusak di Kecamatan Rongga dan Cipongkor Tak Kunjung Diperbaiki

Di wilayah Kecamatan Rongga dan Cipongkor, beberapa sekolah mengalami kerusakan yang cukup parah. Bangunan-bangunan tersebut tidak hanya rusak, tetapi juga ambruk akibat berbagai faktor seperti longsoran atau usia bangunan yang sudah tua. Namun, hingga kini, perbaikan dan pembangunan kembali belum dilakukan oleh pemerintah setempat.

Salah satu sekolah yang mengalami masalah serius adalah SDN 2 Cimarel yang terletak di Kampung Babakan Cisarua, RT 05 RW 06, Desa Cibitung, Kecamatan Rongga. Beberapa ruangan di sekolah ini telah rusak parah. Salah satu ruang kelas bahkan jebol akibat longsoran beberapa tahun lalu. Selain itu, lantai ruangan lainnya juga ambles.

Ajat Sudrajat, salah satu guru di sekolah tersebut, mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada perubahan berupa perbaikan dari pemerintah. “Teu aya perobihan (Belum ada perubahan berupa perbaikan oleh pemerintah),” ujarnya. Saat ini, pihak sekolah hanya melakukan perbaikan seadanya, seperti pemasangan pintu dan perbaikan kecil lainnya.

Karena kondisi bangunan yang tidak memadai, siswa di sekolah ini harus belajar secara bergiliran. Ada enam kelas, namun hanya lima ruangan yang tersedia. Siswa kelas I dan II belajar dalam waktu yang berbeda. Siswa kelas I masuk pada pukul 06.30 hingga 10.00, sedangkan siswa kelas II masuk pada pukul 10.00 sampai 12.30.

Keadaan ini membuat proses belajar mengajar menjadi kurang maksimal. “Kirang maksimal dina kenyamanan margi dina kondisi bangunan memprihatin­kan (Pembelajaran jadi tak maksimal karena berlangsung di bangunan yang kondisinya memprihatinkan),” ujar Ajat. Selain itu, kekhawatiran juga muncul ketika hujan turun. “Paur runtuh, kenteng tos balocor (Takut ambruk, genting pun sudah bocor),” tambahnya.

Sekolah ini sebenarnya telah mengajukan permohonan bantuan agar bisa diperbaiki. Namun, hingga kini, permohonan tersebut belum mendapatkan respons. “Teu acan aya kabar naha bade dong­kapna iraha (Belum ada informasi kapan bantuan itu datang),” ujar Ajat.

Perbaikan sekolah sangat penting karena bangunan SDN 2 Cimarel juga digunakan untuk kegiatan belajar siswa SMP terbuka Rongga. SMP tersebut menginduk ke SMPN 1 Rongga. Pendirian SMP terbuka dilakukan karena jarak sekolah yang jauh dari wilayah tersebut. Guru-guru kemudian berinisiatif mendirikan SMP terbuka agar para siswa tidak sampai putus sekolah akibat jarak yang jauh.

Kondisi Sekolah Lain yang Juga Memprihatinkan

Selain SDN 2 Cimarel, kondisi SDN Cantrawayang di Kampung Cantrawayang, RT 02 RW 03, Desa Karangsari, Kecamatan Cipongkor juga tidak jauh berbeda. Salah satu ruangan kelas di sekolah ini ambruk sejak bertahun-tahun lalu. Namun, pemerintah Kabupaten Bandung Barat justru memberikan bantuan untuk merehabilitasi dua ruangan kelas lain serta UKS, bukan untuk membangun kembali ruangan yang ambruk.

Kepala SDN Cantrawayang, Dadang Wahyudin, mengakui bahwa dua ruangan tersebut memang perlu direhabilitasi. Namun, keinginan sekolah adalah membangun kembali ruangan yang ambruk. “Tos aya nu belah (Bangunan perpustakaan sudah ada yang terbelah),” ujarnya.

SDN Cantrawayang juga hanya memiliki lima ruangan kelas akibat satu ruangan yang ambruk. Seperti halnya SDN 2 Cimarel, sekolah ini juga menerapkan sistem belajar secara bergiliran bagi murid kelas I dan II karena kekurangan ruangan kelas.


Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *