dailybandung.com – Menurut data dari Global Cancer Observatory (Globocan), pada tahun 2022 lebih dari 408.661 kasus kanker baru terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah kanker payudara. Meski lebih sering terjadi pada wanita, kanker payudara juga bisa menyerang pria.
Kanker payudara seringkali sulit terdeteksi pada tahap awal karena ukurannya yang kecil. Benjolan baru dapat teraba jika ukurannya cukup besar. Namun tidak semua benjolan di payudara harus dianggap sebagai kanker. Oleh karena itu, pemeriksaan sejak dini sangat penting dilakukan untuk memastikan apakah benjolan tersebut merupakan kanker atau bukan.
Dokter spesialis bedah, Dr dr Desak Gede Agung Suprabawati SpB(K)Onk menyatakan bahwa kesadaran masyarakat di Indonesia untuk melakukan deteksi dini terhadap suatu penyakit masih sangat kurang. Hal ini menjadi perhatian serius dari semua pihak. Di negara lain, orang-orang datang untuk memeriksa kondisi tubuh mereka ke rumah sakit atau dokter sejak awal atau bahkan sebelum ada keluhan. Namun di Indonesia, sekitar 70-80 persen orang baru memeriksakan kondisi tubuhnya ketika sudah dalam stadium lanjut.
Maka dari itu, dr Desak menyebutkan bahwa sadari dan sadanis menjadi elemen penting dalam mencegah risiko penyakit, termasuk kanker payudara. Sadari berarti mengenal kanker payudara, sementara sadanis berarti pemeriksaan kanker payudara secara klinis. “Pengenalan dini kanker payudara menjadi langkah penting, tetapi tidak semua benjolan di sekitar payudara adalah kanker,” ujarnya.
dr Desak juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini penyebab munculnya kanker payudara belum terdeteksi secara pasti. Hal ini berbeda dengan kanker lain yang penyebab utamanya telah terdeteksi secara pasti. Meski demikian, bukan berarti dokter tidak dapat mengatasinya. “Mereka memiliki faktor risiko, jadi ada pihak-pihak tertentu yang memiliki potensi lebih tinggi daripada orang lainnya,” terangnya.
“Risiko pertama tentunya karena kita perempuan. Semua perempuan memiliki potensi. Kemudian ada faktor keturunan. Namun tidak semua orang dalam satu keluarga yang memiliki riwayat kanker berarti memiliki faktor keturunan. Hanya sekitar 5-10 persen yang memang memiliki faktor keturunan,” tambah dr Desak.
Untuk membantu masyarakat dalam melakukan skrining dini terhadap risiko kanker payudara, Ciputra Hospital Surabaya memperkenalkan Automated Breast Ultrasound (ABUS), teknologi 3D ultrasound untuk skrining payudara. Dokter Spesialis Radiologi Ciputra Hospital Surabaya, dr Sidharta Sp.Rad mengatakan bahwa ABUS merupakan pilihan skrining alternatif yang nyaman. Ciputra Hospital Surabaya memilih Invenia ABUS 2.0 untuk membantu meningkatkan deteksi kanker payudara pada wanita dengan payudara padat.
“Pemilihan ini sangat cocok untuk wanita di Asia dan di Indonesia, karena 76% hingga 80% wanita tergolong dalam kategori payudara yang sangat padat dan merupakan pemeriksaan yang nyaman tanpa radiasi,” paparnya.
Dengan skrining dini, diharapkan dapat menekan risiko kanker payudara dan mengurangi potensi kematian. Hasil pembacaan dari ABUS sendiri dapat diketahui dalam waktu 1-2 jam. “Kami hadir untuk memberikan layanan kepada masyarakat. Saat ini hingga Februari 2025, ada promo di mana hanya dengan Rp 1,5 juta, masyarakat dapat melakukan skrining ABUS di Ciputra Hospital Surabaya, yang sudah termasuk konsultasi dengan dokter spesialis dan radiologi,” ungkapnya.
Salah satu pengurus Lovepink Indonesia (organisasi non-profit yang berfokus pada kampanye kesadaran deteksi dini kanker payudara), cabang Surabaya, Asih Suprapti berharap bahwa skrining ABUS dapat menjadi layanan untuk deteksi dini kanker payudara, sehingga dapat menekan jumlah penderita baru. Karena risiko menderita kanker payudara tidak mengenal usia. “Di antara anggota kami, ada yang baru berusia 17 tahun dan sudah terkena kanker payudara. Bahkan sekitar 70 persen penderitanya berusia di bawah 50 tahun,” katanya.







