Sejak pertengahan 2025, anak kembar saya resmi masuk sekolah dasar. Salah satu di kelas reguler, dan yang satunya lagi di kelas inklusi. Sejak hari itu, hidup saya mulai dipenuhi keputusan-keputusan kecil untuk “enrichment” alias pengayaan anak. Tapi lama-lama rasanya justru semakin berat.
Mulai dari memilih les apa yang akan diikuti, ekskul apa yang cocok, seberapa banyak aktivitas yang perlu dilakukan, hingga yang paling sering membuat saya merenung, apakah aktivitas mereka ini terlalu banyak atau masih wajar?
Saya rasa, banyak orang tua di fase ini mengalami hal yang sama. Di semester pertama SD, akhirnya saya mendaftarkan salah satu anak ke les bahasa Inggris. Lalu, pada semester kedua saya tambahkan kegiatan ekskul yang memang dianjurkan sekolah. Satu anak memilih sains, dan yang lain memilih seni rupa.
Sebenarnya, saya tidak memiliki ambisi muluk-muluk. Saya tidak ingin anak saya “lebih unggul” dari yang lain. Lebih dari itu, saya hanya ingin mereka mencoba berbagai hal, mengenal apa yang mereka sukai, sambil tetap menikmati masa kecilnya.
Ekskul sains isinya eksperimen sederhana, main air, main warna. Seni rupa juga begitu, coret-coret, gunting, tempel, bebas. Cuma, karena anak saya ini sangat aktif dan suka coba ini itu serta sangat senang berkawan, mereka ingin melakukannya bersama anak-anak lain. Inilah yang tidak selalu bisa saya fasilitasi di rumah.
Begitu semua formulir pendaftaran terisi dan transfer selesai, kepala saya langsung bertanya lagi, “Ini keputusan yang tepat nggak ya?” Karena mau tidak mau, ada hal yang selalu menghantui orang tua kelas menengah ke bawah seperti saya, bernama biaya.
Niat Baik Ketemu Realita Anggaran
Coba saya hitung lagi kasarnya pelan-pelan, ya. Ekskul sains dan seni rupa masing-masingnya Rp1.000.000 untuk 12 kali pertemuan. Les bahasa Inggris sekitar Rp9.000.000 untuk satu level, durasi 8–9 bulan. Dua kali seminggu, tiap sesi 90 menit. Kalau dirata-ratakan, kira-kira Rp1 juta sampai Rp1,1 juta per bulan.
Angka ini sebenarnya bukan yang “wah banget”, tapi jelas bukan angka yang kecil juga. Masuk kategori wajar, tapi cukup bikin saya tarik napas sebelum klik transfer.
Di dunia parenting modern sekarang, rasanya kita sering dihantui satu ketakutan yang sama, yaitu takut anak ketinggalan. Entah itu takut anak ketinggalan kemampuan berbahasa asing, takut ketinggalan stimulasi, atau takut ketinggalan “usia emas” yang katanya cuma datang sekali seumur hidup.
Belum lagi kalimat-kalimat sakti dari dunia pendidikan, seperti “Ini masa emas, Bu.” “Fondasi masa depan.” “Kalau bukan sekarang, nanti terlambat.”
Padahal, kalau kita mau mikir keras sedikit dan jujur pada diri sendiri… anak kelas 1 SD itu sebenarnya masih sangat dasar tahapnya. Di usia ini, yang paling penting bukan seberapa banyak kelas yang mereka ikuti, tapi apakah anak merasa aman? Apakah dia senang belajar? Apakah dia masih punya waktu bermain bebas? Apakah rumahnya cukup tenang untuk tumbuh kembang?
Les dan ekskul itu alat bantu, bukan satu-satunya jalan.
Jadi, Perlu Nggak Sih Les dan Ekskul?
Enrichment anak itu jenisnya banyak banget ya. Selain yang berbau pendidikan, ada hobi dan skill, misalnya les piano, les biola, les renang, pencak silat, panahan, berkuda, sepak bola, macam-macam.
Banyak pendapat pakar bilang, anak yang ikut ekskul memang cenderung punya keterampilan sosial lebih baik, lebih percaya diri, dan lebih terlibat aktif di sekolah. Tapi… ini ada catatan pentingnya, yaitu kualitas aktivitas jauh lebih penting daripada jumlahnya.
Satu ekskul yang cocok dan dijalani anak dengan senang hati bisa jauh lebih bermakna daripada tiga ekskul yang dijalani anak sambil ngeluh.
Les tambahan prinsipnya juga sama. Bisa membantu, tapi efeknya sangat tergantung pada kebutuhan anak, kondisi keluarga, kualitas sekolah, dan tujuan les itu sendiri.
Kalau motivasinya sekadar ikut-ikutan atau menenangkan kecemasan orang tua, les justru bisa jadi sumber stres, buat anak dan orang tuanya.
Biaya Les yang Masuk Akal Itu Berapa?
Sekali lagi, tulisan ini hanya dari sudut pandang saya, tidak bisa digeneralisir, terutama anak-anak yang memang sudah terlahir dengan “sendok emas.” Hehehe. Jadi, kalau ada beda pendapat, sah-sah saja.
Kalau bicara keluarga kelas menengah di Indonesia, rentangnya memang luas. Ada yang pengeluaran bulanannya Rp15 juta, ada yang Rp25 juta, bahkan Rp35 juta ke atas. Yang saya pengen soroti di sini sebenarnya proporsinya, bukan angkanya.
Banyak perencana keuangan menyarankan kalau biaya enrichment anak tadi 5–10% dari total pengeluaran bulanan, katanya ini relatif aman. Kalau 10–15% dari total pengeluaran bulanan, ini masih bisa, tapi perlu dievaluasi rutin. Nah, kalau sudah di atas 15%, ini bakal awan bikin stres keuangan.
Misalnya, biaya les dan ekskul anak kembar saya sekitar Rp3–3,5 juta per bulan. Kalau total pengeluaran keluarga kami Rp15 juta per bulan, ya ini berat banget. Kalau Rp25 juta, masih berat, tapi mungkin. Kalau Rp35 juta, relatif lebih longgar.
Kemudian, apakah biaya ini bikin rumah tangga masih bisa napas, atau malah menekan pos penting lain? Terus, kita sebagai orang tua harus gimana?
Jawabannya ya nggak hitam putih juga. Les dan ekskul masuk akal kalau anak memang butuh struktur tambahan, anak menunjukkan minat kuat, sekolah belum menyediakan pengayaan yang cukup.
Tapi les dan ekskul ini juga jadi beban kalau cuma buat menenangkan kecemasan orang tua, ikut tren, atau jadi simbol “orang tua yang dianggap bertanggung jawab” sama anak.
Bagaimana Mengakalinya?
Ada beberapa cara yang saya pelajari dan coba saya praktikkan. Pertama, pakai sistem rotasi, bukan dibiarin numpuk. Nggak semua jenis les atau ekskul harus jalan barengan. Fokus satu hal dulu, yang lain bisa menyusul bergantian.
Misalnya, les bahasa Inggris yang 8–9 bulan tadi tetap lanjut, bisa paralel sama satu ekskul atau les lainnya. Nanti, setelah satu ekskul selesai, barulah coba ekskul lain. Jangan beda hari beda les, itu mah sudah pasti bikin gembos pengeluaran bulanan.
Kedua, maksimal dua aktivitas berbayar per anak. Untuk anak kelas 1 SD, ini sudah lebih dari cukup. Misalnya, anak les bahasa Inggris dan ekskul sains, atau les bahasa Inggris dan ekskul seni rupa.
Ketiga, manfaatkan diskon sibling. Banyak sekolah dan tempat kursus punya jenis diskon ini, tapi seringnya nggak ditawarkan. Ya, jadilah orang tua kepo. Tanyakan saja ke pihak bersangkutan, tidak ada salahnya toh.
Keempat, ganti sebagian les dengan ritual rumah. Kalau sudah genting banget nih pengeluaran, dan kalau memang sebagai orang tua kita bisa, ya jadilah guru les untuk anak sendiri. Misalnya, baca buku cerita Inggris bareng, nonton video pendek, ngobrol santai. Bukan buat mahir, buat membiasakan anak saja dulu.
Kelima, evaluasi rutin. Sebulan-dua bulan sekali, tanya anak, mereka masih senang nggak? Jadwalnya terlalu capek nggak? Karena anak kelas 1 SD itu sebenarnya belajar paling banyak justru dari bermain bebas. Main tanpa target, tanpa penilaian, tanpa tekanan.
Sebagai orang tua kelas menengah, tugas saya, mungkin juga Anda, bukan menciptakan anak paling sibuk. Tugas kita menciptakan rumah yang cukup aman untuk anak bertumbuh juga berkembang, pelan-pelan, dengan ritme mereka sendiri.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












