Prestasi Menggembirakan dari Siswa SD Islam Al Azhar 33 Tasikmalaya
Raffa Alfariz, seorang siswa kelas 4 Kholid SD Islam Al Azhar 33 Tasikmalaya, berhasil meraih gelar Juara Mojang-Jajaka Alit Provinsi Jawa Barat Tahun 2025 dalam ajang Pasanggiri Mojang-Jajaka Kategori Anak Se-Jawa Barat yang diselenggarakan pada Sabtu dan Minggu, 13–14 Desember 2025 di UPT Bale Paminton & Museum Garut. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kecintaan terhadap budaya, serta pelestarian jati diri bangsa sejak usia dini.
Ajang Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit Jawa Barat tahun 2025 diikuti oleh 64 peserta anak yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung, Kota Tasikmalaya, Kota Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Ciamis, serta Kabupaten Cianjur. Ajang bergengsi ini memperebutkan Piala Bergilir Gubernur Jawa Barat dan menjadi salah satu wadah pembinaan generasi muda dalam pelestarian budaya Sunda sejak usia dini.
Kegiatan Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit Jawa Barat merupakan agenda tahunan yang secara konsisten diselenggarakan oleh KAMP Garut bekerja sama dengan Tiara Kusuma, serta didukung oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menanamkan kecintaan generasi muda terhadap nilai-nilai budaya, adat istiadat, serta kearifan lokal Sunda.
Menurut Ketua Pelaksana Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit Jawa Barat, Irno, pelaksanaan lomba dibagi ke dalam beberapa kategori usia, mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan rentang usia peserta 3 hingga 15 tahun. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga sebagai sarana edukasi budaya bagi anak-anak.
Pelaksanaan pasanggiri berlangsung selama dua hari dengan rangkaian kegiatan yang padat dan edukatif. Pada hari pertama (Sabtu), kegiatan diisi dengan sesi Unjuk Kabisa, yakni penampilan keterampilan peserta sesuai dengan bakat dan potensi masing-masing. Beragam seni dan budaya Sunda ditampilkan oleh para peserta, seperti Jaipongan, Tari Tradisi, Kawih, Pupuh, Pencak Silat, Ngacapi, Ngadongeng, Borangan, serta keterampilan seni budaya lainnya.
Pada sesi ini, Raffa Alfariz tampil sangat menonjol dengan membawakan Unjuk Kabisa berupa Pencak Silat serta permainan kacapi yang dipadukan dengan ngawih Sunda. Penampilannya menunjukkan penguasaan teknik yang matang, ketepatan irama, penghayatan mendalam terhadap nilai-nilai budaya Sunda, serta kepercayaan diri yang kuat, sehingga dinilai menjadi salah satu penampilan terbaik oleh dewan juri dan memberikan kontribusi signifikan terhadap keberhasilannya meraih gelar Juara Mojang-Jajaka Alit Jawa Barat 2025.
Pada hari ke-2 (Minggu), sesi Pinton Anggon dilaksanakan dengan peragaan busana Mojang dan Jajaka, catwalk, serta wawanohan. Pada kesempatan tersebut, Raffa Alfariz tampil percaya diri mengenalkan ikon Kota Tasikmalaya, khususnya di bidang kriya dan ekonomi kreatif. Ia memaparkan Batik Tasik sebagai batik tulis bermotif khas daerah, Kelom Geulis sebagai kerajinan kayu berukir yang bernilai seni tinggi, serta Payung Geulis yang merepresentasikan kekayaan seni tradisi dengan motif dan warna yang khas.
Ia juga mengenalkan mendong sebagai komoditas unggulan Tasikmalaya yang berkembang sebagai bagian dari ekonomi kreatif. Pada bidang kuliner, Raffa memperkenalkan Tutug Oncom (TO) sebagai makanan khas Tasikmalaya yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat. Penampilan Raffa pada sesi ini menunjukkan wawasan yang baik, kemampuan komunikasi yang matang, serta kecintaan terhadap potensi daerah, sehingga semakin menguatkan perannya sebagai duta budaya dan pariwisata anak dari Kota Tasikmalaya.
Keberhasilan Raffa Alfariz meraih gelar Juara Mojang-Jajaka Alit Jawa Barat 2025 pada Kategori B disambut dengan penuh rasa bangga oleh pihak sekolah. Kepala SD Islam Al Azhar 33 Tasikmalaya, Dede Abdul Wahid, S.Pd., Gr, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas prestasi yang diraih oleh Ananda Raffa Alfariz, siswa kelas 4 Kholid SD Islam Al Azhar 33 Tasikmalaya. Ia menuturkan bahwa capaian tersebut merupakan bukti nyata dari kerja keras, talenta, serta semangat Ananda Raffa dalam melestarikan budaya Sunda. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi juga membawa kebanggaan bagi Kota Tasikmalaya di tingkat Provinsi Jawa Barat.
Lebih lanjut, Kepala Sekolah berharap prestasi tersebut dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi seluruh peserta didik untuk terus berprestasi, berakhlak mulia, serta mencintai dan melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari jati diri bangsa. Hal senada disampaikan oleh Guru Pembimbing, Bunda Tati Heryanti, S.Pd., Gr. Ia mengungkapkan rasa syukur dan bangga atas pencapaian Raffa Alfariz. Menurutnya, gelar yang diraih bukanlah puncak, melainkan awal dari amanah dan tanggung jawab yang lebih besar. Ia berharap Raffa dapat menjalankan perannya sebagai duta budaya dengan penuh kesungguhan, menginspirasi generasi muda, serta berkontribusi dalam mempromosikan potensi daerah dan menggerakkan ekonomi kreatif lokal dengan bangga dan berwawasan.
Dukungan dan rasa bangga juga disampaikan oleh kedua orang tua Raffa Alfariz, Egi Nuryadin, M.Si. dan Neneng Erna, S.Pd., Gr. Mereka mengungkapkan rasa syukur atas prestasi yang diraih putra tercinta. “Kami bangga atas kerja keras, ketulusan, dan semangat Ananda Raffa. Semoga amanah ini menjadikannya pribadi yang rendah hati, berakhlak mulia, serta terus menginspirasi banyak orang,” ungkap mereka. Orang tua berharap Raffa dapat terus melangkah dengan doa, adab, dan prestasi, serta menjadi generasi muda yang berbudaya dan berkarakter.
Prestasi yang diraih Raffa Alfariz di ajang Pasanggiri Mojang-Jajaka Alit Jawa Barat 2025 ini diharapkan dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi peserta didik lainnya, khususnya di lingkungan SD Islam Al Azhar 33 Tasikmalaya dan masyarakat luas.

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












