Buku pantun kecil ini mengubah metode pengajaran saya

Buku Tipis yang Tidak Pernah Direncanakan



Buku itu tipis dan tidak viral. Ia tidak dipajang di toko besar, apalagi dibicarakan di media sosial. Tidak ada peluncuran resmi atau promosi masif. Namun, buku kecil yang dicetak pada 2022 itulah yang perlahan mengubah cara saya mengajar di kelas. Isinya kumpulan pantun budaya, lahir dari hobi menulis yang lama tersimpan dan nyaris terlupakan di sela kesibukan sebagai guru.

Saya tidak pernah membayangkan akan memiliki buku solo. Menulis, bagi saya, selama ini hanya ruang sunyi. Tempat menaruh kata, tanpa ambisi besar. Ia hadir sebagai kebutuhan personal, bukan target profesional.

Berangkat dari Program Menulis Pantun Budaya

Awalnya, saya hanya mengikuti program menulis antologi pantun budaya yang diselenggarakan PERRUAS (Perkumpulan Rumah Seni Asnur). Dalam program ini, kami menulis pantun tentang budaya yang ada di Indonesia. Objek wisata, adat istiadat, kesenian daerah, hingga tradisi lokal menjadi sumber inspirasi. Setiap peserta membawa cerita dari daerah masing-masing.

Kami menulis bersama, saling berbagi cerita tentang kebiasaan dan keseharian. Proses penulisan dibimbing oleh mentor agar setiap pantun sesuai dengan kaidahnya, mulai dari rima, jumlah larik, hingga keterkaitan sampiran dan isi. Pendampingan ini membuat proses terasa terarah, tetapi tetap membebaskan. Tidak ada target muluk. Tidak ada tuntutan harus sempurna.

Dari ruang itulah muncul keberanian kecil dalam diri saya: mengapa tidak mencoba menulis sendiri, meski belum merasa layak?

Proses Sunyi Menjadi Buku Solo

Saya menulis di sela-sela rutinitas mengajar. Kadang malam, setelah semua pekerjaan sekolah selesai. Kadang dini hari, sebelum hari kembali ramai. Banyak pantun saya coret. Lebih banyak saya revisi. Prosesnya sunyi dan lambat, tanpa sorak atau validasi.

Hingga akhirnya buku kecil itu selesai dan dicetak terbatas. Tidak ada perayaan apa pun. Namun, bagi saya, itu sebuah pencapaian besar. Bukan karena bukunya, melainkan karena keberanian untuk menuntaskan.

Saat Buku Masuk ke Ruang Kelas

Beberapa waktu kemudian, buku itu tanpa sengaja masuk ke ruang kelas. Saya mengajar Bahasa Indonesia kelas 7 dengan materi Teks Puisi Rakyat: pantun, syair, dan gurindam. Selama ini, materi tersebut kerap terasa kaku. Murid membaca contoh dari buku paket, lalu menjawab soal. Polanya berulang dan sering kali membosankan.

Suatu hari, saya membawa buku pantun saya sendiri ke kelas. Tanpa rencana besar. Hanya ingin mencoba. Saya membacakan satu pantun tentang kehidupan sederhana, dengan bahasa yang dekat dengan keseharian mereka.

Respons kelas berubah. Ada senyum. Ada tawa kecil. Seorang murid bertanya, “Bu, itu pantunnya Ibu sendiri?” Saya mengangguk. Sejak saat itu, suasana belajar tidak lagi sama.

Pantun yang Dihidupi, Bukan Dihafalkan

Pantun tidak lagi hadir sebagai rumus dan struktur semata. Murid mulai berani bermain kata. Mereka menulis pantun tentang rumah, hujan, dan orang tua. Tentang hal-hal yang dekat dengan hidup mereka. Tidak lagi takut salah atau dianggap aneh.

Saya pun berhenti menjelaskan pantun hanya dari sisi teknis. Saya mengajak mereka merasakan makna dan mengaitkannya dengan pengalaman hidup. Di titik inilah saya menyadari, materi ajar menjadi hidup ketika guru juga hidup di dalamnya.

Buku kecil itu menjembatani teori dan praktik, kurikulum dan kehidupan. Literasi tidak lagi sekadar membaca teks, melainkan memahami konteks dan pengalaman.

Selaras dengan Arah Kurikulum Merdeka

Pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional. Dalam Capaian Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka, pembelajaran sastra bertujuan mengembangkan kepekaan rasa, nalar kritis, serta kemampuan berekspresi peserta didik. Puisi rakyat tidak dimaksudkan hanya untuk dipahami strukturnya, tetapi dihayati nilainya.

Di sisi lain, hasil PISA 2022 menunjukkan kemampuan membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD. Data ini sering dibaca sebagai kegagalan, padahal juga bisa menjadi pengingat bahwa literasi membutuhkan pendekatan yang lebih kontekstual dan manusiawi. Pantun, sebagai sastra lisan yang dekat dengan budaya, menawarkan pintu masuk yang lebih ramah.

Buku yang Tidak Sempurna, Tetapi Jujur

Saya tidak menutup mata bahwa buku ini jauh dari sempurna. Bahasanya sederhana. Strukturnya tidak akademis. Namun, justru di situ letak kekuatannya. Buku ini lahir dari proses nyata seorang guru biasa, dengan segala keterbatasan waktu dan energi.

Ia bukan buku ideal. Tetapi jujur. Dan kejujuran itu dirasakan murid.

Menulis sebagai Praktik Guru

Pengalaman ini mengingatkan saya pada satu hal penting. Dalam dunia pendidikan, kita sering menunggu segalanya sempurna. Guru merasa harus ahli, harus siap, harus lengkap dulu. Padahal menulis, seperti mengajar, adalah praktik. Ia tumbuh dari keberanian memulai, bukan dari kesiapan yang sempurna.

Buku kecil ini tidak mengubah kebijakan pendidikan. Ia tidak menggeser kurikulum nasional. Namun, ia mengubah ruang kelas saya. Murid lebih berani menulis, lebih jujur mengekspresikan perasaan, dan lebih dekat dengan budayanya sendiri.

Dalam skala kecil, itulah pendidikan yang bekerja.

Catatan Terima Kasih

Tulisan dan buku ini tidak lahir sendirian. Terima kasih kepada PERRUAS yang telah membuka ruang belajar dan berkarya, khususnya kepada Bang Asrul Sani atas bimbingan, dorongan, dan keteladanan dalam menjaga kaidah serta ruh pantun budaya.

Terima kasih juga kepada Media Guru yang telah memfasilitasi terbitnya buku solo ini, sehingga buku kecil tersebut sah ber-ISBN dan dapat diakses serta dibaca melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Bagi penulis kecil seperti saya, hal itu bukan sekadar administratif, melainkan bentuk pengakuan bahwa karya guru juga layak hadir di ruang literasi nasional.

Perubahan Kecil yang Nyata

Pendidikan tidak selalu berubah lewat program besar atau kebijakan nasional. Kadang, ia bergerak pelan lewat buku tipis yang ditulis dengan sepenuh hati, lalu dibawa masuk ke kelas. Dan bagi saya, perubahan kecil yang nyata itu jauh lebih bermakna.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *