Hukum  

Sunyi Di Balik Jeruji: Hukum yang Menjadi Penjahat

Deskripsi Singkat Film

Film Nyanyi Sunyi dalam Rantang, karya Garin Nugroho yang diproduksi bekerja sama dengan lima kementerian di bawah Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK), menggambarkan realita penegakan hukum di Indonesia. Cerita film ini mengangkat empat kasus nyata ketidakadilan yang dialami masyarakat, mulai dari korban konflik tanah adat dan perampasan hak petani, hingga isu ancaman terhadap kebebasan berekspresi. Kisah utamanya berpusat pada Puspa (diperankan oleh Della Dartyan), seorang pengacara perempuan. Ia berjuang membela kepentingan masyarakat sipil, namun seringkali kalah dalam menghadapi konflik kepentingan dengan pihak-pihak berkuasa (seperti pejabat, polisi, dan perusahaan). Kekalahan beruntun ini membuatnya merasa sedih dan pasrah karena menyadari keterbatasan kekuatannya.

Film ini baru saja selesai melakukan penayangan perdana di gelaran festival bergengsi, International Film Festival Rotterdam edisi ke-54. Film ini juga berhasil terpilih untuk ditayangkan dalam program Harbour di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2025. Program Harbour dikenal sebagai segmen utama festival yang didedikasikan untuk menampung dan mendukung beragam sinema kontemporer dari seluruh dunia. Garin Nugroho mengungkapkan bahwa inspirasi film ini berasal dari kasus-kasus nyata di pengadilan yang memiliki keputusan janggal. Ia menyatakan kegembiraannya bahwa tema tersebut diakui di sirkuit festival bergengsi seperti IFFR. Ia berpendapat bahwa film-film yang kritis, terbuka, dan disampaikan secara personal, terutama yang menunjukkan keberpihakan pada masyarakat, akan selalu mendapatkan tempat dan apresiasi di festival film internasional.

Sinopsis dan Alur Cerita

Puspa, seorang pengacara pemula yang menangani kasus-kasus sepele, memperjuangkan hak-hak orang miskin yang dituduh melakukan kejahatan ringan dan diancam dengan hukuman yang tidak proporsional. Saat ia menghadapi lembaga hukum yang penuh kecurangan, ia harus bergulat dengan rasa ketidakberdayaan dan empati yang melumpuhkannya. Film Nyanyi Sunyi dalam Rantang secara cerdas menggunakan rantang merah sebagai simbol yang kuat, melampaui fungsinya sebagai wadah makanan biasa, menjadikannya penanda keberlanjutan perjuangan dan harapan yang terus dipertahankan.

Bagi Puspa, sang pengacara idealis, membawa rantang itu kepada klien yang terjerat kasus hukum adalah isyarat keberpihakan dan bukan sekadar bantuan fisik, ini adalah sebuah tindakan kemanusiaan di tengah sistem yang sering abai terhadap kaum lemah. Rantang merah juga melambangkan ketahanan, mengingatkan bahwa perjuangan hukum tidak selalu berakhir dengan kemenangan yang cepat, namun harus tetap dilanjutkan. Meskipun menghadapi kekecewaan dan tumpulnya keadilan, Puspa terus membawa rantang itu, menunjukkan bahwa perlawanan didasarkan pada kemauan untuk bertahan, bukan hanya hasil akhir. Selain itu, rantang tersebut berfungsi menyoroti pentingnya kemanusiaan dalam dunia hukum yang sering melupakan sisi manusiawi dari kliennya. Makanan yang dibawanya menjadi pengingat akan hak-hak dasar yang sering terabaikan, dan bahwa setiap individu berhak mendapatkan perlakuan yang layak. Pada akhirnya, rantang merah menjadi simbol perlawanan berkelanjutan terhadap sistem hukum yang justru dapat memperkuat ketidakadilan, mengajarkan bahwa perjuangan kecil melawan kekuatan penindas harus selalu dihidupkan.

Keindahan Film dan Kekurangannya

Film ini banyak menampilkan berbagai estetika atau keindahan di dalamnya. Dari segi naratif, film ini menampilkan pesan yang indah dimana ketidakadilan yang realistis dari orang-orang bawah. Sebuah ironi dimana hukum harusnya melindungi orang-orang yang tidak memiliki kuasa, namun di film ini hukum dimanfaatkan untuk keuntungan beberapa pihak saja. Dari segi artistik, film ini memiliki latar yang realis, sehingga suasana dapat dirasakan. Hal tersebut membuat film ini yang merupakan dokumenter dengan bumbu fiksi tidak terlihat membosankan saat menontonnya. Dari pencahayaan, kami merasa film ini memiliki pencahayaan yang bagus. Tidak ada yang berlebihan dan benar-benar berhasil menampilkan ruang yang emosional dalam layar. Untuk sisi musik, film ini memiliki musik yang dapat membangun suasana cerita dengan baik. Adegan Puspa menyanyikan lagu soleram merupakan adegan begitu dalam dan penuh makna membuat adegan ini menjadi salah satu adegan favorit kami. Aktris dalam film ini, yaitu Della Dartyan berhasil menunjukkan ketidakberdayaan yang ia miliki, sehingga membuat akting dalam film ini terlihat natural.

Kekurangannya mungkin dari sisi simbolik yang memenuhi film ini. Banyak adegan metafora yang dapat diartikan banyak hal oleh penonton sehingga terkadang membuat film ini sulit dipahami. Dari sisi sinematografi, film ini dari awal hingga akhir menggunakan teknik handheld yang membuat kami merasa agak kurang nyaman meskipun itu menambah dari sisi realistisnya. Banyak juga adegan yang terlihat tidak sinambung sehingga agak membuat bingung kami sebagai penonton.

Aspek Positif yang Dapat Dipetik Film

Film Nyanyi Sunyi Dalam Rantang menghadirkan berbagai aspek positif, seperti kemanusiaan di sekitar kita, moral yang begitu kabur, kekuasaan yang menjatuhkan orang-orang atau kelompok yang rentan. Sosok Puspa dalam film ini seperti saksi yang melihat berbagai ketidakadilan dari hukum yang ada. Hukum dan kemanusiaan yang ada terlihat seperti hal yang tidak berjalan bersama. Film ini mengajak kita untuk selalu mengkritik hukum yang ada, karena pasti ada suatu kelompok yang memanfaatkan sistem ini untuk keuntungannya sendiri. Pertimbangan hukum harus sejalan dengan empati yang kita miliki sebagai manusia, karena hukum dimaksudkan untuk manusia. Jika hukum malah menjatuhkan rakyat kecil, apa gunanya hukum. Selain mengkritik tumpulnya sistem hukum yang ada, film ini menyuruh kita untuk bersuara kepada kelompok yang terabaikan, yang tidak memiliki kuasa apapun. Sebuah ironi dimana negara demokrasi yang seharusnya rakyat lebih memiliki kuasa, malah sebaliknya. Tanggung jawab moral dan keadilan sosial harus diterapkan selalu sehingga kita bisa dibilang manusia yang memiliki kemanusiaan yang benar. Penerapan metafora di berbagai adegan dapat dikatakan memberi aspek positif juga karena membuat penonton berpikir apa maksud dari adegan ini. Hal ini membuat kita menyadari bahwa cerita yang ada memang terlihat sederhana namun itu tidak dangkal. Film ini membuat kita sebagai penonton untuk berani mengkritik apa yang salah dalam hukum atau sistem yang ada untuk mencapai keadilan yang seharusnya ada dan dapat melindungi apa yang seharusnya dilindungi.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *