Proses Penerimaan Siswa Baru Sekolah Rakyat
Proses penerimaan siswa baru di Sekolah Rakyat (SR) di seluruh Indonesia segera dimulai. Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa proses seleksi siswa tidak dilakukan melalui pendaftaran. Hal ini disampaikan oleh Gus Ipul saat memberikan arahan kepada seluruh kepala sekolah, guru, dan wali asuh SR secara daring.
Gus Ipul menekankan bahwa penerimaan siswa baru SR dilakukan melalui penjangkauan berbasis data. Ia menjelaskan bahwa pendekatan penjangkauan ini dilakukan secara aktif dengan mendatangi langsung calon siswa dan keluarginya. Data siswa mengacu pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Penjangkauan nantinya dilakukan secara kolaboratif, baik oleh pendamping Kemensos bersama Dinas Sosial, unsur pendidikan, serta Badan Pusat Statistik (BPS).
Petugas akan turun langsung ke lapangan untuk memverifikasi kondisi keluarga, memastikan persetujuan orang tua, sekaligus memastikan calon siswa memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Pendekatan ini dinilai mampu menjawab berbagai kendala yang selama ini dihadapi masyarakat, mulai dari keterbatasan ekonomi, minimnya informasi, hingga keraguan untuk mengakses layanan pendidikan.
Gus Ipul menjelaskan bahwa sasaran utama dari program ini adalah keluarga paling tidak mampu. Anak-anak yang belum sekolah, tidak sekolah, putus sekolah, atau berpotensi putus sekolah menjadi fokus utama. Selain itu, ia mengingatkan bahwa rekrutmen merupakan titik paling krusial dalam keberhasilan Sekolah Rakyat. Ia mewanti-wanti potensi penyimpangan seperti manipulasi data hingga intervensi pihak luar.
“Tidak perlu titip-titip, tidak perlu menyodor-nyodorkan nama, tidak boleh di antara kita melakukan KKN. Menteri Sosial tidak bisa titip, juga Bupati tidak bisa titip, Camat, Lurah tidak bisa titip,” tegasnya.
Pentingnya Lingkungan Sekolah yang Aman
Selain aspek rekrutmen, Gus Ipul turut menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan. Ia menegaskan sanksi tegas akan diberikan bagi pelaku pelanggaran. Dalam konteks pembinaan siswa, Gus Ipul meminta peran aktif wali asuh dan tenaga pendidik untuk melakukan pendampingan intensif, termasuk deteksi dini terhadap potensi masalah perilaku. Dia menekankan, anak dengan perilaku menyimpang harus segera direhabilitasi.
Ruang Usulan Berbasis Temuan Lapangan
Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, Mohammad Nuh mengungkapkan bahwa pihaknya akan membuka ruang usulan berbasis temuan lapangan untuk melengkapi data resmi. Dengan begitu, apabila ada anak-anak dari keluarga miskin yang tidak sekolah bisa didaftarkan. “Kalau panjenengan bisa melihat secara langsung dan menurut kriteria orang ini layak, maka itu bisa juga diusulkan melewati tim,” ungkapnya.
Masa Transisi dan Target Pembangunan
Tenaga Ahli Menteri, Andi menambahkan bahwa saat ini pemerintah juga menyiapkan masa transisi dari sekolah rintisan ke sekolah permanen. Targetnya adalah pembangunan SR permanen tahap dua sejumlah 100 titik rampung pada 20 Juni 2026. “Sehingga awal Juli kita sudah bisa moving ke sekolah permanen,” ucapnya.












