Keluhan Pedagang Lokal Terhadap Peredaran Daging Sapi dari Luar Daerah di Pasar Legi Jombang
Pedagang dan jagal lokal di Pasar Legi Jombang mengeluhkan maraknya daging sapi yang berasal dari luar daerah, terutama dari Krian, Sidoarjo. Mereka menilai bahwa masuknya pasokan daging dari wilayah lain memicu persaingan harga yang tidak seimbang dan berdampak pada penurunan pendapatan mereka.
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Jombang, Moch. Saleh, menyatakan pihaknya akan menampung aspirasi para pedagang dan melakukan evaluasi terkait kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa kewenangan Dinas Peternakan lebih fokus pada aspek teknis seperti penyembelihan hewan dan pengawasan kesehatan daging, sementara mekanisme jual beli di pasar bukan menjadi ranah langsung instansinya.
“Semuanya akan kami tampung terlebih dahulu. Aspirasi dari para pedagang tentu menjadi perhatian kami,” ujar Saleh saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler.
Ia menegaskan bahwa jika ada daging yang masuk ke Jombang, maka harus dipastikan perizinannya, proses peredarannya, identitas, serta kondisi kesehatannya sesuai ketentuan. Selain itu, ia menambahkan bahwa persoalan ini juga beririsan dengan aspek keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sehingga memerlukan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan aparat penegak hukum.
Dinas Peternakan, lanjut Saleh, berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap laporan yang masuk dari masyarakat. Hasil evaluasi tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan koordinasi dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait.
Dampak Harga yang Tidak Seimbang
Sejumlah pedagang daging sapi di Pasar Legi Jombang menyuarakan keberatan atas masuknya daging dari luar daerah yang dijual langsung ke pasar setempat. Mereka menilai kondisi tersebut memicu persaingan harga yang tidak seimbang dan berdampak pada penurunan pendapatan pedagang lokal.
Ulfa (51) dan Ira (43), dua pedagang daging di Pasar Legi, mengungkapkan bahwa pasokan daging dari luar wilayah Rumah Potong Hewan (RPH) Jombang sudah berlangsung sekitar dua tahun terakhir. Daging tersebut diketahui berasal dari Krian dan jumlah pedagangnya terus bertambah.
“Dulu hanya satu orang membawa dengan motor, sekarang sudah tiga orang dan menggunakan mobil pick-up. Satu mobil bisa mengangkut berapa ekor sapi, tentu jumlahnya tidak sedikit,” ucap Ulfa.
Menurutnya, para pendatang itu merupakan pedagang berstatus jagal atau grosir yang langsung menjual daging secara eceran di kawasan Pasar Legi. Karena mengambil daging langsung dari sumber pemotongan, mereka dapat menawarkan harga lebih rendah dibandingkan pedagang lokal yang membeli dari pemasok.
Pedagang setempat biasanya mendapatkan harga patokan sekitar Rp 100 ribu per kilogram dari jeragan. Sementara itu, pedagang dari luar daerah berani menjual di bawah harga tersebut. Kondisi tersebut membuat pedagang lokal kesulitan bersaing.
“Kami kalah harga. Pembeli lebih dulu ke mereka. Kalau daging mereka belum habis, dagangan kami tidak tersentuh,” keluh Ira.
Keresahan Jagal Lokal
Jagal Lokal Desak Penertiban Daging dari Luar Daerah
Peredaran daging sapi yang diduga berasal dari luar wilayah Kabupaten Jombang memicu keresahan di kalangan jagal dan pedagang lokal. Kondisi ini terutama terjadi di Pasar Legi Jombang, yang menjadi salah satu pusat perdagangan daging di kota tersebut.
Ketua Jagal Jombang, Yono, menyampaikan keberatannya atas masuknya daging dari luar daerah yang dijual dengan harga lebih rendah dibandingkan daging hasil pemotongan di Rumah Potong Hewan (RPH) Jombang. Menurutnya, selisih harga tersebut membuat pedagang lokal sulit bersaing.
Ia menjelaskan, harga daging dari RPH Jombang yang dijual kepada pengecer berada di kisaran Rp100 ribu per kilogram. Sementara itu, daging yang didatangkan dari luar daerah ditawarkan dengan harga antara Rp92 ribu hingga Rp95 ribu per kilogram. Perbedaan ini dinilai berdampak langsung pada penurunan harga pasar secara keseluruhan.
Tak hanya soal harga, Yono juga menyoroti peningkatan volume pengiriman daging dari luar daerah. “Jika sebelumnya distribusi hanya dilakukan dalam jumlah kecil menggunakan sepeda motor, kini pengiriman disebut mencapai tiga unit kendaraan pikap dalam sekali masuk ke wilayah Jombang,” ungkap Yono.
Menurutnya, daging yang beredar tersebut tidak dipotong di RPH Jombang sehingga tidak memberikan kontribusi pendapatan bagi daerah. Ia juga mengaku selama beberapa tahun terakhir rutin menyetorkan kontribusi kepada pemerintah daerah melalui aktivitas pemotongan di RPH, dengan nilai mencapai sekitar Rp10 juta setiap bulan.
“Saya setiap bulan itu setor Rp10 juta setiap bulan,” bebernya.
Yono berharap instansi terkait segera mengambil langkah pengawasan dan penertiban untuk memastikan peredaran daging di pasar berjalan sesuai ketentuan. “Pengawasan sangat diperlukan agar persaingan usaha tetap sehat dan pelaku usaha lokal tidak dirugikan,” pungkas Yono.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”










