Fakta Mengerikan tentang Korban Penipuan Kerja di Luar Negeri
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Selatan, Waydinsyah, mengungkapkan fakta mengerikan terkait warga Palembang yang menjadi korban penipuan kerja. Salah satu warga yang berhasil dipulangkan mengaku nyaris menjadi korban perdagangan organ tubuh.
Tawaran Pekerjaan yang Menipu
Korban dijanjikan pekerjaan sebagai pegawai restoran di Malaysia atau driver di Thailand. Namun, ternyata tawaran tersebut hanya tipuan untuk mengelabui para calon pekerja migran. Salah satu warga Palembang nyaris menjadi korban perdagangan organ tubuh di Negara Kamboja.
Warga Palembang tersebut berhasil dipulangkan pada tahun 2025 lalu berkat memanfaatkan kelengahan pelaku jaringan penjualan organ yang tertidur lelap di malam hari.
“Di Kamboja ini memang ada dua tawaran pertama kerja di judi online atau memang betul-betul untuk diambil organnya,” ujar Waydinsyah dikutip dari YouTube Tribunsumsel, Sabtu (21/2/2026).
Proses Rekrutmen dan Perjalanan
Awalnya, warga Palembang tersebut berangkat ke Kamboja dengan tawaran bekerja sebagai sopir di Negara Thailand. Bersama lima orang yang berasal dari berbagai kota di Indonesia, mereka kemudian berangkat.
Proses tawaran kerja hingga rekrutmen semuanya dilakukan lewat telepon. “Kita kemarin sudah pulangkan satu orang warga Bukit Palembang. Dia punya satu teman dari Babel, mereka bertemu di Palembang dan melakukan perjalanan ke Batam. Di situ mereka bertemu lagi dengan 4 orang Medan, jadi 6 orang ini dikendalikan lewat telepon. Semua tiket dan hotel lewat telepon, gak ketemu sama yang merekrut, mereka melakukan perjalanan itu dipandu hingga sampai di Thailand dan lanjut ke Kamboja,” jelas Waydinsyah.
Selama perjalanan, mereka terus dipandu melalui sambungan telepon mulai dari rute, kendaraan hingga hotel telah ditentukan dan diarahkan. Kemudian perjalanan berlanjut ke perbatasan Thailand-Kamboja. Mereka dibawa melewati hutan tepatnya ‘jalan tikus’ untuk menghindari pemeriksaan petugas keamanan perbatasan.
“Karena kalau mereka lewat jalur resmi pasti diketahui sama polisi di sana. Makanya mereka naik mobil menuju ke hutan melintasi jalan tikus agar tidak ada petugas,” ujarnya.
Pengalaman Buruk di Kamboja
Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Di situ, barulah 6 WNI tersebut mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Mereka diborgol lalu diberi makan sedikit agar tidak punya upaya untuk kabur.
“Ada dipukul-pukuli, dibentak, yang bawanya juga mabuk,” ujarnya.
Dalam perjalanan itu, tubuh mereka kemudian diperiksa. Barulah warga Palembang tersebut menyadari dirinya bukan akan diberi pekerjaan melainkan akan menjadi korban penjualan organ manusia.
“Di sana dikatakan organnya bagus semua, katanya nilainya bisa capai ratusan juta. Akhirnya orang Palembang ini langsung ngeh, oh berarti saya ini mau dijual organ. Padahal awalnya mereka ditawari untuk menjadi driver di Thailand,” ujarnya.
Kesempatan untuk Kabur
Kata Waydinsyah, warga Palembang ini bisa selamat dengan memanfaatkan penjaganya yang tertidur lelap di malam ini. “Dia izin salat malam. Setelah selesai, dia melihat penjaganya malah tertidur. Di situ dia bergegas memanfaatkan kesempatan untuk kabur.”
“Ada niat mengajak temannya juga, tapi dia lihat temannya juga tertidur dan badannya tertindih petugas jual organ itu. Takut ketahuan, terpaksa orang Palembang ini lari seorang diri melintasi hutan sampai akhirnya bertemu warga Malaysia yang tinggal di sana. Karena berbahasa melayu, jadi mereka tidak kesulitan berkomunikasi,” jelasnya.
Selanjutnya warga Palembang tersebut dibawa ke kantor pemerintahan setempat untuk segera diberi perlindungan. “Dia dibawa ke semacam kantor kelurahan di sana dan diberi perlindungan. Kemudian kami dihubungi dan proses pemulangan pun dilakukan. Alhamdulillah dia sudah berhasil dipulangkan,” ujarnya.
Tingginya Minat Bekerja di Luar Negeri
Kata Waydinsyah, saat ini masih tinggi minat masyarakat untuk bekerja di luar negeri. Baru 2 bulan tahun 2026 berjalan, BP3MI Sumsel sudah memulangkan puluhan warga terlantar di luar negeri.
“Dari Sumsel kini sudah pulangkan 53 orang,” jelasnya.
15 Warga Palembang Viral Terlantar di Kamboja
Baru-baru ini 15 pemuda asal Kota Palembang mengunggah video mengaku terlantar di Kamboja setelah tertipu iming-iming pekerjaan. Terkait kabar 15 warga Palembang itu, Waydinsyah memastikan semuanya dalam keadaan aman.
“Saya pastikan kalau 15 orang ini melalui komunikasi kita, mereka dalam keadaan aman dan bisa berkontak dengan kami kapan pun,” jelas Waydinsyah.
Namun, 15 orang ini belum bisa dipulangkan karena terkendala di dokumen. “Dan mereka diberikan makan, cuma mereka saat ini terkendala oleh dokumen,” jelasnya.
Menurutnya, warga Sumsel tersebut berada di penampungan milik Indonesia, sambil menunggu dokumen perjalanan. Sebab, sebagian dari mereka tidak lagi memegang paspor karena disita perusahaan.
Untuk bisa pulang, mereka harus memiliki dokumen pengganti berupa Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) serta izin keluar (exit permit) dari otoritas setempat. Proses tersebut ditangani oleh Kementerian Luar Negeri melalui perwakilan RI di Kamboja, termasuk pengurusan keimigrasian.
Adapun saat ini, yang berhasil dipulangkan di tahun 2026 sebanyak 53 orang. “Dari Sumsel kini sudah pulangkan 53 orang dari Kamboja,” jelasnya.
Video Viral di Media Sosial
Sebelumnya, beredar di media sosial, video yang memperlihatkan sejumlah orang yang mengakui berasal dari Palembang dan terlantar di negara Kamboja, diduga menjadi korban penipuan berkedok tawaran kerja. Dalam video mereka secara langsung menyampaikan permohonan bantuan kepada Gubernur Sumsel dan Walikota Palembang, untuk dapat memproses pemulangannya ke tanah air.
Saat ini, mereka dikabarkan berada di penampungan kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) Kamboja sambil ada tindak lanjut dari pemerintah Indonesia.
Gubernur Sumsel Turun Tangan
Gubernur Sumsel Herman Deru sudah berkomunikasi langsung dengan 15 pemuda asal Palembang yang kini terlantar di Negara Kamboja. Saat ini, belasan pemuda tersebut dilaporkan telah berada di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh.
Pemprov Sumsel memastikan proses pemulangan ke Indonesia segera dilakukan. “Sudah kita urus, baru tersambung teleponnya. Nanti kita pulangkan ke sini,” kata Herman Deru, Rabu (18/2/2026) malam.
Deru juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur janji pekerjaan di luar negeri tanpa melalui prosedur resmi. Ia menegaskan pentingnya memastikan proses keberangkatan kerja dilakukan melalui jalur yang sah guna menghindari risiko penipuan dan perdagangan orang.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












