Kecelakaan Maut di Sungai Yamuna, 10 Orang Tewas Akibat Kapal Menabrak Jembatan
Kecelakaan maut terjadi di Sungai Yamuna, Mathura, Uttar Pradesh, India, pada Jumat (10/4/2026). Sebuah kapal motor yang membawa rombongan peziarah mengalami kecelakaan setelah menabrak struktur jembatan ponton dan terbalik akibat arus sungai yang deras. Setidaknya 10 orang tewas dalam peristiwa ini, sementara sejumlah lainnya masih dalam pencarian.
Otoritas keamanan dan tim penyelamat langsung dikerahkan ke lokasi kejadian di sekitar Kesi Ghat. Fokus utama saat ini adalah mengevakuasi korban selamat, mencari penumpang yang hilang, serta mengidentifikasi jenazah yang telah ditemukan.
Kapal Kelebihan Muatan dan Tabrak Jembatan
Insiden bermula saat rombongan peziarah dari Ludhiana dan Muktsar, Punjab, tiba di kota suci Vrindavan. Sekitar pukul 15.15 waktu setempat, sebagian dari rombongan memilih menaiki kapal motor untuk menyeberangi Sungai Yamuna menuju kuil di seberang.
Kapal tersebut diduga kelebihan muatan karena mengangkut antara 25 hingga 32 penumpang, melebihi kapasitas aman. Saat berada di tengah sungai antara Banshi Vat dan Kesi Ghat, cuaca memburuk. Angin kencang membuat kapal kehilangan keseimbangan. Dari kesaksian warga, kapal bergoyang hebat dan melaju tanpa kendali hingga menabrak jembatan ponton yang sedang dalam perbaikan.
Benturan keras dengan drum baja jembatan langsung membalikkan kapal, melempar seluruh penumpang ke sungai yang memiliki arus bawah kuat. Penyelidikan awal mengindikasikan operator kapal salah memperkirakan jarak aman, diperparah dengan ketiadaan jaket pelampung.
“Menurut laporan saksi, kapal langsung terbalik setelah menabrak struktur jembatan. Sejauh ini, 10 jenazah sudah ditemukan, dan kami terus menyisir sungai untuk mencari korban lainnya,” kata Wakil Inspektur Jenderal Polisi (DIG) Wilayah Agra, Shailesh Kumar Pandey.
Debit air Sungai Yamuna kerap berfluktuasi pada bulan April, yang memaksa pemerintah setempat membongkar sebagian jembatan ponton sementara. Sisa drum jembatan tersebut diduga menjadi bahaya bagi kapal kecil tanpa alat navigasi memadai.
Warga dan Tim SAR Bahu-Membahu Selamatkan Korban
Kepanikan terjadi di sekitar Kesi Ghat sesaat setelah insiden. Warga dan penyelam lokal segera melompat ke sungai dan berhasil menyelamatkan sekitar 15 orang sebelum tim profesional tiba.
Operasi penyelamatan kemudian diambil alih oleh tim gabungan yang terdiri dari Pemadam Kebakaran, Kepolisian Mathura, pasukan National Disaster Response Force (NDRF), dan State Disaster Response Force (SDRF). Pihak militer juga dilibatkan dalam pencarian malam hari menggunakan lampu sorot.
“Sebanyak 22 orang berhasil diselamatkan dan langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Bersama Vrindavan dan Rumah Sakit Ram Krishna menggunakan ambulans serta mobil reaksi cepat polisi,” kata Pejabat Kepolisian Senior, Suresh Chandra Rawat.
Kesepuluh korban tewas terdiri dari lima laki-laki dan lima perempuan, mayoritas merupakan warga Ludhiana, Punjab. Operasi ini melibatkan lebih dari 120 penyelam yang menyisir sungai sepanjang 14 kilometer. Tim penyelam laut dalam dari NDRF turut dikerahkan untuk menembus dasar Sungai Yamuna yang berlumpur.
Menurut kepolisian, bangkai kapal berhasil diangkat setelah ditarik selama empat jam, dan dipastikan tidak ada lagi jenazah yang terjebak di bawahnya.
Janji Santunan bagi Korban
Penyelidikan awal menunjukkan kurangnya rambu peringatan dan pengawasan di area pembongkaran jembatan sebagai celah keamanan yang fatal.
Merespons tragedi ini, Perdana Menteri Narendra Modi dan Kepala Menteri Uttar Pradesh Yogi Adityanath menyampaikan belasungkawa. Pemerintah pusat mengumumkan santunan sebesar 200 ribu rupee India (Rp36,71 juta) dari Prime Minister’s National Relief Fund (PMNRF) untuk keluarga korban tewas, dan 50 ribu rupee India (Rp9,17 juta) untuk korban luka. Posko informasi juga telah dibuka di Ludhiana dan Jagraon.
Insiden ini memicu kritik terkait standar keamanan transportasi air di India, khususnya di wilayah ziarah. Otoritas maritim berjanji akan merombak aturan, termasuk mewajibkan pemakaian jaket pelampung dan membatasi jumlah penumpang.
“Prioritas kami adalah keselamatan para peziarah. Kami akan menyelidiki insiden ini secara mendalam, menindak tegas pihak yang bertanggung jawab, dan menjadikan ini peringatan keras untuk memperketat aturan di perairan,” tutup Pandey.












