Pemkot Surabaya Memperluas Beasiswa Pemuda Tangguh ke PTS
Pemerintah Kota Surabaya kini memperluas cakupan program Beasiswa Pemuda Tangguh hingga ke jenjang perguruan tinggi swasta (PTS). Dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dengan 8 perguruan tinggi negeri (PTN) dan 24 perguruan tinggi swasta di Surabaya, program ini menjadi langkah penting dalam memastikan tidak ada anak Surabaya yang putus kuliah karena keterbatasan biaya.
Beasiswa ini ditujukan bagi mahasiswa kurang mampu ber-KTP Surabaya agar tetap bisa melanjutkan studi hingga lulus. Bantuan pendidikan termasuk uang kuliah tunggal (UKT) akan diberikan kepada penerima beasiswa. Skema pembiayaan diatur bersama antara Pemkot dan kampus, dengan prinsip gotong royong serta penyesuaian bagi mahasiswa yang terkendala kondisi ekonomi.
Langkah Konkret untuk Akses Pendidikan Tinggi
Eri Cahyadi menyampaikan bahwa perluasan program ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah dan institusi pendidikan. “Jangan fokus pada angka. Fokusnya adalah bagaimana anak-anak ini bisa terus kuliah,” ujarnya. Ia menekankan bahwa para mahasiswa dari keluarga prasejahtera harus bisa terus berkuliah hingga lulus, dengan solusi yang dicari bersama lewat kampus, orang tua asuh, atau skema lainnya.
Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Universitas Airlangga (Unair) ini menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak mungkin dikerjakan pemerintah sendiri, melainkan harus dengan semangat gotong royong. Selain itu, ia menyebut bahwa kampus-kampus memberikan kelonggaran melalui mekanisme keberatan dan penyesuaian biaya bagi mahasiswa yang tidak mampu.
Keuntungan Bagi Mahasiswa PTS
Program beasiswa ini juga menjadi terobosan progresif yang disambut positif oleh Ketua Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP-PTSI) Jawa Timur, Budi Endarto. Menurutnya, kebijakan ini diperkuat dasar hukum Perwali Nomor 4 Tahun 2026 yang mengatur redistribusi bantuan pendidikan, tidak hanya untuk mahasiswa PTN, tetapi juga PTS.
Budi menjelaskan bahwa sekitar 27 perguruan tinggi swasta yang tertarik untuk tergabung, dan jumlahnya terus bertambah. Dari estimasi awal, sekitar 18 ribu mahasiswa Surabaya berpotensi menerima manfaat secara bertahap. Surabaya menjadi pemerintah kota pertama di Indonesia yang menjalankan skema kolaboratif semacam ini.
Harapan untuk Generasi Emas 2045
Dengan MoU tersebut, Pemkot berharap cita-cita melahirkan generasi emas 2045 bisa terwujud melalui akses pendidikan tinggi yang lebih merata. Eri pun berpesan kepada mahasiswa penerima beasiswa agar memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin. “Tunjukkan kalian lulus sarjana dan mengubah nasib keluarga kalian dengan ilmu yang didapat,” ujarnya.
Selain itu, ia memotivasi para mahasiswa penerima bantuan untuk tetap memiliki kepedulian sosial. “Kalau kita mulai dengan kejujuran, insya Allah hidup kita juga jujur. Beasiswa ini untuk yang benar-benar membutuhkan dan mau berjuang mengangkat derajat keluarganya,” tegasnya.
Kolaborasi Antara Negeri dan Swasta
Eri menekankan bahwa pendidikan tidak bisa dilakukan sendiri, harus bersatu. Negeri dan swasta harus bergandengan tangan. Ia juga berharap kebijakan ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain seperti Malang, Jember, Madiun, hingga Madura.
Dengan adanya beasiswa ini, harapan besar diarahkan untuk menciptakan generasi muda yang tangguh dan mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah. Semua pihak, termasuk kampus dan pemerintah, berkomitmen untuk memastikan program berjalan tepat sasaran dan memberikan manfaat maksimal bagi mahasiswa Surabaya.












