Indonesia – Jakarta.
Kemampuan daya beli masyarakat yang menurun secara signifikan memengaruhi kinerja pertumbuhan kredit konsumsi, bahkan ketika tekanan global belum terlalu besar. Momentum Ramadan pun tidak cukup untuk meningkatkan kinerja kredit konsumer.
Data sementara dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit secara keseluruhan melambat menjadi 8,9% secara tahunan dari sebelumnya 10,2% yoy. Dalam periode yang sama, pertumbuhan kredit konsumsi juga melambat menjadi 6,3% yoy dari 7,2% yoy. Secara detail, kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit multiguna melambat masing-masing menjadi 5% yoy dari 5,5% yoy dan 8,7% yoy dari 9,9% yoy. Sementara itu, kredit kendaraan bermotor (KKB) turun lebih dalam menjadi 7,9% yoy dari 6,7% yoy.
Yang menarik adalah perlambatan ini terjadi pada momentum Ramadan yang sebelumnya diharapkan bisa mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Pada Februari lalu, situasi geopolitik belum sepenuhnya memburuk karena perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran baru meletus di akhir bulan tersebut.
Menurut Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi, fenomena ini menjadi tanda kuat anjloknya daya beli masyarakat. Secara fundamental, Rahma menjelaskan bahwa kondisi ini disebabkan oleh kombinasi tekanan biaya hidup yang semakin berat dan sulitnya penciptaan lapangan kerja baru.
Secara teoretis, Rahma mengatakan bahwa pertumbuhan kredit konsumsi yang melambat saat permintaan seharusnya meningkat menunjukkan bahwa masyarakat memang sedang menahan diri.
“Mungkin saja bantalan ekonomi sudah hilang. Jadi, konsumsi dilakukan dengan lebih hati-hati,” jelas Rahma.
Rahma melihat bahwa kondisi daya beli masyarakat saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor domestik, karena kondisi fundamental ekonomi Indonesia sedang rapuh. Menurutnya, jika tekanan inflasi energi dan ketidakpastian global masih ada hingga semester II-2026, konsumsi berisiko mengalami perlambatan ke angka single digit.
“Pertumbuhan mungkin tidak akan sebesar tahun-tahun sebelumnya karena perbankan lebih memprioritaskan manajemen risiko dibandingkan ekspansi volume. Ketidakpastian juga semakin kuat, dan pemerintah sepertinya kurang antisipatif ketika negara lain sudah mempersiapkan mitigasinya,” tambah Rahma.
Bank andalkan uniqueness bisnis
Di Bank Syariah Indonesia (BSI), segmen konsumsi masih menjadi penggerak utama pembiayaan dengan porsi 72,5% dari total pembiayaan per Februari 2026. Dalam periode ini, pembiayaan bank tumbuh 14,32% yoy, melambat dari 15,26% yoy.
Meski begitu, Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menyatakan pihaknya tetap optimistis bahwa pembiayaan akan terus tumbuh seiring dengan stimulus pemerintah yang memberikan kelonggaran likuiditas bank.
Selain itu, Wisnu melihat kebijakan subsidi untuk meningkatkan daya beli masyarakat di sektor riil bisa menjadi katalis positif.
Seiring dengan ekspansi pembiayaan yang agresif, Wisnu menyatakan bahwa pihaknya akan menjaga keseimbangan dengan penerapan manajemen risiko yang terukur dan terintegrasi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan berkelanjutan di tengah pergerakan ekonomi yang menantang dan perkembangan industri keuangan syariah yang semakin diminati masyarakat.
“Pertumbuhan bisnis BSI yang sehat juga didukung oleh pengelolaan manajemen risiko yang tepat sesuai segmentasi bisnis dan nasabah. Tentunya dengan tetap menerapkan Good Corporate Governance (GCG), prudence, risk appetite, dan pemetaan bisnis yang tepat,” jelas Wisnu.
Bank Central Asia (BCA) juga mengalami tren serupa, dengan kredit konsumsi hanya tumbuh 0,2% yoy pada akhir tahun 2025. Meski begitu, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyebut pihaknya masih melihat berbagai katalis positif yang bisa mendorong kinerja lebih baik tahun ini.
Di antaranya yaitu prospek pertumbuhan ekonomi yang positif, yang bisa mendorong permintaan kredit di level masyarakat. Dengan kondisi likuiditas yang solid, bank optimistis dapat menyalurkan lebih baik.
Di samping itu, BCA juga mendorong pertumbuhan kredit konsumsi dengan menawarkan promo khusus dalam pameran.












