Bisnis  

Biaya dan Bunga Meningkat, Profitabilitas Medikaloka Hermina (HEAL) Tertekan



Pada tahun 2025, kinerja PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) menghadapi tantangan signifikan terkait profitabilitas. Hal ini disebabkan oleh kenaikan biaya operasional dan beban pembiayaan yang berdampak pada penurunan margin laba. Meskipun pendapatan perusahaan masih tumbuh sebesar 6,19% secara tahunan menjadi Rp 7,13 triliun, laba bersih HEAL turun menjadi Rp 430 miliar dari sebelumnya Rp 536 miliar.

Penurunan laba tersebut mencerminkan tekanan dari sisi biaya yang meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Margin laba bersih HEAL tercatat turun menjadi sekitar 6% pada 2025, turun dari 8% pada 2024. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Alif Ihsanario, menilai bahwa pelemahan profitabilitas ini dipengaruhi oleh kenaikan biaya operasional serta lonjakan beban pembiayaan. Beban bunga HEAL tercatat meningkat sekitar 33% secara tahunan, seiring kebutuhan pendanaan untuk ekspansi jaringan rumah sakit.

“Tekanan biaya yang meningkat dan kenaikan beban bunga menjadi faktor utama penurunan laba bersih,” tulis Alif dalam risetnya, 2 April 2026. Di sisi lain, ekspansi yang dilakukan perseroan dalam beberapa tahun terakhir turut menambah beban biaya tetap, sementara kontribusi terhadap laba belum sepenuhnya optimal. Hal ini tercermin dari penurunan margin operasional dan margin laba kotor sepanjang 2025.

Meski demikian, secara operasional, kinerja HEAL masih menunjukkan pertumbuhan. Pendapatan dari layanan rawat inap tercatat meningkat, didorong oleh kenaikan volume pasien dan intensitas layanan. Namun, peningkatan tersebut belum mampu mengimbangi tekanan biaya, sehingga pertumbuhan pendapatan belum berbanding lurus dengan laba.

Di tengah tekanan jangka pendek tersebut, prospek jangka menengah HEAL masih dinilai cukup terjaga. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Paulina Margareta, memproyeksikan HEAL dapat mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan EBITDA masing-masing dengan CAGR 9% dan 11% pada periode 2026–2028. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan volume layanan, dengan proyeksi kunjungan rawat jalan tumbuh 7% dan perawatan rawat inap naik 8%.

“Peningkatan margin laba kotor karena intensitas perawatan yang lebih tinggi dan peningkatan harga jual rata-rata (ASP) untuk perawatan rawat jalan dan rawat inap,” tulis Paulina dalam risetnya, Senin (30/3/2026). Maybank juga melihat adanya potensi efisiensi dari sisi operasional, seiring skala ekonomi yang lebih besar. Rasio beban penjualan, umum, dan administrasi (SG&A) terhadap pendapatan diproyeksikan menurun, meskipun kapasitas tempat tidur diperkirakan tetap bertumbuh dengan CAGR sekitar 6% dalam periode yang sama.

Namun demikian, tantangan dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi dan profitabilitas tetap menjadi perhatian. Upaya peningkatan kapasitas dan pertumbuhan volume perlu diimbangi dengan pengendalian biaya agar tidak kembali menekan margin ke depan. Meski profitabilitas saat ini tertekan, Alif merekomendasikan buy dengan target harga Rp 1.530 per saham dan Paulina juga memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.700 per saham.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *