Peninjauan Kementerian Perdagangan Cina terhadap Akuisisi Startup AI Singapura oleh Meta
Kementerian Perdagangan Tiongkok sedang meninjau akuisisi startup AI Singapura, Manus, oleh Meta, induk dari Instagram yang berbasis di Amerika Serikat. Penyelidikan ini dilakukan karena dugaan pelanggaran terhadap peraturan pengendalian ekspor. Investasi yang dilakukan oleh Meta terhadap Manus AI juga mendapat kritik dari parlemen AS, yang melarang investor Amerika untuk mendukung perusahaan AI Tiongkok secara langsung.
Manus AI didirikan oleh Beijing Butterfly Effect Technology di Tiongkok pada 2022. Perusahaan memindahkan kantor pusat dan tim intinya ke Singapura pada tahun lalu, dan saat ini dioperasikan oleh Butterfly Effect Pte. Meta mengakuisisi startup ini seharga US$ 2 miliar pada akhir tahun lalu.
Peninjauan yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan Tiongkok terkait dengan kekhawatiran tentang “menjual tanaman muda” kepada pembeli asing di bidang-bidang strategis seperti AI. Ada juga kekhawatiran bahwa dengan pindah dari Tiongkok ke Singapura, Manus mengabaikan peraturan domestik, yang dapat mendorong perusahaan lain untuk mengikuti jejaknya.
Belum ada penyelidikan formal yang dibuka dan belum ada dakwaan yang diajukan. Namun, Manus secara aktif mencari firma hukum dan konsultan untuk membantu menyelesaikan masalah ini, menurut sumber yang dikutip dari Financial Times akhir pekan lalu (25/3).
Tiongkok telah melarang dua pendiri Manus untuk meninggalkan negara itu. Tiga orang yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa Kepala Eksekutif Manus Xiao Hong dan Kepala Ilmuwan Ji Yichao dipanggil untuk menghadiri pertemuan di Beijing dengan Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional pada Maret. Mereka diinterogasi terkait potensi pelanggaran aturan investasi asing langsung yang berkaitan dengan entitas Tiongkok di dalam negeri.
Setelah pertemuan tersebut, para eksekutif yang berbasis di Singapura diberitahu bahwa mereka tidak diizinkan meninggalkan Tiongkok karena adanya peninjauan peraturan, meskipun mereka tetap bebas bepergian di dalam negeri, menurut dua sumber.
Menurut sumber yang mengetahui kasus tersebut, dugaan pelanggaran aturan investasi Tiongkok yang dilakukan oleh Manus terkait dengan aturan pelaporan setelah kepemilikan berubah. Meskipun pelanggaran semacam itu, jika terkonfirmasi, kecil kemungkinannya akan berujung pada hukuman berat menurut hukum Tiongkok. “Pihak berwenang tampaknya sedang mencari cara untuk campur tangan dalam kesepakatan itu,” demikian dikutip.
Salah satu sumber mengatakan bahwa skenario ekstrem adalah membatalkan transaksi. “Karena kesepakatan telah selesai dan Meta telah mulai mengintegrasikan perangkat lunak agen AI Manus ke dalam platformnya, penyelesaian seperti itu akan rumit,” kata sumber tersebut. Sumber itu menambahkan bahwa regulator Tiongkok belum memutuskan apakah akan mengambil langkah drastis seperti itu.
Juru bicara Meta menyatakan bahwa transaksi terhadap Manus AI sepenuhnya sesuai dengan hukum yang berlaku. “Kami mengantisipasi penyelesaian yang tepat untuk penyelidikan ini,” kata dia dikutip dari CNBC Internasional, Senin (30/3). Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Kedutaan Besar Tiongkok di Singapura, dan Manus belum memberikan jawaban.
Kekecemasan di Kalangan Startup Teknologi Tiongkok
Penyelidikan oleh pemerintah Tiongkok memicu kekhawatiran dan kebingungan di kalangan generasi pendiri perusahaan teknologi dan pemodal ventura Tiongkok yang diam-diam telah menganut model yang disebut ‘Singapore-washing’, yakni perusahaan-perusahaan pindah ke Singapura untuk menghindari pengawasan dari Beijing dan Washington.
Namun penyelidikan oleh regulator Tiongkok kali ini memaksa startup dan modal ventura untuk menghitung ulang langkah mereka. “Orang-orang tidak akan lagi menempuh jalan itu (yang ditempuh Manus),” kata Managing Partner Argo Venture Partners Wayne Shiong, investor tahap awal di bidang AI yang berbasis di Silicon Valley, dikutip dari CNBC Internasional.
Menurut Shiong, semakin banyak pendiri perusahaan yang kini berupaya memulai bisnis di luar Tiongkok sejak ‘hari pertama’, sebelum melakukan riset dan pengembangan yang berarti daripada melakukan perubahan struktural di tengah pertumbuhan. “Para pendiri yang mengincar ekspansi global dan valuasi yang lebih tinggi tetap akan melihat keuntungan memiliki pendukung di AS,” Shiong menambahkan. Valuasi untuk startup AI Tiongkok cenderung jauh lebih rendah daripada perusahaan sejenis di AS.
Kesepakatan Manus terjadi ketika persaingan AS-Cina di bidang AI semakin intensif. Persaingan ini semakin ditentukan bukan hanya oleh akses ke chip canggih, tetapi juga oleh arus talenta dan teknologi.
Di antara area abu-abu yang belum terjawab, yakni apakah pengalihan pekerjaan ke tim yang berbasis di Tiongkok merupakan pelanggaran ekspor teknologi. Pengalihan pekerjaan telah umum dilakukan di kalangan pendiri perusahaan teknologi Tiongkok di luar negeri, dengan berbagai keuntungan termasuk penghematan biaya dan memanfaatkan sumber daya talenta teknis yang melimpah dan terjangkau di negara tersebut.
Regulator dunia maya Tiongkok telah berupaya keras untuk mengatur bidang yang berkembang pesat ini dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kesulitan untuk mengimbangi teknologi yang berkembang lebih cepat daripada aturan yang dirancang untuk mengaturnya.
“Terkadang kejelasan baru muncul ketika suatu kasus menjadi cukup menonjol untuk menarik perhatian pemerintah,” kata salah satu pendiri Cognitio Labs, perusahaan rintisan AI yang berbasis di Singapura, Allen Wang. Pendiri asal Tiongkok ini memulai perusahaan awal tahun ini di Singapura setelah tinggal selama lebih dari 10 tahun.
Ketika ditanya apakah outsourcing ke Tiongkok akan menjadi pilihan bagi perusahaannya, Wang menjawab dengan lugas: “Anda tidak akan pernah tahu sampai Anda cukup besar.”












