Bisnis  

Baznas Tarakan Kumpulkan Rp 1,8 Miliar untuk 11.000 Mustahik, dari Pasukan Kuning hingga Veteran

Penyaluran Zakat di Kota Tarakan Capai Rp1,8 Miliar

Baznas Kota Tarakan telah berhasil mengumpulkan zakat hingga H-1 Lebaran sebesar Rp1,8 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai sekitar Rp1,2 miliar. Dalam pemaparan Pelaksana Harian Baznas Tarakan, H. Syamsi Sarman, jumlah zakat yang terkumpul masih akan terus bertambah karena kontribusi dari masjid-masjid belum sepenuhnya masuk.

“Ini masih dari outlet-outlet di pinggir jalan. Masjid belum masuk. Mudah-mudahan bisa tembus di atas Rp2 miliar, bahkan target kita Rp3,5 miliar,” ujarnya.

Pengumpulan zakat sendiri masih dibuka hingga Jumat malam, dengan pelayanan di outlet hingga pukul 24.00 Wita, sementara di kantor berlangsung hingga dini hari. Baznas Tarakan juga menyiapkan 25 outlet untuk memaksimalkan penerimaan zakat selama Ramadan 1447 Hijriah.

Data Mustahik dan Proses Pendistribusian

Dikemukakan oleh Syamsi Sarman, tercatat ada sekitar 11.000 mustahik yang didata Baznas Tarakan untuk menerima penyaluran zakat tahun ini. Jumlah ini naik dari tahun 2025 yang hanya mencapai 10.500 jiwa. Angka 11 ribu jiwa tersebut tersebar di 20 kelurahan.

Proses pendistribusian zakat Ramadan tetap menggunakan pola yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni melalui masjid-masjid. “Distribusinya lewat masjid. Dari Baznas ke masjid, kemudian masjid yang menyalurkan ke mustahik. Tidak langsung dari kami ke penerima,” kata Syamsi Sarman.

Ia berharap dengan dukungan masyarakat dan meningkatnya kesadaran berzakat, capaian Ramadan tahun ini bisa kembali memenuhi target, sekaligus mendongkrak realisasi target tahunan yang lebih besar.

Kategori Penerima Zakat

Adapun data yang diusulkan akan diverifikasi oleh Baznas Tarakan. Jika datanya masih sama dengan tahun lalu, tidak begitu sulit. Untuk data mustahik baru akan disurvei ulang agar penyaluran zakat tepat sasaran.

Tiga kategori utama penerima zakat adalah fakir, miskin, kualaf, dan fisabilillah. “Jadi kalau mualaf itu, mualaf-mualaf yang masih baru, yang di bawah dua tahun. Kemudian kalau fisabilillah lebih kepada guru ngaji di masjid, tukang pungut sampah, petugas kebersihan itu sebetulnya sudah masuk juga di data fakir miskin,” jelasnya.

Baznas Tarakan juga menyandingkan data supaya tidak terjadi double. Selain itu, yang rutin adalah dibagikan ke lembaga veteran. “Dari lembaga veteran setiap tahun mengajukan nama-nama yang berhak menerima zakat, kami percayakan surveinya kepada lembaga itu. Kecuali ada penambahan baru kami lakukan survei ulang,” tukasnya.

Target Penghimpunan Zakat

Syamsi Sarman melanjutkan, penerimaan zakat Ramadan pihaknya optimistis target penghimpunan zakat Ramadan tahun ini sebesar Rp3,5 miliar bisa tercapai. “Biasanya memang di awal belum terlalu kelihatan. Kan tanggal satu itu baru habis gajian. Hari ini, besok-besok sudah mulai ramai,” ujarnya.

Untuk memaksimalkan penghimpunan, Baznas Tarakan telah menyebar sebanyak 21 outlet penerimaan zakat di berbagai titik strategis, termasuk di arena festival Ramadan. “Ada 21 outlet yang sudah kita sebar seperti biasa, termasuk yang ada di arena festival,” jelasnya.

Target zakat sebesar Rp3,5 miliar tersebut khusus untuk periode Ramadan saja. Sementara target penghimpunan zakat secara keseluruhan selama satu tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp11 miliar. “Khusus Ramadan target kita Rp3,5 miliar. Kalau satu tahun, kami ditarget Rp11 miliar,” katanya.

Perbandingan Target Tahun Lalu

Target Ramadan tersebut sama seperti tahun sebelumnya. Pada Ramadan 1445 H lalu, Baznas Tarakan juga menargetkan Rp3,5 miliar dan berhasil mencapainya. “Tahun lalu targetnya Rp3,5 miliar dan tercapai. Jadi mudah-mudahan kita ulangi saja. Saya tidak berani menambah,” ujarnya.

Namun untuk target tahunan, capaian 2025 lalu belum sepenuhnya memenuhi sasaran. Dari target Rp10,5 miliar, realisasi penghimpunan zakat hanya sekitar Rp9 miliar. “Target umum satu tahun kemarin Rp10,5 miliar, tapi tidak sampai Rp10 miliar. Hanya sekitar Rp9 miliar, jadi kurang sekitar Rp1 miliar,” ungkapnya.

Meski demikian, target tahun ini justru mengalami kenaikan menjadi Rp11 miliar. Syamsi menjelaskan, penetapan target bukan ditentukan oleh Baznas daerah, melainkan oleh pusat berdasarkan sejumlah indikator, termasuk jumlah penduduk dan potensi zakat. “Yang menentukan bukan kami, tapi pusat. Dihitung berdasarkan kompetensi jumlah penduduk. Jadi kami harus mengikuti, tahun ini Rp11 miliar,” pungkasnya.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *