Bisnis  

Kasus Bisnis Gelap Getah Karet di PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate Memicu Perhatian Masyarakat

Perkebunan Karet di Simalungun Jadi Sorotan Akibat Bisnis Gelap

Keberadaan PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate (BSRE) di Dolok Merangir, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, menjadi perhatian serius masyarakat setempat. Perkebunan karet yang selama ini dikenal sebagai salah satu aset penting di wilayah Sumatera, kini diduga menjadi pusat bisnis ilegal yang merugikan perusahaan dan masyarakat sekitar.

Informasi yang beredar menyebutkan adanya penampungan getah karet yang diduga hasil pencurian dari berbagai daerah di Sumatera. Perputaran uangnya mencapai puluhan miliar rupiah per bulan. Bahkan, seorang bos maling getah disebut bisa meraup ratusan juta rupiah per hari. Jika jumlah bos maling lebih dari satu, angka tersebut melonjak drastis. Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar seribuan pencuri getah disebut terlibat dalam lingkaran narkoba.

Jaringan Gelap dari Getah ke Narkoba

Dalam kasus ini, nama-nama berinisial seperti B, H, dan IJL muncul dalam dugaan bisnis ilegal. Jalur masuk getah curian disebut melalui Delivery Order (DO) seseorang, yang diduga menyalurkan ratusan ton getah curian setiap hari ke pabrik PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate. Sosok B bahkan disebut sebagai pemasok narkoba yang memiliki kedekatan dengan oknum aparat dan politisi. Informasi yang beredar menyebut adanya setoran miliaran rupiah kepada oknum anggota DPR RI Komisi III sebagai mitra aparat penegak hukum (APH), serta jatah khusus kepada oknum petinggi Polres. Namun, hingga kini hal tersebut belum terkonfirmasi secara resmi.

Dugaan Kerja Sama dengan Oknum Security

Fenomena ini semakin kompleks dengan adanya dugaan kerja sama antara bos getah ilegal dengan oknum pengamanan di lapangan. Nama inisial IJL (Dolok Maraja) disebut-sebut memiliki kedekatan dengan oknum petinggi security berinisial JS serta bawahannya berinisial N. Dua wilayah operasi maling getah diduga dibagi dan dikomandoi oleh kasek berinisial J dan Y. Ironisnya, penangkapan maling getah disebut dilakukan berdasarkan “request” dari IJL kepada JS. Dugaan kuat muncul bahwa oknum security menerima setoran mingguan sekitar Rp 200 juta, ditambah Rp 10 juta jika menangkap maling getah di luar jaringan IJL.

Dampak Sosial: Kawasan Darurat Narkoba

Getah curian yang rata-rata mencapai 30–35 ton per hari menjadi sumber perputaran uang besar. Namun, dampak sosialnya jauh lebih mengkhawatirkan. Sekitar 70 persen pencuri getah diduga pemakai narkoba, menjadikan kawasan perkebunan dan sekitarnya rawan kriminalitas. IJL yang baru setahun menetap di Dolok Maraja disebut sudah memiliki rumah senilai hampir Rp 1 miliar, gudang penampungan, serta empat unit mobil mewah. Aktivitas penampungan getah yang diduga ilegal itu dilakukan pagi dan malam hari, membuat kawasan tersebut mirip pasar malam, dengan ratusan orang penjual datang silih berganti.

Keresahan Warga

Warga Kecamatan Tapian Dolok, seperti NSI (50) dan JN (38), mengaku resah dengan kehadiran gudang yang diduga sebagai penampungan getah ilegal tersebut. Mereka menilai praktik ini merugikan perusahaan, negara, dan berpotensi memicu konflik sosial. “Setiap hari anggotanya sekitar 300 sampai 500 orang silih berganti datang, seperti pasar malam. Sangat meresahkan,” ujar NSI. IJL baru setahun menetap di Dolok Maraja sudah memiliki rumah senilai hampir Rp 1 miliar, gudang penampungan, serta empat unit mobil. Padahal belum setahun menampung getah.

Diamnya Pihak Perusahaan

Tribun Medan telah mencoba mengonfirmasi kepada salah seorang oknum petinggi Security PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate, pada Jumat (6/3/2026). Namun, hingga berita ini diturunkan, tidak ada tanggapan. Pesan konfirmasi via WhatsApp hanya dibaca tanpa balasan.

Dugaan Alur Bisnis Ilegal Getah dan Narkoba

  1. Pengumpulan Getah Karet Curian

    Ribuan pencuri getah beroperasi di berbagai wilayah perkebunan. Getah hasil curian dikumpulkan oleh bos-bos lokal, salah satunya berinisial IJL (Dolok Maraja). Setiap hari, rata-rata 30–35 ton getah berhasil dicuri.

  2. Penampungan oleh Bos Lokal

    Bos getah ilegal (IJL dan lainnya) menampung hasil curian di gudang. Aktivitas penampungan dilakukan dua kali sehari: pagi (06.00–08.00) dan sore hingga malam (17.00–22.00). Gudang penampungan ramai seperti “pasar malam” dengan ratusan penjual getah datang bergantian.

  3. Masuk melalui Jalur Resmi (Delivery Order)

    Getah yang diduga curian itu disalurkan melalui Delivery Order (DO) milik seseorang. Dengan DO ini, ratusan ton getah yang diduga curian bisa masuk ke pabrik PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate setiap hari. Dugaan kuat ada pembiaran atau kerja sama dengan oknum security perusahaan.

  4. Distribusi ke Pabrik

    Getah curian yang sudah “dilegalkan” lewat DO masuk ke pabrik. Dari sini, hasil produksi tetap berjalan seolah-olah bahan baku berasal dari jalur resmi.

  5. Perputaran Uang

    Uang hasil penjualan getah curian mencapai miliaran rupiah per hari. Oknum security diduga menerima setoran mingguan sekitar Rp 200 juta dari bos getah. Ada dugaan tambahan Rp 10 juta jika mereka menangkap maling getah di luar jaringan bos tertentu.

  6. Aliran ke Bisnis Narkoba

    Sebagian besar pencuri getah (sekitar 70 persen) diduga pengguna narkoba. Uang hasil getah curian mengalir ke jaringan narkoba yang dikendalikan oleh sosok berinisial B. Peredaran narkoba di kawasan ini ditaksir mencapai miliaran rupiah setiap malam.

  7. Keterlibatan Oknum dan Dugaan Setoran

    Informasi beredar bahwa ada setoran miliaran rupiah kepada oknum aparat dan politisi. Dugaan ini belum terkonfirmasi, tetapi memperkuat persepsi adanya perlindungan terhadap bisnis gelap.

  8. Diamnya Pihak Perusahaan

    Tribun Medan telah mencoba mengonfirmasi kepada Manager Security PT Bridgestone Sumatra Rubber Estate, J Simangunson, pada Jumat (6/3/2026). Namun, hingga berita ini diturunkan, tidak ada tanggapan. Pesan konfirmasi via WhatsApp hanya dibaca tanpa balasan.

Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *