Bisnis  

Kue Nastar Kediri Laku Keras Jelang Lebaran, Omzet Capai Rp 25 Juta

Kembali Menekuni Usaha Kue Kering, Yunie Dwi Prastiwi Jajakan Berbagai Jenis Kue di Kediri

Di sebuah gang sempit Jalan Adi Sucipto 153B, Kelurahan Ngadirejo Kota Kediri, aroma kue kering khas Lebaran mulai terasa. Di dapur sederhana tersebut, Yunie Dwi Prastiwi (52) memproduksi berbagai jenis kue kering rumahan yang kini banyak dipesan menjelang Hari Raya Idulfitri.

Yunie kembali menekuni usaha kue keringnya sejak akhir tahun 2025 setelah sempat berhenti beberapa tahun. Ia mengaku awalnya sudah lama suka membuat kue bersama ibunya. Dari dulu, saat anak-anak masih kecil, ia sering membuat kue di rumah. Namun, usaha tersebut sempat terhenti hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali memulai pada akhir tahun 2025.

“Sebetulnya saya sudah lama suka bikin kue sama ibu. Dari dulu waktu anak-anak masih kecil saya sudah sering membuat kue di rumah. Tapi sempat berhenti, lalu akhir tahun 2025 saya mulai lagi,” ujarnya.

Alasan utamanya adalah ingin memiliki kegiatan produktif di rumah yang juga bisa menghasilkan tambahan penghasilan. “Waktu itu saya merasa tidak ada kegiatan di rumah. Akhirnya saya berpikir ingin punya aktivitas yang bisa menghasilkan juga,” katanya.

Selain itu, Yunie ingin meneruskan usaha kuliner yang pernah dijalankan oleh ibunya. Ia mengaku banyak menggunakan resep turun-temurun dari orang tuanya. “Saya ingin meneruskan usaha ibu saya. Dulu ibu juga membuat banyak makanan seperti kue kering dan kerupuk. Resep yang saya pakai ini sebagian besar dari ibu saya,” jelasnya.

Dalam usahanya, Yunie memproduksi berbagai jenis kue kering rumahan. Mulai dari nastar klasik, nastar keju, kastengel, semprit, sagu keju, choco chip, putri salju hingga kue kacang. Dari berbagai jenis tersebut, nastar menjadi salah satu produk favorit pelanggan, terutama menjelang Lebaran.

“Biasanya nastar yang paling banyak dicari. Ada nastar klasik dan nastar keju. Selain itu juga ada nastar iris atau leker,” tuturnya.

Dengan dibantu anak dan keponakan di rumah, Yunie menjual kue kering dalam kemasan toples dengan harga yang bervariasi. Untuk ukuran paling kecil dibanderol mulai Rp 50 ribu, sementara ukuran yang lebih besar bisa mencapai sekitar Rp 72 ribu per toples. “Paling murah itu Rp50 ribu per toples sampai Rp 72 ribu tergantung ukuran dan jenis kuenya,” kata Yunie.

Menjelang Lebaran, pesanan kue kering mengalami lonjakan cukup signifikan dibandingkan hari-hari biasa. Dalam kondisi normal, produksi kue Yunie berkisar sekitar 2 hingga 3 kilogram per hari. Namun saat musim Lebaran, produksinya bisa meningkat hingga 4 sampai 5 kilogram per hari dengan berbagai jenis kue yang dibuat.

“Kalau hari biasa mungkin hanya sekitar 2 sampai 3 kilo sehari. Tapi kalau mendekati Lebaran bisa sampai 4 sampai 5 kilo,” ujarnya.

Dari jumlah tersebut, Yunie bisa memproduksi sekitar lima hingga enam toples nastar dalam sehari. Sementara untuk jenis kue lainnya bahkan bisa mencapai 10 toples atau lebih. Berkat meningkatnya permintaan menjelang Lebaran, omzet usaha kue kering rumahan ini juga ikut melonjak. Dalam kondisi normal, omzetnya bisa mencapai sekitar Rp 10 juta per bulan. Namun saat memasuki musim Lebaran, khususnya pada minggu kedua Ramadan, omzetnya dapat meningkat hingga sekitar Rp 20 juta sampai Rp 25 juta.

“Kalau menjelang Lebaran memang lonjakannya jauh. Biasanya omzet bisa sampai sekitar Rp 20 juta sampai Rp 25 juta,” jelasnya.

Saat ini Yunie masih memproduksi kue dari rumah dengan bantuan anak serta keponakannya. Meski begitu, ia memiliki rencana besar untuk mengembangkan usaha tersebut ke depannya. Yunie berharap suatu saat rumahnya bisa disulap menjadi toko kue yang lebih bagus agar dapat memenuhi permintaan pasar yang semakin meningkat.

“Ke depan saya ingin rumah ini dibuat seperti toko juga. Jadi lebih proper dan bisa menyiapkan stok lebih banyak kalau ada pesanan,” pungkasnya.




Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *