Bisnis  

Wall Street Bangkit Usai Sinyal Trump Akhiri Perang Iran, Harga Minyak Turun

Pasar Saham Amerika Kembali Menguat Setelah Tanda-Tanda Perang dengan Iran Mereda



Pasar saham Amerika Serikat berhasil mengalami penguatan setelah muncul sinyal bahwa konflik dengan Iran berpotensi mereda. Dalam penutupan perdagangan kemarin, saham dalam indeks S&P 500 naik hingga 1%. Harga minyak mentah yang sebelumnya melonjak tajam juga mulai menurun. Harga minyak berjangka AS kembali berada di bawah US$90 per barel setelah sempat melampaui US$119 di awal sesi perdagangan yang penuh ketegangan.

Pada perdagangan hari ini, Selasa (10/3/2026) pukul 5.02 WIB, harga minyak Amerika (WTI) turun sebesar 8% menjadi 87,19%. Sedangkan minyak jenis Brent berbalik menguat ke level US$98,96 per barel. Penurunan harga minyak terjadi setelah pasar merespons kemungkinan adanya langkah koordinasi dari negara-negara ekonomi besar (G7) untuk menjaga pasokan energi global. Komentar Trump yang mengisyaratkan upaya mengakhiri konflik juga membantu meredakan kekhawatiran investor.

“Saya rasa Anda akan melihat bahwa ini [perang AS-Israel Vs Iran] akan menjadi kunjungan singkat,” kata Trump kepada anggota parlemen Partai Republik. Meskipun eskalasi luas diyakini segera berakhir, Trump mengklaim risiko geopolitik masih tinggi dan muncul pertanyaan mengenai arah kepemimpinan di Teheran. Politisi gaek itu juga bersumpah bahwa ia tidak akan menyerah. “Sampai musuh benar-benar dan secara telak dikalahkan,” klaimnya.

Di lapangan, data menunjukkan bahwa Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia, masih tertutup. Hingga kini belum ada rencana final mengenai cara melindungi kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut. Penutupan Selat Hormuz secara efektif memaksa Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, mengurangi produksinya. Langkah serupa juga dilakukan Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak.

Para menteri keuangan negara-negara Kelompok Tujuh (G-7) menyatakan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga pasokan energi global, termasuk kemungkinan melepas cadangan minyak strategis. Meski demikian, pemerintah Prancis menyatakan G-7 belum sampai pada tahap itu untuk menyetujui penggunaan cadangan energi darurat.

Korban Jiwa Terus Bertambah

Di tengah konflik yang terus memanas, korban jiwa terus bertambah. Amerika Serikat melaporkan korban ketujuh pada Minggu. Dua tentara Israel dan sekitar selusin warga sipil Israel juga tewas dalam konflik tersebut. Serangan rudal dan drone Iran dilaporkan mulai mereda berdasarkan data dari Uni Emirat Arab meski Teheran masih secara berkala melancarkan serangan ke Israel dan negara-negara Teluk Arab.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan mengindikasikan operasi militer terhadap Iran masih akan meningkat. Di sisi lain, konflik juga berpotensi meluas ke kawasan lain. Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) mencegat rudal balistik yang ditembakkan dari Iran menuju Turki pada Senin, yang menjadi insiden kedua serupa dan meningkatkan risiko keterlibatan aliansi tersebut.

Situasi Politik di Iran Berubah

Data resmi terakhir menunjukkan lebih dari 1.300 warga Iran tewas sejak perang dimulai. Sekitar 486 orang dilaporkan meninggal di Lebanon, sementara beberapa korban juga tercatat di negara-negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab. Situasi politik di Iran juga mengalami perubahan signifikan. Media setempat melaporkan pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei dikenal memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam, organisasi militer dan ekonomi paling kuat di Iran.

Analis geopolitik dari Bloomberg Geoeconomics Dina Esfandiary menilai pemimpin baru Iran kemungkinan akan melanjutkan garis kebijakan keras seperti ayahnya. Menurut Esfandiary, pemilihan tersebut menunjukkan Iran kemungkinan tidak akan mengubah arah kebijakannya dalam konflik di Timur Tengah.

Presiden Iran Bersikeras Tidak Menyerah

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah. Ia menolak tuntutan menyerah tanpa syarat dan menyatakan Iran akan terus melawan tekanan dari luar. Konflik juga meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk. Arab Saudi kembali menjadi sasaran serangan proyektil Iran, termasuk yang mengarah ke ladang minyak Shaybah milik perusahaan energi Aramco serta wilayah di sekitar Riyadh.

Sebagai langkah antisipasi keamanan, Amerika Serikat memerintahkan diplomat yang tidak memiliki tugas penting di Arab Saudi untuk meninggalkan negara tersebut. Ini menjadi perintah evakuasi pertama Washington sejak perang dimulai.

Di sisi lain, serangan Israel terhadap depot bahan bakar di Teheran pada Sabtu memicu peringatan dari Bulan Sabit Merah mengenai potensi hujan asam beracun di ibu kota Iran yang berpenduduk sekitar 9,5 juta jiwa. Para pejabat AS juga mempertimbangkan berbagai opsi militer, termasuk kemungkinan mengerahkan pasukan khusus untuk mengamankan uranium Iran yang hampir mencapai tingkat bahan pembuat bom. Namun Trump menegaskan bahwa Washington masih “jauh dari” tahap memerintahkan pengerahan pasukan ke Iran.

Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *