Bisnis  

Bank semakin selektif berikan pembiayaan pada sektor batubara

Tantangan Pembiayaan di Sektor Batubara

Sektor batubara kini menghadapi tantangan yang cukup berat dalam hal pembiayaan. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk penurunan permintaan global dan turunnya harga batubara. Hal ini berdampak langsung pada ekspor batubara Indonesia, yang mengalami penurunan signifikan.

Penurunan Ekspor Batubara

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor batubara Indonesia pada Januari 2026 turun sebesar 16,04% secara tahunan menjadi US$ 1,82 miliar. Porsi ekspor batubara terhadap total ekspor mencapai 8,56%. Secara volume, ekspor juga mengalami penurunan sebesar 2,87% dibandingkan bulan sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa industri batubara sedang menghadapi angin sakal. Penurunan permintaan global membuat ekspor batubara Indonesia anjlok, sehingga memengaruhi perekonomian nasional.

Kredit Pertambangan yang Lesu

Dalam laporan Bank Indonesia (BI), kredit pertambangan mengalami kelesuan. Pada Januari 2026, kredit untuk tujuan modal kerja turun sebesar 8,8% secara tahunan, mencapai Rp 158 triliun. Sementara itu, kredit investasi tumbuh terbatas di tingkat 25,9% yoy, turun dari 27,8% di Desember 2025.

Kondisi ini membuat perbankan semakin selektif dalam memberikan pembiayaan ke sektor batubara. Bank-bank seperti PT Bank Central Asia Tbk (BCA) tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit ke sektor ini.

BCA: Pembiayaan Terbatas dan Prudent

BCA menegaskan bahwa penyaluran kredit ke sektor batubara masih dilakukan secara terbatas. Saat ini, porsi pembiayaan ke sektor tersebut hanya sekitar 2,5% dari total portofolio kredit perseroan yang mencapai Rp 993 triliun.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan bahwa pembiayaan ke sektor batubara dilakukan untuk mendukung kebutuhan energi nasional, khususnya dalam menjaga pasokan listrik bagi masyarakat.

“BCA konsisten menyalurkan pembiayaan ke berbagai sektor secara prudent. Pembiayaan di sektor batubara dilakukan dalam rangka mendukung penyediaan pasokan listrik bagi masyarakat di seluruh pelosok Indonesia,” ujar Hera.

Menurutnya, pembiayaan ke sektor batubara masih relevan pada masa transisi energi. Namun, prospek industri batubara ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan dinamika geopolitik yang berdampak pada pasokan energi dunia.

Selektivitas Perbankan dalam Pembiayaan Batubara

Selain BCA, bank lain seperti CIMB Niaga juga sangat selektif dalam menyalurkan kredit ke sektor batubara. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa pihaknya masih selektif dalam membuka pembiayaan kepada pemain baru di sektor ini.

Penilaian dalam menyalurkan kredit dilakukan secara menyeluruh, mulai dari arus kas, committed sales, hingga kesiapan perusahaan dalam menghadapi tantangan pasar saat ini.

Adapun portofolio kredit Bank Mandiri di sektor batubara per Desember 2025 mencapai Rp 67,1 triliun atau sekitar 4,49% dari total penyaluran kredit perseroan. Kualitas kredit tercatat baik dengan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di level 0,00%.

Sementara itu, Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan penyaluran yang stagnan di sektor ini. Per Desember 2025, sekitar 4,2% dari total kreditnya secara bank only yang mencapai Rp 899,5 triliun.

Faktor Penyebab Turunnya Kinerja Ekspor Batubara

Global Market Economist di Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyatakan bahwa harga batubara yang melemah pada periode Desember hingga Januari menjadi salah satu penyebab utama turunnya kinerja ekspor komoditas tersebut.

Pelemahan harga batubara tidak terlepas dari turunnya harga minyak dunia yang ikut memberi tekanan pada harga komoditas energi lain. Selain itu, banyak negara mulai mencari alternatif sumber energi lain untuk pembangkit listrik.

Peralihan ke energi yang lebih ramah lingkungan, khususnya energi baru terbarukan (EBT), juga turut menekan permintaan batubara.

Minat Perbankan Menurun

Myrdal menilai minat perbankan untuk menyalurkan kredit ke sektor batubara juga mulai cenderung menurun. Hal ini seiring meningkatnya komitmen sejumlah bank untuk menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam penyaluran pembiayaan.

Sebagian bank mulai mengurangi eksposur pembiayaan pada sektor energi fosil, termasuk batubara, sebagai bagian dari implementasi praktik keuangan berkelanjutan.

Namun, peluang pembiayaan tetap terbuka bagi pelaku industri batubara yang telah menerapkan standar ESG dengan baik. Jika perusahaan batubara sudah menerapkan prinsip ESG secara baik, maka peluang mendapatkan pembiayaan dari bank masih terbuka.

Prospek Pembiayaan di Tahun Ini

Myrdal memperkirakan tren penyaluran kredit ke sektor batubara berpotensi mengalami penurunan pada tahun ini. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang berupaya mengendalikan produksi batubara guna menjaga keseimbangan harga di pasar global serta mempertimbangkan aspek lingkungan.

Ke depan, ia menyarankan perbankan lebih selektif dalam menyalurkan kredit ke sektor tersebut dengan memastikan pelaku usaha menerapkan praktik ESG dan memiliki arah bisnis yang berkelanjutan.

Mendorong Hilirisasi Batubara

Selain itu, sektor perbankan dinilai perlu mendorong pembiayaan pada industri hilirisasi batubara agar memberikan nilai tambah bagi perekonomian. Salah satu potensi hilirisasi yang dapat dikembangkan adalah pengolahan batubara menjadi dimethyl ether (DME) melalui proses gasifikasi.

Jika sektor batubara ingin tetap menarik bagi perbankan, maka selain memenuhi prinsip ESG, pelaku usaha juga perlu mengembangkan hilirisasi seperti proyek DME.

Di sisi lain, Myrdal juga berharap penurunan suku bunga kredit dapat terus berlanjut sehingga mendorong pembiayaan perbankan ke sektor-sektor prioritas pembangunan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *