Sejarah Candi Tikus: Dari Penemuan Unik hingga Situs Bersejarah
Candi Tikus adalah salah satu peninggalan sejarah yang terletak di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Meskipun disebut sebagai candi, bangunan ini sejatinya merupakan petirtaan atau kolam pemandian suci. Nama Candi Tikus bukanlah nama asli dari bangunan tersebut, melainkan berasal dari kisah penemuannya yang unik pada awal abad ke-20.
Asal Usul Candi Tikus
Candi Tikus ditemukan pada tahun 1914 oleh seorang penduduk setempat. Awalnya, warga melaporkan adanya wabah tikus yang bersarang di sebuah gundukan tanah. Gundukan itu kemudian dibongkar dan ternyata di dalamnya terdapat struktur bangunan kuno. Temuan tersebut dilaporkan kepada Bupati Mojokerto saat itu, R.A.A. Kromodjojo Adinegoro. Sejak saat itulah bangunan tersebut dikenal dengan nama Candi Tikus, merujuk pada banyaknya tikus yang ditemukan di lokasi tersebut.
Hingga kini, sebagian masyarakat, khususnya petani, masih meyakini air dari Candi Tikus memiliki tuah untuk mengusir hama tikus di sawah mereka. Hal ini menjadi salah satu legenda yang melekat pada situs bersejarah ini.
Proses Penggalian dan Pemugaran
Sebelum tahun 1914, seluruh bangunan Candi Tikus masih tertutup tanah. Penggalian dilakukan secara bertahap dan pada 1916 struktur bangunan berhasil ditampakkan secara keseluruhan. Selama masa kolonial Belanda, situs ini sempat dipugar dengan pemasangan kembali menara candi induk dan pembuatan saluran pembuangan air.
Upaya pelestarian berlanjut pada era Indonesia modern. Pemugaran besar kembali dilakukan pada 1980-an oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Proses tersebut berlangsung bertahap hingga dinyatakan selesai pada 21 September 1989. Tujuan pemugaran adalah mengembalikan bentuk asli struktur sekaligus menjaga sistem saluran air yang menjadi ciri khas bangunan tersebut.
Petirtaan Suci Berkonsep Gunung Mahameru
Candi Tikus dibangun sekitar 3,5 meter lebih rendah dari permukaan tanah sekitarnya. Bangunan induk berada di tengah kolam dan dikelilingi menara-menara kecil. Secara keseluruhan, susunan tersebut menyerupai replika Gunung Mahameru, gunung suci dalam kosmologi Hindu yang dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa.
Air mengalir melalui puluhan pancuran berbentuk makara dan kuncup bunga padma (teratai). Dahulu terdapat sekitar 46 pancuran, namun kini yang tersisa di lokasi hanya 19, sementara lainnya disimpan di Museum Majapahit Trowulan. Konsep ini melambangkan air suci Amerta, sumber kehidupan yang diyakini mengalir dari Mahameru. Karena itu, banyak ahli berpendapat bahwa Candi Tikus merupakan petirtaan suci bagi pemeluk Hindu-Buddha pada masa Majapahit.
Dibangun pada Masa Keemasan Majapahit
Candi Tikus diperkirakan dibangun pada abad ke-13 hingga ke-14, masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Hal ini dilihat dari bentuk miniatur menara yang menjadi ciri arsitektur pada periode tersebut. Bangunan ini didominasi material bata merah berkualitas tinggi, sementara pancurannya dibuat dari batu andesit yang dipahat halus.
Menariknya, ditemukan dua jenis ukuran bata, yang mengindikasikan kemungkinan pernah dilakukan perbaikan pada masa selanjutnya. Hingga kini belum ditemukan prasasti atau catatan tertulis yang secara pasti menyebutkan siapa pendiri Candi Tikus dan untuk tujuan spesifik apa bangunan ini didirikan.
Namun berdasarkan bentuk dan sistem saluran airnya, para ahli memperkirakan fungsinya antara lain sebagai tempat pemandian keluarga raja, tempat pemujaan, hingga sistem penampungan dan distribusi air bagi masyarakat Trowulan.
Warisan Sejarah yang Kini Jadi Destinasi Wisata
Saat ini, Candi Tikus menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di kawasan Trowulan, yang dahulu merupakan ibu kota Kerajaan Majapahit. Kompleks ini dilengkapi fasilitas taman, area parkir, serta menjadi spot foto favorit wisatawan.
Tiket masuknya pun terjangkau, sehingga banyak pelajar dan peneliti datang untuk mempelajari sejarahnya. Keberadaan Candi Tikus menjadi bukti kecanggihan teknologi pengelolaan air pada masa Majapahit sekaligus menggambarkan kuatnya pengaruh kosmologi Hindu-Buddha dalam arsitektur kala itu.
Dari sebuah gundukan tanah yang dipenuhi tikus, Candi Tikus kini berdiri sebagai saksi bisu kejayaan Majapahit menyimpan jejak sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal yang terus diwariskan hingga hari ini.












