Kreativitas Rina Mengubah Singkong Menjadi Camilan Premium
Di tangan kreatif Rina, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Kamboja Putih, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanahbumbu, singkong bukanlah sekadar umbian biasa yang hanya bisa digodok atau digoreng. Ia berhasil menyulap singkong, yang dulunya murah, menjadi camilan premium bernama Rengginang Singkong. Kudapan ini bahkan mulai melangkau seantero Nusantara.
Langkah inovasi Rina ini sebenarnya merupakan tongkat estafet dari generasi terdahulu. βIde awal pengolahan rengginang singkong dicetuskan oleh Ibu Bowo pada masa awal transmigrasi di Mantewe pada tahun 90-an. Namun waktu itu hanya untuk konsumsi sendiri,β ujar Rina saat diwawancarai BPost.
Rina berpikir untuk mengembangkannya setelah melihat nasib petani singkong di Mantewe. Ketersediaan singkong yang sangat melimpah seringkali tidak sebanding dengan harganya di pasar. Dia pun mencari cara agar kerja keras petani bernilai tambah.
“Saya memilih singkong karena di Mantewe ketersediaannya melimpah. Pasokan kami dapatkan langsung dari petani yang tergabung dalam kelompok. Dengan mengolahnya menjadi rengginang, kami ingin harganya lebih bersahabat dengan petani,” ujar Rina dengan penuh semangat saat diwawancarai BPost.
Rina tidak hanya berfokus pada penyelamatan bahan baku, tetapi juga menjadikan usaha Rengginang Singkong sebagai wadah pemberdayaan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga dan para lansia di lingkungan sekitar. “Usaha ini menjadi wadah bagi para ibu dan lansia untuk dapat berkreasi menyalurkan bakatnya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi,β ujarnya.
Proses Pembuatan Rengginang Singkong
Pembuatan rengginang singkong ala Rina melalui tahapan yang penuh ketelitian. Ia memilih singkong yang ideal, yakni tidak terlalu muda karena banyak air dan terlalu tua karena keras, serta belum maksimal ukurannya.
Untuk bumbunya, Rina menggunakan campuran sederhana yang alami yakni bawang putih, ketumbar, sedikit garam dan soda kue. Tak ada bumbu yang dirahasiakan.
Pengolahan dimulai dengan pengupasan, pencucian serta pemarutan untuk diambil sari patinya. Ampas parutan kemudian diangin-anginkan. Sementara pati endapan dikeringkan hingga menjadi tepung tapioka.
Selanjutnya, ampas dimasukkan ke wadah tertutup selama 24 jam. Setelah sehari semalam, ampas dicampurkan dengan tepung tapioka dan bumbu yang sudah dihaluskan, lalu dimasukkan kembali ke wadah tertutup selama 24 jam lagi.
Setelah proses fermentasi sederhana selama dua hari penuh, adonan dicetak, dikukus, ditata di wadia penjemuran di bawah terik matahari. Dijemur hingga benar-benar kering.
Menurut Rina, bagian yang paling menantang dari proses ini adalah saat musim hujan, karena teknik penjemuran masih bergantung langsung pada sinar matahari. Untuk mengatasi hal itu, mereka harus menggunakan kipas angin agar produk tidak berjamur selama proses pengeringan.
Varian Rasa dan Tantangan Pasar
“Untuk varian rasanya, saat ini kami hanya memproduksi yang original. Kami pernah mencoba berinovasi dengan rasa pedas maupun cokelat bubuk, namun ternyata tidak begitu diminati konsumen,” aku Rina, jujur mengenai tantangan adaptasi produk di pasar lokal.
Meskipun dalam skala kecil, usaha rengginang singkong Rina memiliki keunggulan yakni lebih renyah dan gurih dibandingkan rengginang ketan. Selain itu, produk ini tergolong unik karena belum ada kompetitor di Mantewe bahkan Tanbu sehingga potensial dikembangkan.
Dengan kapasitas produksi rata-rata 200-250 bungkus rengginang matang per bulan, atau sekitar 25 kilogram rengginang mentah, Rina berhasil menembus pasar yang cukup luas. Dia bahkan menjalin kerja sama dengan outlet oleh-oleh di Samarinda.
Rina pun rajin mengikuti pameran di seluruh Indonesia dan melayani pesanan dari seluruh Nusantara melalui media sosial seperti WhatsApp, Instagram, maupun TikTok.
“Pernah kirim ke Jakarta, Surabaya, Madiun, Ngawi, Batam, Tanjung Pinang, Bali, Makassar, Bandung, hingga Kalteng,” tuturnya.
Kendala dan Harapan Masa Depan
Meskipun demikian, ia mengakui adanya kendala teknis untuk berjualan di marketplace besar. “Untuk marketplace, kami belum bisa pecah telur karena hingga saat ini belum tersedia sarana pengiriman dari aplikasinya di daerah Mantewe,β katanya.
Tantangan terbesar yang dihadapi Rina sebagai UMKM lokal adalah menghadapi produk modern pabrikan yang berskala besar dengan nama besar yang sudah dikenal masyarakat. Rina pun menghadapinya dengan menawarkan harga yang lebih murah.
“Dengan dukungan teknologi, pengemasan yang baik, serta strategi pemasaran digital, kami yakin produk pangan lokal Tanah Bumbu dapat dikenal lebih luas dan diminati oleh berbagai kalangan di seluruh Indonesia,” pungkas Rina dengan penuh harap, menatap masa depan rengginang singkong buatan KWT Kamboja Putih Mantewe.












