Pergantian Kepemimpinan di BPRS Dana Moneter
Senyum Ita Iriani Koeharsanti merekah di Lantai 23 Menara Bosowa, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Jumat siang, 20 Februari 2026. Usai Shalat Jumat di hari kedua Ramadhan 1447 H, Ita Iriani Koeharsanti resmi menerima jabatan baru sebagai Direktur BPRS Dana Moneter.
Serahterima jabatan dari Burhana Lewa, Direktur BPRS Dana Moneter sebelumnya, ke Iriani Dwi Koeaharsanti disaksikan pendiri Bosowa, HM Aksa Mahmud. Burhana Lewa pun menyerahkan jabatan yang diembannya selama enam tahun itu dengan senyum.
“Beberapa tahun lalu, pernah saya kasih menangis ini Ibu Ita waktu saya kasi pindah ke Jakarta. Dia menangis saya pindahkan ke Jakarta. Tapi saya minta dia belajar dan bersaing di Jakarta. Dan sekarang dia sudah kembali ke Makassar dengan senyum,” kata Aksa Mahmud.
Ita Iriani optimistis bisa mengembangkan BPRS Dana Moneter. Selain karena pengalaman pribadi, Ita juga didukung tim mumpuni.
“Insya Allah, kita sudah komitmen. Melalui tata kelola, pelayanan yang unggul, serta pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Dengan kebersamaan, saya yakin insya Allah BPRS kita ini akan semakin dipercaya masyarakat luas. Pondasi yang telah dibangun menjadi pondasi yang kuat bagi kami untuk melangkah lebih maju lagi,” kata Ita.
Pucuk pimpinan BPRS Dana Moneter beralih ke Ita Iriani setelah enam tahun dipimpin Burhana Lewa.
“Saya berterima kasih telah diberi kesempatan memimpin BPRS Dana Moneter selama 6 tahun. Saya masuk sebelum covid. Saya yakin pergantian ini, pimpinan baru melalui pengetahuan dan pengalamannya, mampu mengembangkan BPRS Dana Moneter jauh lebih dari apa yang ada sekarang,” kata Buhana Lewa.
Sejarah BPRS Dana Moneter
Lahir dari Gejolak
Pendiri Bosowa, HM Aksa Mahmud, mengenang kembali perjuangannya 53 tahun lalu. Ketika dunia dilanda krisis ekonomi, Aksa Mahmud, mendirikan perusahaan di Makassar pada 22 Februari 1973. Sehari setelah Menteri Keuangan Ali Wardhana mengumumkan kebijakan moneter Indonesia di Jakarta, 21 Februari 1973.
“Jadi hari ini Pak Ali Wardhana mengumumkan kebijakan moneter setelah menghadap Presiden Soeharto bersama Widjojo, besoknya, saya buat perusahaan di Makassar, CV Moneter,” ujar Aksa Mahmud di lantai 23 Menara Bosowa, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Jumat siang, 20 Februari 2026.
Hal itu disampaikan Aksa Mahmud saat menyampaikan amanah di sela acara serah terima jabatan Direktur BPRS Dana Moneter, dari Burhana Lewa ke Ita Iriani Dwi Koeaharsanti.
“Jadi BPRS Dana Moneter ini memiliki sejarah tersendiri dalam Bosowa,” ujar Aksa Mahmud.
Oleh karena, Aksa Mahmud meminta BPRS Dana Moneter berkembang dan menjadi bank yang disegani secara nasional.
“Saya minta harus pakai moneter untuk mengenang terus tahun berdirinya Bosowa. Saya yakin dengan pengalaman Bu Ita dan timnya, Dana Moneter ke depan lebih cepat berkembang,” kata Aksa Mahmud.
BPRS Dana Moneter kini sudah memiliki aset lebih Rp100 miliar.
“Di bulan ke-6, bulan 6 nanti, kita berharap sudah sampai Rp160 M asetnya. Dan di akhir tahun sudah bukan lagi kepala 1, tapi sudah kepala 2. Kita terbaik dari Bank Syariah. Seluruh bank syariah di Indonesia masih kena covid berkepanjangan,” jelas Aksa Mahmud.
Perjalanan Bosowa Sejak Awal
Gejolak ekonomi dan kebijakan moneter nasional pada awal 1973 menjadi latar belakang berdirinya CV Moneter, perusahaan yang kemudian berkembang menjadi Bosowa.
Lima puluh tiga tahun berselang, Bosowa menandai perjalanan panjang tersebut melalui rangkaian peringatan hari ulang tahun ke-53 yang berpuncak pada acara tudang sipulung.
Puncak HUT Ke-53 Bosowa digelar di Balai Sidang 45, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Minggu, 22 Februari 2026.
Pada awal 1973, Indonesia berada dalam tekanan ekonomi akibat krisis moneter global dan lonjakan inflasi. Pemerintah merespons dengan kebijakan moneter yang diumumkan Menteri Keuangan Ali Wardhana pada 21 Februari 1973. Kebijakan tersebut diberitakan luas oleh media nasional keesokan harinya dan dikenal masyarakat dengan satu istilah yang saat itu sangat populer: moneter.
Di tengah situasi ekonomi yang sulit tersebut, Aksa Mahmud, yang telah memutuskan mengorbankan pendidikan formal di Fakultas Teknik Unhas untuk fokus menjadi pengusaha, mendirikan CV Moneter pada Kamis, 22 Februari 1973.
Tanpa menunda waktu, Aksa mengurus pendirian perusahaan pada notaris Teng Tjinleng SH. Nama “Moneter” sudah disiapkan sejak lama. Seiring semakin viralnya kata ini.
“Memang kebanyakan notaris pada masa itu adalah orang Tionghoa,” ujar Aksa Mahmud.
CV Moneter berdiri melalui Akta Pendirian Nomor 6 Tahun 1973 dan bergerak di bidang pengadaan barang, mulai dari alat-alat kantor hingga material bangunan. CV Moneter kemudian menjadi fondasi bagi lahir dan berkembangnya Bosowa sebagai kelompok usaha nasional lintas sektor.
Tanggal 22 Februari yang menandai pendirian CV Moneter selanjutnya ditetapkan sebagai hari lahir Bosowa. Pada 2026, Bosowa memasuki usia ke-53 tahun.
Rangkaian Acara HUT Ke-53 Bosowa
Puncak perayaan HUT Bosowa ke-53 akan digelar melalui tudang sipulung di Balai Sidang 45 Universitas Bosowa (Unibos), Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Minggu (22/2/2026).
Tudang sipulung merupakan agenda rutin tahunan Bosowa Corporindo yang mempertemukan seluruh karyawan dari berbagai unit bisnis untuk duduk bersama, melakukan refleksi, sekaligus merayakan hari ulang tahun perusahaan.
Selain itu, tudang sipulung HUT ke-53 Bosowa juga akan dirangkaikan dengan acara buka puasa bersama seluruh karyawan. Kegiatan ini akan terhubung secara daring dengan karyawan Bosowa di Jakarta.
“Tudang sipulung ini juga akan terhubung secara daring dengan yang ada di Jakarta,” ujar Ketua Panitia HUT Ke-53 Bosowa, Dirjo Santoso.
Rangkaian peringatan HUT Bosowa ke-53 telah dimulai sejak awal Februari 2026 melalui Kompetisi Olimpiade Bosowa yang berlangsung pada 2 hingga 14 Februari 2026.
Dari sebuah perusahaan yang lahir di tengah krisis moneter 1973, Bosowa kini menapaki usia lebih dari setengah abad, menandai perjalanan transformasi usaha lokal menjadi korporasi nasional yang terus merawat tradisi, refleksi, dan kebersamaan lintas generasi.












