Bisnis  

Mantan Anak Punk Bangun Kafe Jalan di Purwokerto, Dapat Ilmu dari PKBM

Kehidupan Andra Julianto: Dari Anak Jalanan ke Penjual Kopi Keliling

Di atas motor Revo, seorang pemuda muda bernama Andra Julianto membawa sekelompok alat seduh kopi sederhana untuk berkeliling kota Purwokerto. Ia memilih tempat strategis untuk membuka lapaknya, dengan harapan bisa menarik perhatian pengunjung dan pelanggan setia.

Pukul 09.00 WIB, ia mulai melaju dan berhenti di sebelah Rumah Sakit TNI. Sayangnya, ia diusir oleh petugas karena tidak diperbolehkan berjualan di situ. Setelah berkeliling di beberapa ruas jalan, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti di tepi trotoar depan Indomart kosong di Jalan Dr. Angka. Pohon rindang di kanan kiri membuat suasana terasa teduh.

Andra mulai membongkar perlengkapan yang dibawanya, termasuk papan nama bertuliskan “Kopi Rakyat Sipil: Arabika Robusta Manual Brew mulai dari Rp5000”. Setelah menata peralatan seduh kopi, tiba-tiba seorang ojek online datang menghampiri. Itu menjadi pembeli pertamanya, dan Andra mulai meracik pesanan kopi hitam.

Cara membuat kopi sederhana, nyaris tak mencolok, tetapi aroma kopinya menarik perhatian pengendara motor yang melintas. Mereka penasaran dengan si penjual kopi yang memiliki gaya casual kaos hitam dan berkacamata.

Namun sulit membayangkan, bahwa di balik kesederhanaannya itu, beberapa tahun silam hidup Andra dikenal sebagai seorang anak punk dengan rambut gondrong yang hidup di jalanan dan sering berpindah-pindah kota.

Hidup Di Jalanan Sebagai Pelarian

Andra Julianto tinggal di Desa Karangsalam, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Cerita ini bermula pada 2016 ketika ia menamatkan pendidikan di tingkat sekolah dasar (SD). Setelah kelulusan itu, hidupnya justru berbelok arah, bukan menuju bangku SMP seperti anak-anak lainnya, melainkan jalanan menjadi wadah baginya berekspresi.

Modalnya hanya satu, yaitu nekat. “Setelah lulus SD langsung di jalan,” ujarnya pelan sambil membuka masker yang sedari tadi dipakainya.

Awal terjun di dunia jalanan ia bahkan tidak benar-benar memahami apa itu komunitas punk. Ia tidak punya gambaran ideologi atau identitas tertentu. Namun alasannya nekat jadi anak jalanan sangat berdasar. Ia merasa sudah muak dengan keadaan rumah dan tak punya harapan dari lingkungan keluarganya sendiri.

Alasannya adalah perhatian yang ia tunggu-tunggu dari orangtuanya seolah tak pernah datang. Ia mengatakan dirinya sendiri mengalami krisis eksistensi.

Perjalanan Hidup Yang Berubah

Sekitar 2016 sampai akhir 2018, hampir dua tahun lamanya ia hidup berpindah-pindah kota. Berubah penampilan dengan rambut gondrong. Bergaul dengan komunitas punk, tidur di mana saja, mengikuti arus kemana hatinya itu melangkah.

Perjalanannya dimulai dari wilayah kecil di Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas yang saat itu Andra mencoba menginap semalam dan tidak pulang. Ia lalu melanjutkan perjalanannya ke Bumiayu, Brebes, lalu bergerak makin jauh hingga akhirnya bersama komunitasnya berhenti di Jogja. Dari sana perjalanan sempat berlanjut lagi ke Tangerang dan Bandung.

Ia bahkan tak pernah pulang balik ke rumah selama masa pelariannya itu. Padahal kedua orangtuanya resah dan mencoba mencari dimana keberadaanya.

Titik Balik di Yogyakarta

Di Jogja itulah ia bertemu anak-anak punk dari kampus seni di Yogyakarta, khususnya dari lingkungan kampus ISI. Di sana, ia justru menemukan hal yang berbeda. Untuk pertama kalinya, ia melihat buku-buku, diskusi, dan literasi.

Dari situ pemahamannya tentang punk berubah total. Menurutnya, apa yang ia lihat sebelumnya di jalanan hanya sebatas slogan. Terutama soal slogan anti-penindasan, tapi praktiknya justru menindas. Sementara di lingkungan baru itu, ideologi dan tindakan terasa selaras.

Dari lingkungan ISI itulah pandangannya berubah. Ia baru tahu, punk tidak melulu mabuk-mabukan atau urakan. Banyak dari mereka justru mengoleksi buku, membaca, dan berkarya. Mereka punya literasi yang kuat.

Kesempatan Kedua di PKBM

Setelah pengambilan rapor di MTs, semuanya sudah selesai begitu saja tanpa penjelasan. Setelah itu, pilihannya jatuh pada PKBM. Di sanalah ia kembali melanjutkan pendidikan. Langkah Andra Julianto menuju bangku pendidikan di PKBM bukan keputusan yang datang tiba-tiba. Ada peran ayah di baliknya. Ayahnya lah yang pertama kali menyarankan ia masuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai jalan terakhir agar tetap bisa melanjutkan sekolah dan pendidikan.

Di pertengahan semester akhir ia mendapat pelatihan kopi. Dari situlah semuanya berubah. Pelatihan tersebut menjadi titik balik, dan ia memutuskan serius menekuni dunia kopi.

Kopi, Literasi, dan Nama “Rakyat Sipil”

Dalam benaknya konsep penjual kopi keliling mestinya menggunakan motor klasik seperti Astrea atau Vespa agar terkesan retro. Namun yang ia miliki hanya motor Revo. Ia sempat bingung mau membawa konsep seperti apa dalam berjualan. Ia lalu berpikir Revo identik dengan apa? Lalu ia teringat sesuatu yang sering ia lihat.

“Saya lihat pegawai koperasi hampir selalu memakai motor Revo. Di berbagai kota, gambarnya sama. Bahkan sering muncul di meme bahwa pegawai koperasi selalu menggunakan motor Revo,” katanya.

Dari situ muncul ide nama. Ia mengembangkan kepanjangan dari Koperasi, Kopi, Rakyat, Sipil. Kadang juga ia maknai sebagai Kopi dan Literasi, karena ia sering membawa dan membaca buku. Maknanya sederhana, kemudian Kopi untuk rakyat biasa, untuk sipil, untuk konsumen sehari-hari.

Ternyata nama brand kopinya terinspirasi dari sosok-sosok pegawai koperasi yang berkeliling melayani masyarakat dengan motor Revo. “Saya ingin kopi buatan saya kopinya juga dekat dengan orang kecil. Bukan kopi mewah, tapi kopi yang membumi,” tutupnya.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *