Bisnis  

Tren investasi emas digital meningkat, ini tips aman yang harus diketahui

Investasi Emas Digital: Perhatikan Hal-Hal Penting Sebelum Memulai

Topik investasi emas digital sedang menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan, baik di tingkat global maupun lokal. Hal ini terjadi setelah sebuah platform investasi emas digital bernama Jieworui (JWR) yang berada di Shenzhen, Tiongkok, mengalami krisis likuiditas sejak akhir Januari 2026. Insiden ini menyebabkan para nasabah kesulitan dalam menarik dana mereka, dengan total dana yang tertahan mencapai 13,4 miliar yuan (sekitar Rp29,5 triliun).

Krisis memuncak pada tanggal 20 Januari 2026 ketika ribuan investor gagal menarik dana akibat lonjakan harga emas global yang memicu penarikan massal. Platform tersebut kemudian membatasi jumlah penarikan harian menjadi 500 yuan dan 1 gram emas per hari mulai 26 Januari, yang memicu protes dari 150.000 korban di kawasan Shuibei. Dengan adanya insiden ini, masyarakat dunia kini semakin waspada saat ingin melakukan investasi emas digital.

Di Indonesia, banyak platform investasi emas digital telah hadir. Salah satu yang paling populer dan terpercaya adalah aplikasi Tring milik PT Pegadaian. Aplikasi ini sangat diminati oleh masyarakat, khususnya generasi muda yang mulai sadar akan pentingnya investasi. Mereka memilih investasi emas digital karena mudah diakses dan fleksibel.

Tips untuk Berinvestasi Emas Digital

Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil X Jawa Barat, Eko Supriyanto, memberikan beberapa tips bagi masyarakat yang ingin melakukan investasi emas digital. Ia menekankan prinsip “Legal dan Logis” sebagai dasar utama dalam berinvestasi. Menurut Eko, setiap gram emas digital yang dimiliki harus didukung oleh emas fisik yang nyata dan tersimpan aman di brankas resmi. Berikut adalah lima hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai investasi emas digital:

  1. Cek Legalitas dan Pengawasan Regulator

    Pastikan platform yang Anda gunakan memiliki izin operasional resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau tercatat di BAPPEBTI (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi). Legalitas ini memberikan perlindungan hukum jika terjadi sengketa di masa depan.

  2. Pastikan Ada Emas Fisiknya (Underlying Asset)

    Platform yang terpercaya wajib menjamin rasio 1:1 antara emas digital dan emas fisik. Artinya, setiap 1 gram emas digital yang Anda beli harus didukung oleh 1 gram emas fisik yang tersimpan di brankas resmi. Tanpa jaminan ini, saldo digital Anda hanyalah angka tanpa nilai aset.

  3. Transparansi Harga dan Selisih (Spread)

    Spread adalah selisih antara harga beli dan harga jual. Bandingkan spread antar-platform secara organik. Platform yang sehat akan menampilkan harga secara real-time dan transparan tanpa ada biaya siluman saat Anda melakukan pencairan.

  4. Likuiditas: Mudah Cair dan Bisa Dicetak

    Investasi yang baik adalah investasi yang mudah dicairkan saat butuh dana mendesak. Pastikan platform memiliki fitur buyback yang cepat. Selain itu, pastikan saldo digital Anda bisa dicetak menjadi emas batangan fisik bersertifikat kapan saja.

  5. Reputasi dan Keamanan Digital

    Cek rekam jejak perusahaan. Di era siber, pastikan aplikasi memiliki keamanan berlapis seperti 2FA (Two-Factor Authentication) dan enkripsi data. Memilih lembaga dengan fundamental negara, seperti Pegadaian, memberikan keamanan infrastruktur yang lebih terjamin dari risiko peretasan.

Pandangan Perencana Keuangan

Perencana keuangan Andi Nugroho menjelaskan bahwa emas masih menjadi pilihan investasi favorit karena sifatnya yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat. “Emas lebih familiar bagi banyak orang. Proses membelinya mudah dan menjualnya juga gampang. Karena itu, emas termasuk instrumen yang likuid,” ujar Andi.

Menurutnya, emas lebih cocok dijadikan investasi jangka menengah hingga panjang. Pasalnya, terdapat selisih antara harga beli dan harga jual (spread) yang bisa memengaruhi keuntungan investor. Meski demikian, investasi emas juga memiliki risiko. Emas fisik, misalnya, berukuran kecil sehingga rawan hilang atau menjadi sasaran tindak kriminal.

Sementara itu, emas digital memiliki risiko berbeda. Karena fisik emas belum berada di tangan investor, potensi kerugian muncul jika penyedia layanan mengalami gagal bayar atau bahkan menutup platformnya secara tiba-tiba. “Emas digital karena fisik barangnya belum berada di tangan kita memiliki risiko hilang, misalnya akibat penyedia layanan emas digital kabur atau menutup aplikasinya dan tidak bisa dilacak lagi,” kata Andi.

Untuk meminimalkan risiko, Andi membagikan sejumlah tips berinvestasi emas yang aman dan menguntungkan, yakni:
– Membeli emas fisik yang bersertifikat, ataupun emas digital dari aplikasi yang terpercaya
– Jika memilih emas fisik, pilihlah emas batangan bukan perhiasan
– Lakukan investasi emas dengan cara membelinya sedikit demi sedikit
– Untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, emas sebaiknya diinvestasikan untuk jangka menengah atau panjang, yakni minimal 3 tahun sebelum dijual kembali
– Bila ingin berinvestasi dalam jangka pendek, pastikan ketika menjual emas harga buyback-nya sudah lebih tinggi dibandingkan harga ketika kita beli dahulu
– Ketika menjual emas sebaiknya di gerai resmi seperti gerai Antam ataupun toko emas yang bonafid.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *