Peningkatan tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi di akhir tahun 2025 ternyata masih berlanjut pada hari-hari pertama perdagangan bursa di tahun 2026. Rekor harga penutupan tertinggi sepanjang masa (all time high) kembali tercipta. Pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, IHSG menguat sebesar 42,82 poin atau 0,47 persen ke level 9.075,41. Sejak dibuka di posisi 9.072,30, indeks langsung menguat dan mencapai level tertinggi harian sebesar 9.100,83.
Apakah ini menandakan bahwa IHSG sedang memasuki fase bullish pasar saham? Optimisme terus dikumandangkan oleh banyak kalangan, termasuk Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Meski prediksi IHSG mencapai 9.000 di akhir tahun 2025 tidak terbukti, ia kembali memberikan prediksi yang lebih optimis untuk tahun 2026: IHSG akan tembus 10.000. Prediksi ini didukung oleh kebijakan ekonomi yang semakin selaras antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI), sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.
Beberapa analis dan ekonom juga menyambut target IHSG 10.000 sebagai sesuatu yang realistis. Stimulus yang diberikan pemerintah dan BI, pelaksanaan program unggulan, serta peluang pemangkasan suku bunga menjadi faktor pendukung positif bagi IHSG. Selain itu, perbaikan kinerja emiten juga dianggap sebagai katalis positif.
JP Morgan Indonesia juga merilis prediksi serupa, yaitu IHSG akan mencapai 10.000 pada tahun 2026. Analisis JPMorgan menunjukkan bahwa setelah tahun transisi politik sepanjang 2025, pasar saham domestik memasuki periode dengan prospek pertumbuhan yang lebih kuat. Peningkatan belanja pemerintah dari APBN serta penyaluran dana melalui Danantara menjadi pendorong utama aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat. Selain itu, perbaikan kondisi makro global dan meredanya ketegangan geopolitik juga turut berkontribusi.
Rekor jumlah investor
Tahun 2025 bukan hanya menjadi panggung bagi IHSG mencatatkan rekor, tetapi juga mencatatkan tonggak sejarah baru bagi pasar modal. Tahun tersebut menjadi momen saat Single Investor Identification (SID) melampaui angka 20 juta. Dalam press release tanggal 18 Desember 2025, PT Bursa Efek Indonesia menyebutkan bahwa jumlah investor Pasar Modal tercatat sebanyak 20.042.365 SID pada Rabu, 17 Desember 2025.
Data ini menunjukkan peningkatan sebesar 34,8% atau 5.170.726 SID dibandingkan posisi 14.871.639 SID pada penutupan tahun 2024. Jumlah investor saham juga mengalami lonjakan signifikan, mencapai 8.461.938 SID, meningkat 32,6% atau 2.080.494 SID dibandingkan data akhir 2024 sebanyak 6.381.444 SID.
Media beberapa kali melaporkan peran besar investor ritel domestik dalam menjaga geliat ketahanan pasar saham di tengah aksi jual besar-besaran yang dilakukan investor asing. Lonjakan jumlah investor ini bisa menjadi indikasi positif, tetapi juga perlu dilihat secara mendalam. Apakah para investor baru tersebut benar-benar memiliki pemahaman dasar tentang investasi pasar modal, atau hanya ikut-ikutan karena euforia?
Tahun 2025 lalu merupakan tahun yang luar biasa bagi investor. Beberapa emiten berhasil mencatatkan kenaikan harga yang signifikan, bahkan sampai ribuan persen dalam waktu singkat. Fenomena saham-saham IPO juga terjadi, dengan beberapa emiten mencatatkan ARA sampai belasan kali berturut-turut. Hal ini membuat banyak orang tergiur untuk masuk ke pasar saham tanpa mempertimbangkan risiko.
Di media sosial, kita juga melihat semakin banyak orang memamerkan floating profit saham mereka. Ada yang mencapai ratusan persen alias multibagger. Bahkan ada yang menggunakan fasilitas dana margin dari sekuritas untuk membeli saham dan berhasil mendapatkan keuntungan hingga ratusan juta rupiah.
Nasihat klasik
Meskipun senang dengan fenomena lonjakan jumlah investor pasar modal, kita harus tetap waspada. Ketertarikan para investor terjun ke pasar modal seharusnya bukan hanya karena tergiur euforia sesaat. Pasar modal, khususnya pasar saham, seharusnya tidak dijadikan ajang spekulasi seperti kasino. Prinsip dasar berinvestasi saham adalah adanya aktivitas bisnis perusahaan yang berjalan, manajemen, produk, dan laba yang dihasilkan.
Namun, seperti yang sering diungkapkan Warren Buffett, aktivitas pasar saham sering kali tidak rasional. Ia menggambarkan pasar saham seperti Mr. Market yang karakternya sangat labil dan emosional. Ada kalanya ia pesimis, dunia terasa gelap, dan semua berita dianggap negatif. Saat ini, investor cenderung menjual sahamnya di harga apa pun. Namun, saat Mr. Market menjadi sangat optimis, investor serakah membeli saham, membuat pasar saham sangat bergairah.
Salah satu nasihat klasik yang disampaikan Buffett adalah “be fearful when others are greedy and be greedy when others are fearful”. Artinya, takutlah ketika orang lain serakah dan serakahlah ketika orang lain takut. Prinsip ini telah terbukti berhasil selama puluhan tahun. Saat pasar saham dilanda ketakutan, Buffett justru agresif membeli saham perusahaan bagus. Sebaliknya, saat pasar saham sedang euforia, ia menahan diri dan tidak ikut-ikutan. Tak lama kemudian, banyak orang bangkrut karena harga saham internet jatuh, sementara Buffett tidak kehilangan uang sepeser pun.
Saya juga teringat nasihat Lo Kheng Hong, salah satu investor legendaris tanah air, yang pernah berkata, “Tuhan Maha Pengampun, namun bursa saham tidak pernah memberi ampun orang yang tidak memahami saham yang dibelinya alias membeli kucing dalam karung”.
Jambi, 18 Januari 2026
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












