Bisnis  

Grup Djarum Akuisisi Sariwangi Rp1,5 Triliun, Teh Bandulan Terancam Kehilangan Pasar

Perkembangan Akuisisi Merek Teh oleh PT Savoria Kreasi Rasa

PT Savoria Kreasi Rasa, yang merupakan anak perusahaan dari Grup Djarum, sempat mengincar akuisisi merek teh Bandulan asal Pekalongan. Namun, proses tersebut tidak berjalan sesuai harapan dan akhirnya tidak terwujud. Sebagai alternatif, perusahaan memutuskan untuk mengakuisisi bisnis teh Sariwangi dari Unilever Indonesia dengan nilai transaksi sebesar Rp1,5 triliun.

Akuisisi ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi Savoria dalam pasar teh nasional. Di sisi lain, bagi Unilever Indonesia, penjualan bisnis Sariwangi dinilai memberikan manfaat signifikan dalam hal efisiensi operasional, penguatan neraca keuangan, serta meningkatkan sentimen positif terhadap saham UNVR.

Sejarah dan Kehadiran Teh Bandulan

Teh Bandulan adalah merek teh tradisional yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Merek ini dikenal luas karena memiliki cita rasa kuat yang khas dan telah menjadi bagian dari budaya minum teh masyarakat setempat. Kisah awalnya dimulai pada tahun 1933 oleh perusahaan keluarga CV. Budi Djaya, dengan impian sederhana untuk menyediakan teh yang harum, enak, dan terjangkau.

Saat ini, produk Teh Bandulan tersedia dalam beberapa varian, termasuk teh kering, teh cup/gelas, dan teh celup. Meskipun sempat ada pembicaraan antara Savoria dan manajemen Bandulan, termasuk kunjungan ke pabrik di Pekalongan dan permintaan syarat tertentu, proses akuisisi tersebut akhirnya tidak berhasil. Savoria kemudian memilih untuk mengambil alih Sariwangi dari Unilever Indonesia.

Langkah Strategis Savoria Kreasi Rasa

Akuisisi Sariwangi merupakan langkah strategis bagi Savoria untuk memperkuat posisi di pasar teh nasional. Sariwangi sendiri adalah merek teh legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1973 dan memiliki loyalitas konsumen yang tinggi. Menurut informasi yang dirilis pada 7 Januari 2026, Unilever Indonesia telah menandatangani perjanjian pengalihan bisnis atau business transfer agreement (BTA) pada 6 Januari 2026, dengan rencana penyelesaian transaksi pada 2 Maret 2026 atau tanggal lain yang disepakati.

Dalam pernyataannya, Sekretaris Perusahaan UNVR, Padwestiana Kristanti, menjelaskan bahwa penjualan bisnis teh ini memungkinkan perseroan untuk merealisasikan nilai investasinya dan mengembalikan nilai tersebut kepada pemegang saham dalam jangka pendek. Selain itu, perusahaan akan lebih fokus pada bisnis inti guna meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang.

Dampak Ekonomi dan Keuangan

Nilai transaksi sebesar Rp1,5 triliun ini setara dengan sekitar 45 persen dari ekuitas UNVR berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025 yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Terdaftar Siddharta Widjaja & Rekan (anggota jaringan KPMG). Total aset bisnis teh Sariwangi mencapai sekitar 2,5 persen dari total aset UNVR. Kontribusi laba bersih segmen ini mencapai 3,1 persen dari total laba bersih perseroan, dengan porsi pendapatan usaha sekitar 2,7 persen.

Manajemen Unilever Indonesia menegaskan bahwa transaksi ini tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha perusahaan ke depan.

Perspektif Analis Pasar

Dari sudut pandang analis, aksi korporasi ini dinilai sebagai sentimen positif bagi saham UNVR. Muhammad Wafi, Head of Research Kisi Sekuritas, menyebutkan bahwa pelepasan bisnis teh Sariwangi merupakan keputusan strategis untuk meningkatkan efisiensi dan fokus bisnis perseroan. Ia menilai bahwa pasar teh nasional sudah jenuh dengan laju pertumbuhan yang relatif terbatas, sedangkan segmen personal care dan consumer foods masih menawarkan prospek pertumbuhan dan margin keuntungan yang lebih tinggi.

Wafi juga menyampaikan bahwa dana sebesar Rp1,5 triliun dari transaksi ini dapat memperkuat struktur neraca Unilever Indonesia dan memungkinkan perusahaan lebih fokus mengembangkan bisnis inti. Ia menyarankan agar dana tersebut digunakan untuk memperkuat strategi pemasaran dan meningkatkan daya saing terhadap produk lokal agar manfaatnya lebih berkelanjutan.

Respons Pasar Modal

William Hartanto, praktisi pasar modal sekaligus founder WH-Project, menilai bahwa aksi pelepasan bisnis oleh UNVR bukanlah kali pertama dilakukan dan umumnya disambut positif oleh pasar. Ia mencontohkan, pada tahun 2025 lalu, saham UNVR mengalami penguatan sejak Maret setelah perusahaan melakukan aksi divestasi serupa. Ia memprediksi kondisi yang sama bisa terjadi kembali, apalagi hingga saat ini saham UNVR belum mengalami tekanan jual yang signifikan.


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *