Tren Kredit Sindikasi yang Lesu hingga Akhir 2025
Permintaan kredit sindikasi perbankan masih menunjukkan kelesuan hingga akhir tahun 2025. Hal ini terlihat dari penurunan kesepakatan kredit sindikasi dari sisi Mandated Lead Arranger. Berdasarkan data Bloomberg, jumlah kesepakatan kredit sindikasi mencapai US$ 28,88 miliar pada akhir tahun 2025. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 11,1% secara tahunan atau year on year (YoY).
Pada tahun 2025, lima bank terbesar dalam penyaluran kredit sindikasi adalah Bank Mandiri, BNI, DBS Group, BRI, dan BCA. Keseluruhan lima bank tersebut mendominasi dengan total nilai sebesar US$ 16,59 miliar.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyampaikan bahwa BCA berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan perekonomian nasional melalui penyaluran kredit sindikasi ke sektor-sektor strategis. Berdasarkan data Bloomberg, BCA mayoritas menyalurkan kredit sindikasi ke sektor pertambangan. Pada tahun 2025, penyaluran kredit sindikasi BCA mencapai US$ 2,02 miliar, yang turun sekitar 0,84% YoY.
“Per Desember 2025, penyaluran kredit sindikasi BCA mencatatkan pertumbuhan positif. Ke depan, tren penyaluran kredit sindikasi diperkirakan akan bergerak sejalan dengan dinamika dan kondisi perekonomian nasional,” ujar Hera.
Hera menjelaskan bahwa BCA selalu mempertimbangkan faktor risk appetite, posisi likuiditas, dan modal saat berpartisipasi dalam kredit sindikasi. Selain itu, BCA juga memilih proyek-proyek yang berpotensi memperkuat bisnis intinya.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, juga menyebutkan bahwa seluruh pembiayaan di BSI pada akhir tahun 2025 menunjukkan tren positif, termasuk pembiayaan sindikasi. BSI telah menyalurkan pembiayaan sindikasi sepanjang 2025 sebesar US$ 234,36 miliar. Meski begitu, angka ini mengalami penurunan sekitar 3% jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Anggoro menilai bahwa pembiayaan sindikasi bisa membaik dengan dukungan pemerintah melalui stimulus ekonomi dan kebijakan yang mendukung peningkatan konsumsi masyarakat. Selain itu, proyek strategis nasional yang sedang berjalan juga memberikan kepercayaan bagi pelaku industri.
“Di BSI sendiri, segmen wholesale tumbuh solid, terutama sektor Telekomunikasi dan Industri Migas,” ujar Anggoro.
Penilaian Ekonom tentang Kondisi Kredit Sindikasi
Beberapa ekonom memprediksi bahwa kondisi kredit sindikasi pada 2026 tidak akan jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai melemahnya kredit sindikasi tidak lepas dari berakhirnya era masif pembangunan infrastruktur yang sebelumnya menjadi motor utama pembiayaan sindikasi.
Menurut Huda, fokus pembangunan pemerintah kini bergeser dari infrastruktur fisik ke pengembangan sumber daya manusia. Proyek infrastruktur nampaknya sudah “habis masa” seiring selesainya pemerintahan Jokowi. Proyek BUMN yang biasanya dibiayai kredit sindikasi pun mulai mandek karena fokus pemerintah bergeser ke pembangunan SDM, seperti program MBG.
Di sisi lain, minat sektor swasta untuk berekspansi juga masih tertahan. Lesunya pasar membuat banyak korporasi menunda pembangunan pabrik baru, sehingga kebutuhan pembiayaan berskala besar ikut menyusut. Huda memperkirakan kondisi ini akan tetap berlanjut pada tahun 2026.
Pandangan Moch Amin Nurdin tentang Perlambatan Kredit Sindikasi
Advisor Banking & Finance Development Center, Moch Amin Nurdin, menilai perlambatan kredit sindikasi pada 2025 dipicu oleh kombinasi permintaan korporasi yang lesu dan sikap konservatif perbankan.
“Permintaan kredit sindikasi melemah karena korporasi menunggu kondisi ekonomi membaik dan sebagian lebih memilih pendanaan lewat obligasi. Dari sisi bank, penyaluran kredit juga lebih hati-hati, apalagi cost of funds masih tinggi sehingga dana banyak ditempatkan di instrumen minim risiko,” ujar Amin.
Menurut Amin, tren ini diperkirakan masih berlanjut pada 2026. Meski pemerintah mengisyaratkan pendorong pertumbuhan ekonomi berasal dari investasi dan ekspor, perbankan diprediksi tetap selektif. Hal ini tercermin dari kecenderungan bank-bank besar yang mulai menaikkan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebagai langkah antisipasi risiko.
Strategi untuk Meningkatkan Prospek Kredit Sindikasi
Meski demikian, Amin menyebut prospek kredit sindikasi tetap terbuka. Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia dan pelaku industri, pertumbuhan kredit sindikasi pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 8% hingga 12%.
Untuk menangkap peluang tersebut, Amin menilai perbankan perlu menyiapkan sejumlah strategi. Di antaranya:
- Memperluas kerja sama dengan bank lain dan institusi keuangan dalam pembiayaan proyek besar
- Menawarkan produk sindikasi yang lebih kompetitif dan inovatif
- Memperkuat manajemen risiko melalui pembentukan CKPN
Selain itu, penyaluran kredit sindikasi juga diarahkan ke sektor-sektor unggulan seperti manufaktur, pertanian, dan infrastruktur yang dinilai mampu mendukung perekonomian domestik dan penciptaan lapangan kerja.
“Yang tak kalah penting, bank harus tetap menerapkan SOP yang ketat dan tata kelola yang baik dalam penyaluran kredit sindikasi,” pungkas Amin.












