BANDUNG – Ketua Koperasi Bandung Tertib (Kobanter) Baru Jabar, Dadang Hamdani mengakui bahwa pihaknya tidak bisa mencegah jika masih ada angkutan kota (angkot) yang beroperasi pada tanggal 1 Januari 2026.
Menurutnya, hingga saat ini masih banyak sopir angkot yang belum menerima uang kompensasi sebesar Rp 600.000 seperti yang dijanjikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Kami juga akhirnya tidak bisa tegas dan kami tidak bisa melarang sopir (yang mau beroperasi). Ada beberapa persen yang jalan. Saya tidak bisa melarang, itu bagian mereka yang tidak menerima kompensasi,” ujar Dadang saat dihubungi, Kamis (1/1/2025).
Dadang menambahkan, pihaknya menerima banyak keluhan dan kekecewaan dari sopir angkot yang berada di bawah Kobanter terkait banyak sopir yang dianggap gagal syarat dan dokumennya sebagai penerima kompensasi.
Menurut Dadang, pada Rabu (31/12/2025) kemarin, pihaknya sudah ikut membantu Dishub Jabar dalam proses pendaftaran hingga pencairan uang kompensasi di Sport Jabar Arcamanik.
“Jujur saja, kami juga selaku operator kecewa sudah memperjuangkan ternyata masih banyak anggota tidak dapat kompensasi. Pengemudi kemarin sudah ngantre habis waktu, berdesak-desakan sampai tidak narik,” tegasnya.
Dadang menjelaskan, Kobanter Baru Jabar mendaftarkan 2.067 orang sopir dan 1.198 orang pemilik angkot dari 27 trayek yang dikelola, sebagai penerima kompensasi. Di tengah jalan, Dishub Jabar memutuskan menyoret pemilik angkot dari daftar penerima kompensasi.
Dishub Jabar pun pada waktu pencairan menetapkan jika yang terdaftar sebagai penerima kompensasi dari Kobanter Baru Jabar hanya berjumlah 1.830 sopir.
“Dari 1.830-an itu banyak yang tidak cair. Alasannya datanya tidak ada, dokumennya kurang dan lain-lain. Sekitar 30 persennya tidak cair,” ungkapnya.
Dadang pun berkomitmen untuk kembali memperjuangkan anggotanya yang tidak mendapatkan uang kompensasi libur malam tahun baru pada tanggal 2 Januari 2026 besok.
“Kami akan akomodir anggota kami yang sudah mogok tanggal 31 Desember 2025 dan 1 Januari 2026, akan kita perjuangkan hak-haknya, kita tampung semua keluhan pengemudi dan saya akan sampaikan ke pemerintah,” tegasnya.
Sebelumnya, sejumlah sopir angkutan kota (angkot) di Kota Bandung hingga saat ini masih belum mendapatkan kompensasi atas kebijakan larangan operasional di tanggal 31 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026.
Oko (36), sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom mengaku bingung harus “narik” atau tidak hari ini. Sebab, sampai saat ini uang kompensasi sebesar Rp 600.000 yang dijanjikan untuk sopir angkot yang tidak beroperasi di tanggal 31 Desember 2025 dan 1 Januari 2026 tidak bisa dicairkan.
“Saya sampai sekarang belum dapat. Kemarin sudah ikut antre ke (Sport Jabar) Arcamanik. Sebelumnya juga sudah kirim data ke pengurus (koperasi angkot). Tapi (antre) sampai jam 18.00 WIB enggak cair-cair,” kata Oko saat ditemui di Cicaheum, Kota Bandung.
Sementara itu, pemilik tiga unit angkot jurusan Kebon Kalapa-Cicaheum (01), Undang Sunandi (62) mengatakan, 3 orang sopirnya hingga hari ini belum menerima uang kompensasi dari Pemprov Jawa Barat. Meskipun dia dan 3 sopirnya sudah didaftarkan oleh koperasi angkot Kobanter dan memiliki ATM Bank BJB.
“Saya sama sopir kemarin (31 Desember 2025) ke Gor Antapani (Sport Jabar) karena sudah didaftarkan. Tapi yang pemilik jadinya dicoret, jadi enggak dapat uang kompensasi. Tapi sopir saya juga sampai sekarang enggak ada yang cair, gimana ini,” ujarnya.
Undang mengaku sudah ikhlas jika pemilik dicoret dari daftar penerima kompensasi. Namun dia tetap berharap agar sopir-sopirnya tetap diberikan uang kompensasi untuk menyambung hidup setelah dua hari tidak bekerja.
“Informasi dari pengurus Kobanter katanya hari ini jangan narik dulu, diusahakan tanggal 2 Januari 2026 cair. Tapi hari ini diusahakan jangan narik karena kalau enggak libur, percuma diperjuangkan,” bebernya.
Undang mengatakan, hampir seluruh sopir angkot trayek Kebon Kalapa-Cicaheum (01) tidak menerima uang kompensasi.
Sementara itu, pantauan di Jalan AH Nasution, Kota Bandung, masih banyak angkot yang beroperasi. Salah satu trayek yang cukup aktif adalah Cicaheum-Cileunyi.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”












