Kebun Kakao Organik di Bali yang Menawarkan Solusi untuk Pekebun Lokal
Di Dusun Cau, Desa Tua, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali, hawa sejuk menyambut pengunjung pada pagi hari Selasa (25/11). Sinar matahari menembus dedaunan rimbun pohon kakao di kebun percontohan milik Cau Chocolates. Kebun ini kini menjadi pusat perhatian karena menjadi industri pengolahan terintegrasi yang memiliki perkebunan kakao organik percontohan.
Konsep rantai pasok hulu-hilir dapat diperkenalkan kepada konsumen melalui proses mulai dari memetik kakao di pohon, pemrosesan, hingga diolah menjadi aneka coklat. Produsen coklat ini telah menembus pasar Australia dan Polandia dengan model baru dalam rantai pasok yang diharapkan mampu menyejahterakan pekebun kakao lokal, khususnya di Kabupaten Tabanan dan Jembrana.
CEO Cau Chocolates, I Kadek Surya Prasetya Wiguna, mengungkapkan bahwa perusahaan ini berani membeli kakao di atas harga patokan pasar global. Saat ini, harga kakao di pasar global mencapai Rp85.000,- per kilogram (kg), tetapi pihaknya mampu membeli dengan harga Rp100.000,- per kg. Dengan cara ini, pekebun dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp10 juta per bulan untuk lahan satu hektare (ha).
Namun, ia menegaskan bahwa langkah ini membutuhkan komitmen dari pekebun kakao untuk menjaga kualitas. “Masalah pekebun kita itu integritas. Yang punya integritas tidak banyak. Justru lebih parah lagi biji bisa ditambah batu. Jadi basis [kerja sama] memang komitmen dan loyalty,” katanya.

Padahal, biji kakao petani yang diserap oleh pabrikan ini bakal meningkat menyusul rencana Cau Chocolates untuk meningkatkan kapasitas produksi. Bahkan, dia mengaku akan menginvestasikan dana senilai Rp10 miliar dari pinjaman bank pemerintah alias Himpunan Bank Negara (Himbara) untuk merealisasikan rencana ekspansi tersebut. Jika rencana berjalan lancar, porsi ekspor diharapkan akan meningkat dari 10% menjadi 50%. Dia memproyeksikan bahwa apabila rencana ekspansi sukses, maka kapasitas produksi bisa mencapai 300 ton per tahun, yang artinya sekitar 150 ton akan ditujukan untuk pasar ekspor.
Anomali Produksi Kakao di Bali
Saat ini, fasilitas produksi yang dipasok oleh pekebun lokal rata-rata membutuhkan 7 ton hingga 10 ton dalam satu bulan. Uniknya, di tengah tren penurunan produksi kakao nasional, Kadek Surya justru melihat anomali untuk pekebun lokal Bali.
“Tahun lalu, biasanya biji kakao di November sudah tidak ada, sudah kosong. Nah, hari ini, biji kakao masih ada pekebun-pekebun yang memasok ke kami,” ujarnya. Menurutnya, anomali ini disebabkan adanya perbaikan harga di level pekebun. Mereka, imbuhnya, tidak pernah merawat kebunnya, tetapi dengan adanya perbaikan harga kakao, kini mereka fokus untuk memelihara kebunnya sehingga produksinya berkelanjutan.

Kondisi tersebut diakui oleh pekebun kakao dari Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, I Gede Eka Aryasa. Menurutnya, dengan kondisi harga kakao yang membaik, pekebun kakao kini makin bersemangat. Bahkan, dia menceritakan bahwa lahan jati di sebelah kebun kakaonya, kini telah disulap oleh pemiliknya menjadi pohon kakao lantaran harga yang bagus. Oleh sebab itu, dia berharap bahwa bantuan pemerintah baik dari segi bibit maupun sarana prasarana bisa terus berkelanjutan.
Bagi pekebun kakao turun temurun seperti dirinya, persoalan bibit memang bukan menjadi hal yang ia khawatirkan. Ia rutin melakukan peremajaan, bahkan di umur pohon kakao yang baru 18 tahun alias usia produktif untuk menjaga keberlanjutan produksi biji.
“Kebun saya lima hektare [ha]. Namun, populasi tidak mencapai 700 pohon per ha lantaran saya menggunakan sistem tumpang sari, sehingga hanya 400 pohon per ha. Semuanya produktif,” katanya. Akan tetapi, imbuhnya, masih banyak pekebun yang kini merawat lahan kakaonya, yang belum tersentuh bantuan bibit.
“[Bantuan bibit] masih kurang. Pekebun yang tidak terakses ke pemerintah masih banyak di subak-subak [kelompok tani],” ujarnya. Gede Eka menambahkan bahwa di subak tempat ia bergabung, pada tahun ini juga tidak mendapatkan bibit kakao untuk peremajaan (replanting). Dari empat subak yang ia pantau, baru ada dua subak yang memeroleh bibit tersebut.
Khusus terkait pupuk, dia mengatakan bahwa pekebun di sekitaran wilayahnya menggunakan pupuk organik. Pupuk kimia biasanya hanya digunakan untuk awalan (starter) agar bibit lebih bagus dalam pertumbuhannya. Namun demikian, dia berharap bahwa pemerintah dapat memberikan bantuan untuk keduanya baik pupuk kimia maupun kompos karena keduanya dibutuhkan oleh pekebun kakao.
Dia menambahkan bahwa senyum semringah pekebun kakao sejatinya mulai tampak sejak sembilan bulan pascapenanaman bibit lantaran pohon mulai berbunga. Namun, hasil yang bisa dipetik oleh para pekebun kakao adalah dua tahun sejak penanaman. Artinya, replanting kakao hanya membutuhkan waktu dua tahun sebelum tanaman baru itu mulai memasuki usia produktif.
“Enggak perlu waktu lama, dua tahunan sudah bisa masuk kantong,” katanya.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”












