Teater dan Tubuh: Bahasa yang Hidup
Dalam dunia teater, tubuh bukan sekadar medium. Ia adalah bahasa yang hidup, arsip dari setiap pengalaman, dan jembatan menuju makna yang tak bisa diucapkan oleh kata-kata. Seperti yang dikatakan Edi Sutardi, M. Sn., kepada Kabar Priangan pada Kamis, 13 November 2025, “Teater mah kan selalu berurusan dengan tubuh, nggak ada teater non tubuh.” Kalimat sederhana ini menyentuh akar dari penciptaan teater itu sendiri: tubuh sebagai rumah dari kesadaran, alat dari pengembaraan, dan ruang bagi lahirnya teks baru yang nonverbal.
Namun, bagaimana sebenarnya cara menghadapi teks untuk dijadikan konsep pertunjukan berbasis tubuh? Pertanyaan ini membawa pada perenungan yang dalam tentang hubungan antara teks dan tubuh. Ketika naskah sudah hadir di tangan, ia kerap menjelma menjadi “penjara”, membatasi gerak dan imajinasi aktor.
Mencipta Teks Baru
Maka, menurut Edi Sutardi — tokoh teater nasional dan sutradara Teater Matahari Banjarmasi — tugas sutradara dan aktor adalah keluar dari teks itu untuk masuk pada teks baru — yakni teks yang lahir dari perjalanan tubuh, dari laku perenungan, dan dari dialog batin antara pelaku dengan ruang dan waktu.
Teater alternatif, dalam pandangan ini, bukan semata-mata tentang teknologi baru atau bentuk yang eksperimental. Ia adalah “teater dengan jalan lain dalam mewujudkan ekspresinya.” Sebuah tawaran segar dari teater yang sudah mapan dan umum.

Tubuh Memiliki Kehendak dan Kesadaran
Pegiat teater yang lahir di Ciamis pada 10 Juni 1975 ini mengingatkan bahwa tubuh aktor adalah mikrokosmos — setiap bagian memiliki kehendak dan kesadarannya sendiri. Maka, proses penciptaan teater berbasis tubuh bukan hanya latihan fisik, tetapi perjalanan spiritual: mengaktifkan kesadaran tinggi, mendengarkan detak tubuh, dan membangun keseimbangan antara kehendak dan kontrol. Dalam keadaan ini, tubuh bukan lagi instrumen, melainkan sumber makna yang hidup.
Perjalanan semacam ini, kata Edi, “ibarat kita masuk dari ruang kosong menuju hutan belantara yang masih murni untuk menemukan sebuah kota.” Hutan itu adalah kompleksitas pencarian, penuh gelap dan rimbun, di mana aktor dan sutradara harus menapaki jalan dengan kewaspadaan, ketelatenan, dan kesabaran. Ketika akhirnya sampai di “kota yang terang benderang”, bukan hanya pelaku yang tercerahkan, tetapi juga penonton yang menyaksikan.
Semuanya Penting!
Teater sejati, dalam pandangan ini, adalah hasil dari dialektika yang terus-menerus antara teori dan praktik, antara teks dan tubuh, antara kesadaran dan keluguan. “Jangan bilang yang penting mah prakteknya,” ujar Edi. “Dialektik dan praktik penting disetarakan.”
Sebab di sanalah teater mencapai makna sejatinya — ketika tubuh menjadi teks, dan teks menjelma tubuh. Pada akhirnya, menghadapi teks berarti memamahnya dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Seperti seseorang yang mengunyah lambat-lambat makanan kehidupan, kita biarkan setiap kata meresap ke tulang dan darah. Hingga akhirnya tubuh menjadi lebih organik, pertunjukan menjadi lebih jujur, dan perjalanan menuju “kota terang benderang” itu pun terasa tidak lagi jauh. “Maka berjalanlah dengan penuh keikhlasan”, tutup Edi Sutardi.












