Pergerakan IHSG pada Awal Perdagangan
Pada awal perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pergerakan tipis di zona hijau. Indeks tercatat menguat sebesar 0,04 persen atau 3,13 poin, bergerak ke posisi 8.391,70 setelah dibuka di level 8.412,83.
Selama sesi awal, IHSG sempat menyentuh level tertinggi pada 8.418,16, namun kemudian kembali terkoreksi dan bergerak dalam kisaran 8.389 hingga 8.408. Volume transaksi mencapai 6,34 miliar saham dengan nilai perdagangan sekitar Rp 2,73 triliun. Aktivitas pasar tergolong cukup aktif, terlihat dari frekuensi transaksi yang mencapai 432.476 kali.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 282 saham menguat, sedangkan 200 saham melemah, dan 198 saham tidak mengalami perubahan. Sebelumnya, IHSG ditutup naik sebesar 0,26 persen ke level 8.388,56.
Analisis Teknis oleh Ahli Pasar
Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa IHSG masih berada dalam fase penguatan sebagai bagian dari wave (iii) dari wave [iii]. Kondisi ini membuka ruang bagi indeks untuk bergerak menuju area 8.487 hingga 8.539.
“IHSG masih berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [iii], sehingga IHSG masih berpeluang menguat ke rentang area 8.487-8.539. Cermati area 8.279-8.332 sebagai area koreksi berikutnya. Support: 8.332, 8.276 dan Resistance: 8.488, 8.532,” ujar Herditya dalam analisis hariannya.
Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memperkirakan IHSG hari ini berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 8.310-8.410.
“Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 8.310-8.410,” katanya.
Isu Internasional yang Memengaruhi Pasar
Menurutnya, sejumlah isu internasional mulai dari hubungan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok hingga pergerakan inflasi India memengaruhi arah pasar. Pasar global sempat diwarnai kekhawatiran setelah Tiongkok belum juga merealisasikan pembelian kedelai dari Amerika Serikat, meski kedua negara sebelumnya menyepakati komitmen perdagangan pada tahun pertama kerja sama.
Tidak adanya pembelian ini menimbulkan kekhawatiran lanjutan di kalangan investor bahwa ketidakpastian hubungan dagang kedua negara dapat kembali meningkat. Tiongkok sejauh ini memang menahan pembelian kedelai musim ini, membuat sejumlah petani AS kesulitan karena hilangnya permintaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu pemicu AS membuka ruang negosiasi baru dengan Beijing, sementara Tiongkok justru memanfaatkan momentum ini sebagai kartu tawar.
Inflasi di India dan Dampaknya
Di sisi lain, India mencatat inflasi merosot ke rekor terendah, turun dari 1,44 persen menjadi 0,25 persen. Penurunan tajam ini membuka ruang lebih luas bagi bank sentral India untuk memangkas suku bunga. Harga pangan bahkan masuk wilayah deflasi, turun 5,02 persen secara tahunan.
Meski inflasi melandai, bank sentral India memperkirakan angka tersebut kembali menuju level 4 persen pada kuartal berikut. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pelaku pasar bahwa bank sentral India akan memangkas suku bunga 25 basis poin akhir tahun ini dan melanjutkan pemangkasan pada Februari mendatang.
Namun, India masih berhadapan dengan tekanan diplomatik dari Amerika Serikat, yang meminta negara tersebut mengurangi pembelian minyak dari Rusia. Hingga kini, India belum tentu bersedia karena harga minyak Rusia dijual lebih murah.
Kondisi Pasar Global dan Harapan Pemangkasan Suku Bunga
Di sisi lain, pasar global masih minim sentimen akibat tidak adanya rilis data ekonomi penting. Pelaku pasar masih menantikan kejelasan arah kebijakan The Federal Reserve, dengan harapan pemangkasan suku bunga berlanjut pada Desember. Ekspektasi tersebut membuat imbal hasil US Treasury menurun sehingga harga obligasi mengalami kenaikan.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Dari dalam negeri, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,3 persen pada 2026, sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut perbedaan tersebut terjadi karena BI menggunakan metode perhitungan berdasarkan data BPS dan hasil survei internal, termasuk asumsi stabilnya nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
BI menilai target 5,4 persen tetap dapat dicapai jika stimulus fiskal berjalan optimal sejak awal tahun. Proyeksi pertumbuhan 2026 juga lebih tinggi dari 2025 yang diperkirakan 5,1 persen, seiring kebijakan BI yang menguatkan sinergi moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.












