Bisnis  

Geliat Produksi Kue Cempaka Djoko dan Endang, Tanpa Bahan Pengawet Jadi Keunggulan

Perayaan Lebaran di Tengah Kegiatan Produksi Kue Kering

Di tengah semarak perayaan Lebaran, banyak keluarga di Kota Malang sibuk mempersiapkan berbagai kue kering untuk dibagikan kepada kerabat dan tetangga. Di balik kesibukan itu, ada usaha kecil yang terus berjalan tanpa henti. Salah satunya adalah Cempaka Cookies, sebuah usaha rumahan yang dipimpin oleh pasangan Djoko Winahyu dan Endang Susilowati.

Usaha ini berada di Perumahan Pondok Cempaka Indah View dan telah beroperasi sejak 2008. Sejak awal Ramadhan 1447 H/2026, aktivitas produksi tidak pernah berhenti. Suara mixer dan denting loyang menjadi bagian dari rutinitas harian mereka. Endang mengatakan bahwa setiap Ramadan selalu ramai dengan pesanan yang datang terus-menerus.

“Setiap Ramadan pasti ramai. Pesanan terus berdatangan, bahkan banyak yang minta diprioritaskan supaya tidak terlalu dekat dengan hari raya,” ujar Endang, Kamis (19/3/2026). Bersama dua putrinya dan bantuan anggota keluarga lainnya, mereka memproduksi berbagai jenis kue klasik seperti nastar dengan selai nanas, kastengel gurih, dan putri salju yang lumer di mulut.

Semua resep yang digunakan merupakan warisan keluarga. Meski persaingan produk kue kering semakin ketat, Cempaka Cookies tetap mempertahankan prinsip tanpa bahan pengawet. Endang menjelaskan bahwa kualitas bahan baku serta proses produksi higienis menjadi kunci utama dalam menjaga daya tahan produk.

Pelanggan Cempaka Cookies bervariasi, mulai dari instansi pemerintah, anggota dewan, hingga rumah sakit yang memesan dalam jumlah besar untuk kebutuhan parsel Lebaran. Dalam satu musim Ramadan, omzet bisa mencapai puluhan juta rupiah. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, berkisar antara Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu per toples ukuran 500 mililiter.

Kembali Berproduksi Setelah Vakum

Cerita serupa juga dialami oleh Hajar Marieta (27), yang akrab disapa Eta. Ia kembali menekuni usaha kue kering setelah sempat vakum selama dua tahun. Keputusan ini berbuah manis, karena di dapur sederhananya, ia masih sibuk memanggang adonan meski Lebaran tinggal hitungan hari.

“Alhamdulillah tahun ini ramai. Pelanggan lama kembali, yang baru juga banyak,” katanya. Sejak awal Ramadan, Eta telah memproduksi ratusan toples kue ukuran 600 mililiter. Pesanan tidak hanya datang dari Malang Raya, tetapi juga merambah ke luar kota seperti Surabaya, Sidoarjo, Jakarta, dan Tangerang.

Pengiriman dilakukan melalui jasa kargo agar bisa menjangkau pelanggan di berbagai daerah. Varian sagu keju menjadi primadona, karena teksturnya yang lembut dan lumer di mulut. “Kalau sagu biasa kan lebih berat, tapi ini lebih ringan dan terasa kejunya,” jelas Eta.

Meskipun harga bahan baku mengalami kenaikan, Eta tetap berupaya menjaga harga jual agar tetap bersaing. Ia hanya menaikkan harga sekitar lima persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tradisi yang Terus Hidup

Di balik setiap toples yang terisi penuh, ada kerja keras, harapan, dan kebersamaan keluarga yang dirajut sejak pagi hingga larut malam. Ramadan pun kembali menjadi berkah bagi para pelaku UMKM, menghadirkan peluang sekaligus cerita tentang ketekunan yang tak pernah padam di tengah aroma manis kue-kue Lebaran.




Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *