Krisis Ojol: Tantangan yang Menghiasi Bulan Ramadan
Krisis ojol menjadi topik yang hangat dibicarakan oleh warganet dalam beberapa hari terakhir. Istilah ini merujuk pada fenomena sulitnya mendapatkan pengemudi ojek online yang bersedia menerima pesanan pengantaran orang, barang, maupun makanan, khususnya selama jam sibuk di bulan Ramadan.
Lita, seorang pegawai swasta di Jakarta Utara, mengalami kesulitan untuk mendapatkan pengemudi ojol meskipun harga layanan meningkat signifikan saat jam sibuk. “Tidak ada yang mau mengambil order. Padahal saya buru-buru untuk menuju ke kantor,” ujar dia kepada sebuah situs berita.
Setyo Ardiansyah, mahasiswa yang tinggal di Jakarta Barat, juga mengeluhkan kesulitan mendapatkan pengemudi ojol untuk memesan makanan atau bahkan mengantarkan barang yang ia pesan di e-commerce. “Sudah sejak minggu lalu. Mau pesan makanan, tidak pernah ada yang mau ambil saat siang, sore, atau malam,” katanya.
Bahkan pesanan di e-commerce dengan opsi pengantaran instan baru terima tiga hari kemudian, karena toko online kesulitan mendapatkan kurir. Asti, pekerja di Jakarta Pusat, mengatakan bahwa biasanya ia mudah mendapatkan driver ojol meski saat jam sibuk, kecuali saat hujan. “Sekarang memesan layanan ojek online sulit. Kalaupun dapat, itu lama sekali menunggunya, bisa sampai satu jam,” ujar dia.
Tarif layanan pengantaran orang juga meningkat. Asti biasanya mendapatkan tarif Rp 15 ribu, namun belakangan ini menjadi Rp 25 ribu. Itu pun tetap sulit mendapatkan driver ojol.
Keluhan juga diutarakan sejumlah warganet di media sosial. “Jakarta sedang krisis ojol kah? Atau saya saja yang sial? Sudah beberapa minggu ini, saya memesan Gofood dan Shopee instan, tetapi susah sekali mendapatkan driver,” tulis akun @trynnaheal melalui akun media sosial Thread pada Sabtu (7/3). Unggahan itu direspons oleh beberapa warganet lainnya yang mengeluhkan hal serupa.
Penjelasan dari Mitra Pengemudi dan Aplikator
Mitra pengemudi Shopee Nurwansyah menyampaikan bahwa jumlah order meningkat menjelang Lebaran. Ia menduga, hal ini yang menyebabkan konsumen kesulitan mendapatkan driver ojol maupun kurir. “Memang sedang banyak pesanan menjelang Lebaran,” kata Nurwansyah.
Permintaan pesanan juga dirasakan untuk layanan pengantaran orang. “Selama Ramadan ini, order memang meningkat sekali. Pengemudi pun selektif, karena kondisi jalanan yang macet,” kata mitra pengemudi ojol Gojek, Edy. Ia menjelaskan bahwa jika ada pesanan jarak dekat sekitar 1,5 kilometer hingga tiga kilometer dengan tarif sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu, maka ia akan mempertimbangkan terlebih dahulu rute trafiknya. Jika melintas di jalan yang padat atau macet, ia tidak akan mengambil pesanan itu.
Selain itu, jika titik jemput jauh dari lokasinya, ia tidak akan mengambil order itu. Hal senada disampaikan oleh mitra pengemudi ojol Grab, Suryadi. Ia mencatat permintaan layanan pengantaran orang, makanan, dan barang meningkat selama Ramadan, terutama mendekati Lebaran. Di satu sisi, jalanan macet saat Ramadan, terutama menjelang berbuka puasa. “Mungkin selama bulan puasa ini banyak orang yang ingin pulang pada waktu yang sama. Jadi peningkatan order signifikan, ditambah dengan jalanan macet,” kata Suryadi.
Bahkan Ia memilih untuk tidak mengaktifkan aplikasi menjelang waktu berbuka puasa. Sebab, ia ingin beristirahat sembari menjalankan ibadah puasa, tanpa menghadapi kemacetan yang parah. “Saya lebih memilih offbid,” ujar dia. Sebab, karena kemacetan, ia hanya bisa melayani dua atau bahkan satu penumpang dalam dua jam, dibandingkan saat hari biasa yang bisa memperoleh empat pelanggan. “Saya aktifkan kembali pada jam tujuh malam lewat.”
Tanggapan dari Gojek, Grab, dan Shopee
Gojek dan Grab buka suara mengenai keluhan sejumlah konsumen yang kesulitan mendapatkan pengemudi ojol yang mau mengambil order pengantaran orang, barang maupun makanan. Head of Driver Operations Gojek Bambang Adi Wirawan mengatakan, pada periode akhir Ramadan dan menjelang libur Hari Raya Idul Fitri, ada perubahan pola pemesanan atau lonjakan permintaan pada jam-jam sibuk. “Khususnya di area bisnis di pusat Jakarta,” kata dia.
Jam sibuk, khususnya di Jakarta, dimulai lebih awal saat Ramadan dibandingkan hari-hari lainnya, yakni sejak pukul 15.30 WIB. Gojek mencatat peningkatan pemesanan mencapai puncaknya pada pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB. Di sisi lain, pada periode akhir Ramadan, Gojek memahami bahwa sebagian dari mitra pengemudi, khususnya yang beroperasi di kota-kota besar mulai melakukan perjalanan mudik.
Director of Mobility, Food, and Logistics Grab Indonesia Tyas Widyastuti juga mengatakan, permintaan layanan pengantaran orang, barang yakni GrabExpress, maupun makanan GrabFood, meningkat signifikan. Pada saat yang sama, ketersediaan mitra pengemudi turut dipengaruhi oleh beberapa faktor. “Ini seperti kondisi cuaca hujan ekstrem yang sempat menyebabkan banjir di sejumlah ruas jalan, serta kepadatan lalu lintas yang lebih tinggi dari biasanya,” kata Tyas.
Sementara itu, Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia Satrya Pinandita mengatakan saat ini terjadi peningkatan aktivitas masyarakat selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri. “Terjadi lonjakan volume pesanan di berbagai layanan on demand dan pengiriman cepat,” kata Satrya. Shopee juga mengamati adanya pola serupa pada 2025. Menurutnya pada tahun lalu dalam momen Ramadan dan Idulfitri juga terjadi penurunan ketersediaan mitra pengemudi.












