Daerah  

Warga menikmati alun-alun Purwokerto yang kembali dibuka setelah tujuh tahun tutup

Alun-alun Purwokerto Kembali Dibuka untuk Pengunjung

Setelah hampir tujuh tahun tidak bisa diakses oleh masyarakat, area rumput Alun-alun Purwokerto kini kembali dapat dinikmati oleh pengunjung. Sejak Sabtu (18/4), warga diperbolehkan duduk dan bersantai di atas hamparan rumput yang sebelumnya tertutup selama beberapa tahun.

Kebijakan ini dianggap sebagai angin segar bagi masyarakat yang sebelumnya merindukan ruang terbuka di tengah pusat kota. Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menyampaikan bahwa kebijakan ini diambil sebagai bentuk respons terhadap aspirasi masyarakat yang ingin alun-alun kembali berfungsi sebagai ruang publik yang nyaman.

“Ini juga karena aspirasi masyarakat, mulai Sabtu kemarin area rumput Alun-alun sudah bisa diakses,” ujarnya.

Menurut Bupati, selama ini keterbatasan area berlantai keramik membuat pengunjung kesulitan mencari tempat duduk. Dengan dibukanya area rumput, masyarakat memiliki ruang lebih luas untuk bersantai, rekreasi, atau sekadar menikmati suasana kota.

“Ketika datang ke alun-alun, mereka ingin bersantai, rekreasi, dan nongkrong. Jadi mengembalikan makna alun-alun sebagai ruang publik bagi masyarakat,” tambahnya.

Namun, kebijakan ini juga diimbangi dengan aturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung. Pemerintah Kabupaten Banyumas menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan keasrian area tersebut.

Aturan yang Harus Dipatuhi

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri, menjelaskan bahwa sebelumnya area rumput tidak bisa diakses karena kondisi rumput yang cepat rusak dan biaya perawatan yang tinggi.

“Alun-alun bisa diakses kembali oleh warga atas perintah Pak Bupati setelah memperhatikan aspirasi masyarakat, mengakomodasi kebutuhan ruang publik bagi warga,” kata Sugiri.

Ia menegaskan, meski area rumput kini dibuka, tetap ada sejumlah aturan yang harus dipatuhi. Salah satunya adalah larangan menggunakan tikar di atas rumput karena dapat mempercepat kerusakan.

“Kami menekankan beberapa larangan, seperti tidak diperbolehkan membawa tikar ke dalam area dan pengunjung wajib menjaga kebersihan,” ujar Sugiri.

Selain itu, keberadaan pedagang juga diatur secara ketat. Area dalam Alun-alun harus tetap steril dari aktivitas jual beli. Para pedagang diminta tetap berada di area berlantai keramik di bagian luar.

Sugiri menyebut, pihaknya telah melakukan pendekatan persuasif dengan menggelar dialog bersama para pedagang.

“Kami sudah berembug dengan para pedagang agar tidak masuk ke area dalam Alun-alun dan mereka menyatakan setuju. Ini demi menjaga kebersihan bersama. Justru dengan dibukanya akses masuk bagi warga, kami optimis omzet pedagang yang berjualan di sekitar area luar akan meningkat karena volume pengunjung bertambah,” katanya.

Tahap Uji Coba

Lebih lanjut, Sugiri juga mengingatkan bahwa kebijakan ini masih dalam tahap uji coba. Tidak menutup kemungkinan area rumput akan ditutup sementara sewaktu-waktu untuk keperluan perawatan.

“Saat ini masih tahap ujicoba, kita lihat seperti apa beberapa bulan ke depan. Baru kita temukan ritmenya dan tentukan penjadwalan untuk masa perawatan,” ujarnya.

Tanggapan Pengunjung

Salah seorang pengunjung Alun-alun Purwokerto, Bening Berliana, mengaku sangat menyambut antusias dibukanya kembali rumput Alun-alun Purwokerto.

“Sangat senang, karena bisa santai dan duduk-duduk, karena kalau hanya di bagian depan sana itu kadang sudah terlalu penuh, apalagi Sabtu-Minggu,” katanya, Minggu (19/4).

Terkait dengan aturan yang diberlakukan, ia tidak mempermasalahkan.

“Ya baguslah kita juga ikut menjaga, lagian kan cuma duduk, bukan mau merusak, dan baiknya juga disediakan tempat sampah yang representatif yang mudah dijangkau,” tambahnya.

Ia juga berharap dengan dibukanya lagi area lapangan untuk umum dapat memberi pengalaman yang menyenangkan bagi pengunjung untuk bersantai.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *