Kecelakaan Banjir Bandang di Kabupaten Demak
Seorang anak berusia 7 tahun menjadi korban banjir bandang yang terjadi di Sungai Tuntang, Kabupaten Demak. Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (3/4/2026), dan jasad bocah tersebut ditemukan pada hari Sabtu (4/4/2026). Dalam peristiwa ini, satu korban jiwa dilaporkan meninggal dunia akibat terseret arus banjir.
Komandan Koramil Guntur, Kapten Inf Suyitno, mengonfirmasi adanya kejadian hanyutnya seorang anak dari Dukuh Solowire, Desa Trimulyo. Menurutnya, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan akan segera dimakamkan.
Menurut keterangan Suyitno, korban awalnya masih bersama orang tuanya di rumah. Namun, karena banjir yang semakin tinggi, ayah korban memutuskan untuk mengecek kondisi luar rumah. Tanpa disadari oleh ayahnya, anak tersebut mengikuti dari belakang hingga akhirnya terbawa arus banjir.
“Kemudian saat banjir bapaknya kan keluar, ternyata anaknya mengikuti bapaknya tidak melihat, jadi memang saat itu airnya naik,” ujar Suyitno.
Sementara itu, warga setempat tampak mengiringi pemakaman jenazah anak tersebut dalam kondisi banjir menuju pemakaman umum setempat. Warga setempat, Samsul Hidayat (38), mengonfirmasi kejadian tersebut. Ia menyebutkan bahwa korban adalah anak dari Pak Jalil.
“Ya Solondoko Wetan, anaknya Pak Jalil,” ujarnya singkat.
Warga Terisolasi Akibat Banjir
Banjir yang melanda Kabupaten Demak semakin memperparah kondisi warga di Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur. Tiga pedukuhan dilaporkan terisolasi setelah tanggul Sungai Tuntang jebol pada Jumat (3/4/2026).
Hingga Sabtu (4/4/2026) pagi, genangan air masih tinggi dan merendam permukiman warga. Di Dukuh Solondoko, ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa, membuat aktivitas masyarakat lumpuh dan akses utama menuju wilayah tersebut tidak bisa dilalui kendaraan biasa.
Beberapa warga memilih bertahan di rumah atau di jalan kampung yang relatif lebih tinggi. Sementara itu, akses masuk ke lokasi hanya bisa dijangkau kendaraan dengan ukuran besar.
Di tengah kondisi tersebut, aparat TNI bersama warga berupaya membersihkan puing-puing yang terbawa arus banjir guna membuka kembali jalur kampung yang sempat tertutup. Namun, persoalan utama yang dihadapi warga saat ini adalah minimnya bantuan logistik.
Sejumlah warga mengaku belum menerima pasokan bantuan sejak banjir terjadi. “Logistik dari luar belum ada yang masuk, untuk makan, kita makan seadanya,” ujar Zikin, ditemui di lokasi.
Menurut Zikin, terdapat sekitar 40 warga di lingkungannya yang masih bertahan dan sangat membutuhkan bantuan makanan serta kebutuhan dasar lainnya. “Dari balita ya pampers, obat-obatan, tolak angin, makanan sarimi, kalau ada,” katanya.
Kebutuhan Mendesak Warga
Kondisi serupa juga dirasakan warga lainnya. Mereka mengandalkan sisa bahan makanan yang masih bisa diselamatkan dari rumah. “Kebutuhan makan sisa stok kemarin, beberapa sisa makanan yang bisa diselamatkan, beras-beras itu, kan masaknya masih ada elpiji,” kata Samsul.
Warga memperkirakan persediaan yang ada hanya cukup untuk bertahan dalam waktu terbatas jika bantuan belum juga datang. “Mungkin bertahannya ya antara dua atau tiga hari paling maksimal,” ujarnya.
Selain makanan, kebutuhan mendesak lainnya adalah air bersih dan pakaian, mengingat banyak barang milik warga yang hanyut atau rusak akibat banjir. “Yang dibutuhkan warga air mineral, pakaian habis semua, sama makanan, itu yang paling utama,” tutup Samsul.
Meski demikian, informasi terbaru menyebutkan bantuan makanan berupa nasi bungkus mulai masuk ke wilayah Dukuh Solondoko dan akan segera didistribusikan kepada warga terdampak.












