Sejarah dan Tradisi Ceng Beng di Perkuburan Cina Sentosa
Perkuburan Cina Sentosa, yang terletak di Jalan Soekarno Hatta, Pangkalpinang, merupakan salah satu kawasan pemakaman Tionghoa terbesar di Asia Tenggara. Di sini, sejarah panjang antara timah dan pekerja dari Tiongkok terus berlanjut, terutama dalam bentuk tradisi Ceng Beng yang dilaksanakan setiap tahunnya.
Pada puncak perayaan Ceng Beng 2026 yang jatuh pada Minggu (5/4/2026), suasana di Perkuburan Cina Sentosa terasa sangat kental dengan nuansa keheningan dan penghormatan. Ketua Yayasan Perkuburan Sentosa, Johan Riduan Hasan, menjelaskan bahwa tradisi ini telah dilakukan selama ratusan tahun, bahkan sebelum kompleks tersebut secara resmi dibangun.
Salah satu makam tertua di kompleks tersebut adalah makam Boen Ngin Foek, yang diperkirakan berasal dari tahun 1915. Makam ini memiliki ciri khas yang berbeda dari lainnya, seperti altar sederhana dan tulisan beraksara Tionghoa yang masih jelas terbaca. Menurut Johan, makam ini diyakini sebagai penanda awal adanya aktivitas pemakaman di kawasan ini, sebelum Perkuburan Sentosa secara resmi dibangun pada tahun 1935.
Sejarawan dan budayawan Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian, menyebutkan bahwa tradisi Ceng Beng sudah hadir di Bangka sejak awal kedatangan pekerja tambang timah dari daratan Tiongkok. Tradisi ini dibawa oleh para pekerja yang didatangkan secara resmi oleh Sultan Mahmud Badaruddin I sejak tahun 1724. Secara historis, Ceng Beng sendiri telah dirayakan di Tiongkok sejak masa Dinasti Han sekitar tahun 206 sebelum masehi.
Dalam praktiknya, Ceng Beng menjadi momentum bagi masyarakat Tionghoa untuk berziarah, membersihkan makam, serta memberikan penghormatan kepada leluhur. Di Bangka, tradisi ini sering disebut sebagai sembahyang kubur karena dilaksanakan langsung di makam leluhur. Pada masa kolonial Hindia Belanda, tradisi ini bahkan menjadi bagian dari kalender sosial pekerja tambang. Para pekerja Tionghoa mendapatkan jatah libur selama 15 hari, yang digunakan untuk merayakan Imlek dan menjalankan tradisi Ceng Beng.
Di kawasan Pulau Bangka, terbentuklah pusat-pusat permukiman yang umumnya berada di kawasan tambang timah, seperti Mentok, Jebus, Belinyu, Sungailiat, hingga Pangkalpinang. Di setiap wilayah tersebut, biasanya terdapat kawasan pemakaman luas yang dikenal sebagai Tjhunghua Kung Mu Yen. Khusus di Pangkalpinang, kawasan tersebut dikenal sebagai Perkuburan Sentosa.
Menurut catatan sejarah, sebelum resmi menjadi kompleks pemakaman, kawasan ini telah lebih dahulu digunakan sebagai lokasi pemakaman sejak akhir 1920-an. Dalam peta topografi tahun 1928–1929, di sekitar jalur menuju Distrik Koba, tepatnya di penanda kilometer tiga, telah ditemukan banyak makam orang Tionghoa. Baru pada tahun 1935, di masa pemerintahan Residen Mann, kawasan tersebut diresmikan sebagai kompleks pemakaman Tionghoa Sentosa.
Kini, Perkuburan Sentosa membentang di sisi timur Jalan Soekarno Hatta, Pangkalpinang. Kompleks ini dikenal juga dengan sebutan Ngi Cung, dengan luas mencapai sekitar 19,9 hektare dan menampung lebih dari 13 ribu makam. Besarnya kawasan ini tak lepas dari dominasi jumlah penduduk Tionghoa di Bangka pada masa lalu. Berdasarkan sensus tahun 1920 oleh pemerintah kolonial Belanda, jumlah penduduk Tionghoa di Pulau Bangka mencapai 67.398 jiwa atau sekitar 44,6 persen dari total populasi.
Di antara deretan nisan yang tersusun rapi, tersimpan cerita tentang asal-usul, identitas, dan keberagaman yang menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah Bangka Belitung hari ini. Perkuburan Sudah Penuh

Fakta terkininya, kompleks Perkuburan Sentosa yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan pemakaman Tionghoa terbesar di Asia Tenggara, kini tak lagi mampu menampung pemakaman baru. Keterbatasan lahan membuat pengelola mengalihkan seluruh pemakaman ke lokasi baru, yakni Sentosa 2 di Desa Jeruk, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah.
Ketua Yayasan Perkuburan Sentosa, Johan Riduan Hasan, mengungkapkan, kawasan Perkuburan Sentosa yang memiliki luas sekitar 19,6 hektare dengan lebih dari 14.000 makam tersebut saat ini telah terisi penuh. “Kalau di Sentosa 1 yang kita kenal sekarang ini sudah full, tidak ada lagi space atau lahan kosong,” kata Johan kepada , Sabtu (4/4/2026).
Menurutnya, jika pun masih terdapat ruang di beberapa titik, hal tersebut umumnya sudah merupakan bagian dari pemesanan keluarga sebelumnya, bukan untuk pemakaman baru. Ia menjelaskan, tradisi pemakaman Tionghoa umumnya menggunakan ukuran makam yang cukup besar dan seringkali diperuntukkan bagi pasangan suami istri dalam satu lokasi. “Biasanya satu makam itu bisa untuk dua, misalnya suami dan istri. Kalau sekarang baru suaminya yang dimakamkan, nanti istrinya akan menyusul. Jadi itu sudah termasuk pesanan, bukan lahan baru,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, pihak yayasan kini sepenuhnya mengarahkan pemakaman baru ke kawasan Sentosa 2 yang berlokasi di Desa Jeruk. “Kalau ada masyarakat Tionghoa yang meninggal sekarang, langsung kita arahkan ke Sentosa 2 di Kampung Jeruk,” ujarnya.
Sentosa 2 disebut menjadi solusi atas keterbatasan lahan di kawasan lama. Johan menyebutkan, area tersebut saat ini telah tersedia belasan hektare lahan, dengan ratusan hingga ribuan makam yang sudah mulai digunakan. Meski demikian, potensi pengembangan di lokasi baru tersebut masih sangat terbuka lebar. “Di sana lahannya masih luas sekali, masih sangat memungkinkan untuk dilakukan perluasan ke depan,” katanya.
Keberadaan Sentosa 2 diharapkan mampu menjadi kawasan pemakaman jangka panjang bagi masyarakat Tionghoa di Pangkalpinang dan sekitarnya, seiring terus bertambahnya kebutuhan lahan pemakaman. Sementara itu, Perkuburan Sentosa yang lama tetap dipertahankan sebagai kawasan pemakaman bersejarah yang menyimpan jejak panjang perjalanan komunitas Tionghoa di daerah tersebut.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












