Sejarah dan Perkembangan Kesenian Glipang
Kesenian Glipang adalah salah satu bentuk kesenian tradisional yang berasal dari Desa Pendil, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Awal mula kehadiran Glipang terkait dengan perjuangan rakyat melawan penjajahan Belanda. Pada masa itu, latihan pencak silat dilakukan secara sembunyi-sembunyi sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasa kolonial. Untuk menghindari kecurigaan, latihan ini disamarkan sebagai pertunjukan seni.
Glipang dikembangkan oleh Sari Truno, seorang tokoh penting yang memiliki peran besar dalam menciptakan kesenian ini. Ia adalah seorang perantau asal Madura yang bekerja sebagai mandor tebang tebu di Pabrik Gula Gending pada masa penjajahan. Dari latar belakangnya, Glipang lahir sebagai bentuk ekspresi perlawanan terhadap perlakuan tidak adil yang dialami masyarakat setempat. Gerakan pencak silat yang digunakan dalam latihan tersebut menjadi simbol keberanian dan semangat juang.
Nama Glipang sendiri berasal dari kata “gholiban” dalam bahasa Arab yang berarti kebiasaan. Seiring perkembangan dialek lokal, istilah tersebut berubah menjadi Glipang. Selain memiliki nilai perjuangan, kesenian ini juga kaya akan nuansa religius karena berkembang di lingkungan masyarakat yang kuat memegang ajaran Islam.
Perkembangan Tari Glipang sebagai Seni Pertunjukan
Dalam perkembangannya, Glipang tidak hanya menampilkan gerakan silat, tetapi juga berkembang menjadi seni tari yang lebih kompleks. Salah satu bentuk tarian yang paling dikenal adalah Tari Kiprah Glipang. Tari ini menggambarkan sosok prajurit yang gagah berani dan siap menghadapi medan perang. Gerakannya tegas dan dinamis, banyak mengadopsi unsur bela diri.
Selain Tari Kiprah, terdapat pula Tari Papakan yang menggambarkan pertemuan dua tokoh, serta Tari Baris yang menunjukkan formasi prajurit. Dalam beberapa pertunjukan, peran perempuan dimainkan oleh laki-laki dengan riasan khusus. Pertunjukan Glipang biasanya terdiri dari beberapa babak, mulai dari tari pembuka, tari inti, hingga lawakan dan drama.
Cerita yang diangkat dalam pertunjukan Glipang beragam, mulai dari kisah kerajaan hingga kehidupan sosial masyarakat. Kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral dan dakwah Islam melalui syair lagu yang dibawakan.
Musik Pengiring dan Ciri Khas Pertunjukan
Kesenian Glipang memiliki ciri khas pada alat musik pengiringnya. Berbeda dengan kesenian Jawa pada umumnya yang menggunakan gamelan, Glipang menggunakan alat musik seperti jidor, terbang, ketipung, dan terompet. Penggunaan alat musik tersebut disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat yang tidak menggunakan gamelan. Selain itu, unsur musiknya juga dipengaruhi budaya Madura dan nuansa Islami.
Setiap alat musik memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan ajaran kebaikan dalam Islam. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian Glipang tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga sarat nilai spiritual. Kostum penari Glipang juga khas, didominasi warna merah dan hitam sebagai simbol keberanian. Atribut seperti ikat kepala, rompi, dan senjata tradisional semakin memperkuat karakter prajurit dalam tarian.
Sempat Terpuruk, Kini Bangkit Kembali
Perjalanan kesenian Glipang tidak selalu mulus. Setelah sempat berjaya, kesenian ini mengalami kemunduran bahkan hampir punah, terutama setelah para tokoh pelestarinya wafat. Namun, pada tahun 1970-an, kesenian ini mulai bangkit kembali berkat upaya generasi penerus, termasuk keluarga pendiri. Mereka membentuk sanggar seni untuk menghidupkan kembali Glipang di tengah masyarakat.
Salah satu tonggak penting adalah berdirinya Sanggar Andhika Jaya yang kemudian resmi terdaftar pada tanggal 5 Februari 1985 di Kanwil Depdikbud Provinsi Jawa Timur. Sejak saat itu, Glipang kembali aktif dipentaskan dalam berbagai acara. Tari Kiprah Glipang bahkan kerap ditampilkan dalam peringatan hari jadi Kabupaten Probolinggo sebagai simbol semangat juang dan identitas daerah.
Kini, kesenian Glipang tetap bertahan di tengah modernisasi dengan berbagai inovasi, seperti memasukkan unsur hiburan modern tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya. Dengan segala nilai sejarah, perjuangan, dan budaya yang terkandung di dalamnya, kesenian Glipang menjadi salah satu warisan budaya yang terus dijaga keberadaannya oleh masyarakat Probolinggo.












