Budaya  

Takbiran Idul Fitri: Naskah Panjang dan Pendek dalam Tulisan Arab-Latin, Penjelasan Buya Yahya

Panduan Takbiran Idul Fitri 2026

Takbir merupakan salah satu bentuk pengagungan terhadap kebesaran Allah SWT yang dilakukan oleh umat Islam dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Dalam agama Islam, takbir dianggap sebagai amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Hal ini sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW dan para ulama yang menjelaskan pentingnya mengumandangkan kalimat Allahu Akbar sebagai wujud syukur atas anugerah yang diberikan oleh Allah.

Buya Yahya menekankan bahwa takbir pada hari raya hukumnya sunnah khususnya di Hari Raya Idul Fitri. Ia menjelaskan bahwa takbir dapat dikumandangkan mulai dari terbenamnya matahari setelah bulan Ramadhan berakhir hingga imam naik ke mimbar. Dengan demikian, masyarakat dianjurkan untuk melantunkan takbir secara bersama-sama baik di jalan-jalan maupun di tempat-tempat ibadah.

Dari lafadz takbir yang telah disebutkan, terdapat beberapa variasi bacaan yang bisa dipilih. Salah satunya adalah tambahan yang berasal dari Imam Syafi’i. Menurut Buya Yahya, tambahan seperti “Allahu Akbar Kabira wal-hamdu lil-Lahi katsira…” merupakan bagian dari penghayatan spiritual yang tidak salah dan bisa dibaca. Ia juga menambahkan bahwa tambahan tersebut berasal dari firman Allah SWT dan hadis Nabi SAW, sehingga memiliki landasan yang kuat.

Selain itu, ada juga penambahan lain seperti “wa lau karihal-munafiquun” yang merupakan modifikasi dari “wa lau karihal-kafirun”. Buya Yahya menjelaskan bahwa menyebut kata “munafik” dalam takbir tidak masalah karena orang munafik dianggap sebagai kafir bathin. Oleh karena itu, penyebutan hal tersebut dianggap aman dan tidak melanggar aturan agama.

Menurut laman kemenag.go.id, kalimat takbir adalah bentuk pengagungan akan kebesaran Allah SWT. Pada saat yang sama, ia juga menjadi ungkapan kesadaran bahwa kebesaran hanya milik Allah. Ungkapan ini membawa manusia pada kesadaran akan fitrah mereka sebagai hamba Allah. Sehebat apa pun kita, setinggi apa pun derajat kita, sekuat apa pun kekuasaan kita, atau sebanyak apa pun harta kekayaan kita, kita tetaplah hamba Allah SWT.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berkata: “Kesombongan adalah kain selendang-Ku dan kebesaran adalah kain sarung-Ku. Barang siapa melawan Aku pada salah satu dari keduanya, niscaya Aku melemparkannya ke dalam neraka jahanam.”

Bacaan Takbiran Idul Fitri

Kalimat takbir yang paling mudah diucapkan adalah “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Kalimat ini mengandung kemuliaan dan kebesaran Dzat Allah SWT. Tidak ada kata lain yang lebih pantas untuk mengekspresikan keberhasilan spiritual atas kemenangan meraih petunjuk Allah SWT di bulan Ramadhan selain kalimat Allahu Akbar.

Menyemarakkan bertakbir atau mengagungkan Allah SWT atas dorongan keimanan dan berharap ridha-Nya sangat baik dan lebih mendatangkan berkah.

Berdasarkan buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap karya Drs. Moh. Rifa’i, berikut bacaan takbiran Idul Fitri dalam versi pendek dan panjang:

Pendek

Diucapkan 3x:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Allâhu akbar Allâhu akbar Allâhu akbar lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillâhi-l-hamd.

Panjang

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً ـ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَلاَنَعْبُدُ اَلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَرَعَبِدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ . اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

Allâhu akbar Allâhu akbar Allâhu akbar lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillâhi-l-hamd.

Allâhu akbar kabîran wal hamdu lillâhi katsîra wa subhânallâhi bukratan wa ashîla, lâ ilâha illallâhu wa lâ na’budu illâ iyyâh, mukhlishîna lahuddîna wa law karihal kâfirun, lâ ilâha illallâhu wahdahu shadaqa wa’dahu wa nashara ‘abdahu wa hazama al-ahzâba wahdahu, lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar”.

Artinya:
Allah Maha Besar (3 kali) Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar dan Maha Agung dan segala puji bagi Allah.

Maha suci Allah pada pagi dan petang, tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang kami sembah kecuali hanya Allah, dengan ikhlas kami beragama kepadaNya, walaupun orang-orang kafir membenci, Tidak Ada Tuhan melainkan Allah sendiriNya, benar janjiNya, dan Dia menolong akan hambaNya, dan Dia mengusir musuh NabiNya dengan sendiriNya, tiada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagiNya segala puji.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *