Mayat Mahasiswi Anggota DPRD Ditemukan, Keluarga Sebut Kebijakan Aneh, Laporkan ke Polisi

Penemuan Jenazah Mahasiswi di Kamar Kos

Pada Kamis (12/3/2026) malam, sekitar pukul 20.00 WIB, pacar korban, Sanggam Elroi Marbun, mendatangi kamar kos korban. Saat tiba, tidak ada sahutan dari dalam kamar dan pintu dalam keadaan terkunci. Sanggam kemudian meminta dua temannya untuk membuka pintu kamar tersebut. Setelah pintu terbuka, Sanggam menemukan korban sudah meninggal dunia dan tercium bau busuk. Menyadari adanya kejanggalan, pihak keluarga akhirnya membuat laporan ke polisi atas kematian Maria Agustina Naibaho (22).

Maria Agustina Naibaho adalah mahasiswi semester 8 Universitas Negeri Medan (UNIMED). Ia ditemukan meninggal dunia oleh pacarnya di kamar indekosnya pada Kamis (12/3/2026) malam. Dari hasil pengecekan awal, keluarga menemukan beberapa hal yang mencurigakan, seperti darah di kamar mandi, lebam di tubuh, hingga ponsel yang pecah.

Jenazah Maria Agustina Naibaho baru saja selesai diautopsi di RS Bhayangkara TK II Medan, Jumat (13/3/2026). Ia merupakan putri dari Anggota DPRD Tebingtinggi Periode 2024-2029 dan juga Bendahara DPC PDI-Perjuangan Tebingtinggi, Mangatur Naibaho. Mengenakan kemeja lengan panjang berwarna merah, Mangatur Naibaho terlihat murung atas kematian putrinya. Ia menyatakan bahwa anak bungsunya akan dimakamkan di Desa Sirube-rube Gunung Purba, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Fakta-fakta Terkait Kematian Maria Agustina Naibaho

1. Korban Mahasiswi Unimed

Selama kuliah di kampus Universitas Negeri Medan (Unimed), Maria Agustina ngekos di Jalan Rela, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan, Sumut. Saat ini, ia merupakan mahasiswi semester 8. Pada Kamis (12/3/2026) malam, sekitar pukul 20.00 WIB, pacar korban, Sanggam Elroi Marbun, mendatangi kost korban. Tidak ada sahutan dari dalam kamar dan pintu dalam keadaan terkunci. Sanggam kemudian menyuruh dua temannya untuk mendobrak pintu kamar korban. Saat pintu terbuka, Sanggam menemukan korban sudah meninggal dunia dan tercium bau busuk.

Sanggam dan temannya kemudian memanggil Ibu Kost dan melaporkan kepada Pihak Kelurahan dan Polsek Medan Tembung. Mendapatkan informasi tersebut, petugas Polsek Medan Tembung mengerahkan Kanit Reskrim Iptu Parulian Sitanggang dan Pawas Polsek Medan Tembung Aiptu Rahmad Sadikin serta Tim INAFIS Polrestabes Medan ke TKP. Jenazah korban kemudian dievakuasi oleh Tim Inafis ke RS Bhayangkara TK II Medan untuk dilakukan autopsi.

2. Tidak Ada Tanda-tanda Kekerasan di Tubuh Korban

Pada Jumat (13/3/2026), Kapolsek Medan Tembung, Kompol Ras Maju Tarigan mengatakan bahwa di jenazah korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Meski demikian, pihaknya masih menunggu hasil autopsi. “Hari ini diautopsi jenazahnya, kita belum tau, perkiraan kami korban ada riwayat sakit, pukul 10.00 WIB akan dilakukan autopsi,” ucap Kompol Ras Maju Tarigan saat dikonfirmasi Tribun Medan via WhatsApp, Jumat (13/3/2026).

Diketahui pada Selasa (10/3/2026), korban terakhir kali berkomunikasi dengan orangtuanya yang berada di kampung dan mengatakan ia sedang sakit. “Jadi korban itu masih ngomong sama mamanya dibilang demam,” ungkapnya. Lebih lanjut, Kompol Ras Maju Tarigan menjelaskan mengenai kondisi fisik korban di bagian perut membesar dan kepala serta kedua tangan mulai membiru bahwa jenazah korban hampir kurang lebih 4 hari di dalam kamar. “Korban terakhir kali mengabarkan sedang demam dan selanjutnya tidak ada lagi kabar dan akhirnya ditemukan meninggal dunia,” pungkasnya.

3. Curiga Kematian Korban, Keluarga Bikin Laporan ke Polisi

Hingga saat ini, pihak keluarga belum mengetahui secara pasti apakah korban meninggal dunia akibat sakit, atau akibat kekerasan. Menurut salah satu anggota keluarganya yang enggan disebut namanya, ketika ditemui di RS Bhayangkara TK II Medan, pada tubuh Maria terdapat luka memar. Beberapa di antaranya ada di bawah ketiak kiri, lutut, hingga bagian organ vitalnya berdarah. Kemudian, yang membuat semakin janggal ialah, handphone Maria disebut rusak terbelah di dalam kamar kos. Hal ini diungkapkan berdasarkan keterangan abang kandung Maria yang juga sebagai pelapor ke Polisi. “Memar di bawah ketiak, memar lutut dan kelamin berdarah. Bercak darah di kamar mandi, dan handphone terbelah,” kata pihak keluarga, Jumat (13/3/2026).

Ayah korban, Mangatur Naibaho, juga membenarkan kalau pihaknya telah membuat laporan ke Polisi. Laporan dilayangkan untuk mengungkap penyebab pasti kematian putrinya. “Itu yang belum tahu saya (penyebab kematiannya). Lagi kita buat laporan Polisi. Namanya meninggal di tempat kos, sedikit banyaknya (curiga) pengen tahu penyebabnya,” ujar Mangatur Naibaho.

Mangatur menjelaskan, 2 hari sebelum ditemukan tewas, anaknya sempat berkirim pesan ke ibunya. Dalam pesannya, ia mengatakan sedang sakit kepala hingga suaranya menghilang. Namun demikian, Mangatur tidak menjelaskan secara rinci pesan singkat itu dikirim Maria atau siapa, karena tak mengangkat telepon ibunya atau memang menyampaikan dirinya sedang sakit. Sebab menurutnya, anak bungsunya itu tidak memiliki riwayat sakit. “Belakangan tidak ada yang ganjil maupun mencurigakan. Tetapi, kata mamaknya hari Selasa, melalui WhatsApp dia ngeluh sakit kepala dan suaranya hilang,” kata Mangatur, Jumat (13/3/2026) di RS Bhayangkara TK II Medan.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *